Haru! Pria Doktor Ini Dulunya Bersekolah Pakai Tas Plastik

Reporter : Sugiono
Senin, 8 Januari 2018 09:30
Haru! Pria Doktor Ini Dulunya Bersekolah Pakai Tas Plastik
Setelah membaca kisah hidupnya yang dari zero menjadi hero, banyak warganet yang takjub sekaligus terharu.

Dream - Walaupun hidup kekurangan, bukan penghalang bagi seseorang untuk mencapai suatu tujuan dan sukses seperti orang lain.

Di Twitter, akun @ashraffesalleh berbagi kisah Dr. Istajib Mokhtar yang penuh inspirasi dan pelajaran hidup.

Dr. Istajib saat ini menjadi dosen senior di Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Malaya, Malaysia Setelah membaca kisah hidupnya yang dari zero menjadi hero, banyak warganet yang takjub sekaligus terharu.

Di Instagram Story, doktor ini berbagi kisah hidupnya semasa masih sekolah di tahun 1991.

Karena kehidupan keluarga yang serba kekurangan, Istajib muda terpaksa menggunakan tas plastik merah sebagai tas sekolah.

Berikut kisah menggugah Istajib, bukti jika kemiskinan bukan halangan meraih sukses:

1 dari 4 halaman

Pakai Tas Plastik

Dream - Tahun 1991 pada hari pertama masuk sekolah, teman-teman pada bawa tas sekolah. Sementara aku hanya mampu membawa tas plastik.

Bayangkan, hanya tas plastik warna merah bekas membungkus ikan yang kami dibeli di pasar.

Tas plastik itu kemudian aku cuci untuk menaruh buku-buku. Tiap minggu, tas plastik itu harus diganti karena sudah koyak.

Tapi aku tidak akan lupa guru yang mengambil tas plastik itu dan memperlihatkannya ke seluruh kelas sambil menertawakan aku.

2 dari 4 halaman

Dapat Seragam Bekas

Dream Pergi ke sekolah waktu itu aku tidak pakai seragam. Aku hanya pakai baju bekas dipakai saat Lebaran. Aku tidak punya baju layak dan bagus selain baju Lebaran itu.

Mulai memakai seragam sekolah beberapa bulan kemudian. Itu pun pemberian tetangga orang India yang sudah kekecilan untuk anaknya.

Aku pun memakai seragam tersebut. Ayah sempat terkejut ketika menjemput aku sudah memakai seragam. Saat ditanya, aku bilang pemberian Mahendran!.

Ibu juga yang memperbaiki seragam itu agar ukurannya pas dengan tubuhku.

3 dari 4 halaman

Tak Punya Pensil Warna

Dream Meski tidak punya pensil aku tetap pergi ke sekolah. Kalau guru suruh, aku cepat-cepat mencarinya di kotak benang ibuku. Ketemu pensil satu tapi sudah pendek.

Tapi tak masalah, itu saja yang aku bawa ke sekolah. Kalau ada tugas mewarnai buah, aku pakai pensil itu saja.

Saat itu, guru bilang, 'kenapa warna buah rambutan pakai pensil? Buah kamu sudah busuk kah? Kok warnanya hitam?'

Aku hanya bisa menghela napas. Tidak ingatkah dia bahwa aku tak mampu beli pensil warna?

Tapi aku tidak akan lupakan Nur Athirah Ali yang hadiahkan pensil warna pertama dalam hidupku.

Aku gunakan pensil warna pemberiannya itu dengan hati-hati sekali. Tidak mau memakainya tebal-tebal karena nanti takut habis.

4 dari 4 halaman

Jam Olahraga Pakai Baju dan Celana Abang

Dream Saat jam olahraga, sungguh seram. Bukan apa, guru suruh pakai celana training dan baju putih. Tapi tahu kan aku tidak punya?

Akhirnya aku pakai celana pendek abang aku (semacam boxer zaman dulu) dan kaos maraton tanpa lengan milik dia juga. Mau tau macam apa aku?

Kaos itu tentu saja kebesaran dan lubang lengannya terbuka sampai pinggang. Guru bilang aku seksi sekali karena semua nampak dari atas ke bawah.

Sudahlah. Ingin menangis jika mengenang ini semua. Itulah sedikit kisah anak pensiunan.

Aku disebut demikian karena ayahku seseorang pensiunan tentara. Waktu itu memang zaman susah. Tapi Alhamdulillah untuk semua pengalaman ini.

Netizen Terharu

" Kembali ke zaman dulu, saat masyarakat punya sedikit kesadaran tentang ilmu menjaga hati dan perasaan orang. Tapi sudahlah. Dari zaman itu pula lahir manusia yang kuat dengan mentalitas 'aku akan buktikan'. Benar-benar kisah yang penuh inspirasi. Terima kasih," tulis @itskimiebruh.

" Benar-benar memotivasi. Bersyukur aku sekarang hidup di zaman yang nyaman. Tapi bagian ketika guru mengambil tas plastik dan memperlihatkannya di depan kelas, itu sungguh keterlaluan," tulis @aqil_junaidi.

" Sangat menginspirasi. Walaupun permulaannya serba kekurangan tapi mampu menghasilkan produk akhir yang superb. Jadi mulai dari nol tidak berarti akan gagal, kan?" tulis @cagukuwangi.

(Sumber: ohbulan.com)

Beri Komentar