Habibie, Sang Profesor Pesawat Terbang

Reporter : Sandy Mahaputra
Rabu, 2 Maret 2016 22:23
Habibie, Sang Profesor Pesawat Terbang
"Kiriman ibu saya sering telat. Saya sering kelaparan. Tapi ada kawan baik pada saya."

Dream - " Apa mungkin orang Indonesia bisa bikin pesawat terbang? Orang Indonesia memang gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri" .
 
Sindiran itu dilontar dari mulut Bacharuddin Jusuf Habibie saat berkunjung ke kantor Manajemen Garuda Indonesia, Kompleks Bandara Soekarno-Hatta, Januari 2012. 
 
Tapi lihat buktinya, kata Presiden Republik Indonesia ketiga ini dengan nada bergetar, sambil memutar sebuah video 17 tahun silam. 
 
Pagi itu, 10 Agustus 1995, mata dunia tertuju ke Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat. Pesawat perdana buatan anak negeri N-250 Gatot Kaca terbang untuk pertama kalinya.
 
Suasana tegang menyeruak ketika mesin pesawat itu mulai dinyalakan. Gemuruh 'si burung besi' terdengar. Pesawat itu melaju pelan, berputar arah kemudian mulai bergerak di landasan pacu. 
 
Kencang, semakin kencang dan akhirnya lepas landas. Pesawat N-250 terbang tinggi di atas cakrawala. N-250 terbang perdana sekitar 55 menit.
 
Semua karyawan bertepuk tangan sambil berdiri. Tak sedikit yang menangis haru. Berita ini disiarkan hampir ke seluruh dunia. 
 
Sebelumnya, sejumlah pengamat penerbangan memprediksi N-250 tidak mampu terbang dan bahkan akan jatuh saat lepas landas. 
 
Tapi mereka keliru. Hari itu, Habibie membuktikan 'Si Gatot Kaca' terbang gagah membelah angkasa biru.
 
Tapi mimpi besar soal pesawat buatan nasional ini berakhir pahit. Awan gelap krisis moneter menghantam Indonesia. 
 
Proyek N-250 tak bisa dilanjutkan karena tak ada dana. PT IPTN yang berubah nama menjadi PT Dirgantara pun ditutup paksa. Ribuan karyawannya menjadi pengangguran. 
 
Tapi semangat lelaki kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936, tak pernah mati. Ia selalu memperjuangkan agar industri penerbangan Indonesia bisa bangkit lagi. 
 
Kini Habibie bertekad menghidupkan Gatot Kaca yang mati suri. " N-250 adalah bukti, tidak ada negara lain yang berhak mengatakan orang Indonesia bodoh!," kata Habibie dengan semangat berapi-api.
 
Di usia senja, 79 tahun, pria yang pernah menjabat menteri riset dan tehnologi itu siap kembali membuat kejutan besar!
 
Ia membuat suksesor pesawat N-250. Pesawat kali ini diberi nama Regio Prop 80 (R80). Teknologi yang diadopsi pesawat ini digadang-gadang lebih efisien dan canggih, dari segi desain serta mesin, dibanding Boeing dan Airbus.
 
Penerus 'Gatot Kaca' bakal terbang perdana menjajal bandara baru di Majalengka pada 2018, tepatnya bulan Agustus. Kemungkinan besar di Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat.
 
Belum banyak informasi detail soal pesawat anyar buatan Habibie itu. Tapi banyak orang berdebar menanti. 
 
Habibie memang telah diakui oleh dunia penerbangan. Saat ilmuan penerbangan dari berbagai belahan dunia kelimpungan mencari solusi untuk mencegah kecelakaan akibat keretakan pada bagian sayap, Habibie muncul dengan solusi.
 
Pria yang lama tinggal di Jerman ini muncul membawa teori keretakan pesawat yang kondang dengan sebutan 'Faktor Habibie' untuk menciptakan pesawat yang sangat aman untuk penerbangan. 
 
Dicintai Jerman, sering kelaparan...

1 dari 2 halaman

Dicintai Jerman, Sering kelaparan...

Dream - Habibie hidup susah saat menempuh pendidikan di Jerman. Kadang dia tak punya makanan. Dia hanya mengandalkan kiriman dari sang ibu, R.A. Tuti Marini Puspowardojo.  

Maklum, Habibie tak mendapat beasiswa penuh, seperti kebanyakan mahasiswa Indonesia lain. Dia hanya bermodal 'paspor hijau'. Sementara lainnya 'paspor merah'. Paspor dinas.  

" Kiriman ibu saya sering telat. Saya sering kelaparan. Tapi ada kawan baik pada saya. Namanya Ilona. Dia sering datangi saya ke perpustakaan, beri apel dan roti," kata Habibie mengenang masa muda di sekolah Jerman.  

Jika musim libur tiba, Habibie tak bisa berleha-leha seperti temannya. Ia justru harus sibuk bekerja, mencari uang tambahan biaya hidup di negeri rantau. Jika ada sisanya, ia beli buku.  

Anak ke-4 dari delapan bersaudara ini memulai bangku kuliahnya di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia kemudian melanjutkan pendidikannya ke Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule – Jerman pada 1955.  

Habibie berhasil menyelesaikan strata 1 pada usia 22 tahun dan strata dua pada usia 24 tahun.    Tahun 1965, Habibie menyelesaikan studi S-3 dan mendapat gelar Doktor Ingenieur (Doktor Teknik) dengan indeks prestasi summa cum laude.   

Kejeniusan Habibie membuat takjub dunia. Dibuktikan ketika menemukan teori-yang disebut dunia internasional sebagai teori-krack progression. Teori ini menemukan perhitungan titik rawan kelelahan badan pesawat.  

Titik rawan kelelahan ini biasanya pada sambungan antara sayap dan badan pesawat atau antara sayap dan dudukan mesin. Elemen inilah yang mengalami guncangan keras dan terus-menerus, baik ketika tubuhnya lepas landas maupun mendarat.  

Ketika menyentuh landasan, sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang atau antara sayap dan dudukan mesin ini menanggung empasan tubuh pesawat.   

Kelelahan logam pun terjadi, dan itu awal dari keretakan (krack). Titik rambat tersebut semakin hari kian memanjang dan bercabang-cabang. Habibie yang kemudian menemukan bagaimana rambatan titik krack (keretakan) itu bekerja.   

Dengan teori ini industri pembuat pesawat bisa mengerjakan badan pesawat dengan perhitungan yang lebih aman. Tidak saja bisa menghindari risiko pesawat jatuh, tetapi juga membuat pemeliharaannya lebih mudah dan murah.  

Berkat berbagai prestasinya, Habibie mendapat ganjaran dengan sejumlah penghargaan di antaranya bidang kedirgantaraan, Theodhore van Karman Award, yang dianugerahkan oleh International Council for Aeronautical Sciences.  

Selepas meraih gelar doktor, Habibie bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm atau MBB Hamburg, sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur Pesawat Terbang (1965-1969).  Kemudian menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB (1969-1973).  

Karier Habibie makin mencorong, pada 1969 dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB periode 1973-1978.  

Namun setahun kemudian, Habibie rela meletakkan jabatan prestisius itu saat 'Ibu Pertiwi' memanggil pulang. Ia diminta membangun industri pesawat terbang di negeri sendiri.  

" Di situ (MBB Hamburg) lahir Airbus, yang sekarang membuat A-380 di situ. Waktu saya mulai ke situ 3.000 (karyawan), waktu saya tinggalkan 4.500, sekarang 16.000, " kata Habibie.  

Dalam skala internasional, Habibie terlibat erbagai proyek desain dan konstruksi pesawat terbang seperti Fokker F 28, Transall C-130 (militer transport), Hansa Jet 320 (jet eksekutif), Air Bus A-300, pesawat transport DO-31 (pesawat dengan teknologi mendarat dan lepas landas secara vertikal),   

Kemudian CN-235 dan CN-250 (pesawat dengan teknologi fly-by-wire). Selain itu, ia secara tidak langsung ikut terlibat dalam proyek perhitungan dan desain Helikopter Jenis BO-105, pesawat tempur multi function, beberapa peluru kendali dan satelit.  

Jiwanya Terpanggil...

2 dari 2 halaman

Jiwanya Terpanggil

Dream - Dalam sebuah bukunya berjudul 'Habibie dan Ainun', Jerman menawari Habibie untuk menjadi warga negara kehormatan.   

Sebuah tawaran yang amat jarang diberikan oleh Jerman. Namun, Habibie tidak silau dengan tawaran itu. Habibie memilih setia menjadi WNI.  Menolak tawaran Jerman.  

" Sekalipun menjadi warga negara Jerman, kalau suatu saat Tanah Air memanggil, maka Paspor Jerman akan saya robek dan saya akan kembali ke Tanah Air," katanya.  

Seperti kata Pepatah; " Hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri orang" .  

Bagi Habibie, setetes keringat yang menitik di tanah kelahiran, akan lebih berharga sebagai perekat negeri, daripada keringat yang tertumpah di negeri asing!

Beri Komentar