Ini Waktu Pelaksanaan Puasa Muharram Asyura dan Tasu'a

Reporter : Dwi Ratih
Minggu, 16 September 2018 18:01
Ini Waktu Pelaksanaan Puasa Muharram Asyura dan Tasu'a
Simak sampai selesai artikel ini, ya!

Dream - Memasuk bulan Muharram yang merupakan awal tahun umat Islam, banyak ibadah sunnah yang sangat dianjurkan dilakukan umat Muslim. Salah satu amalan itu adalah puasa asyura dan tasu'a.

Anjuran untuk melaksanakan ibadah sunnah itu sudah diterangkan Nabi Muhammad SAW dalam sebuah Hadits Riwayat Muslim. 

" Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallohu anhu, Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah Ta'ala (yaitu) Muharram. Sedangkan sholat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam."

 shutterstock

Lantas kapan waktu yang tepat untuk menjalankan puasa asyura dan tasu'a?

Berdasarkan hitungan hisab yang menyatakan bahwa 1 Muharram 1440 H jatuh pada Selasa, 11 September 2018 kemarin, puasa asyura dan tasu'a bisa Sahabat Dream lakukan pada 9-10 Muharram.

Kalau di kalendar masehi jatuh pada tanggal berapa, ya? Yuk intip lengkapnya di sini.

Kirimkan cerita inspiratif kamu ke komunitas.dream@kly.iddengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin di-publish
2. Sertakan link blog/web
3. Foto dengan ukuran high-res (tidak blur)

1 dari 2 halaman

Mengapa Hari ke-10 Muharram Dinamai Asyura? Ini Penjelasannya

Dream - Setiap kali Muharram, umat Islam akan menjumpai hari asyura. Hari itu jatuh pada 10 di bulan pembuka tahun Hijriah itu.

Hari asyura sudah lama dipandang sebagai hari istimewa, bahkan sebelum Islam diturunkan ke dunia. Masyarakat Arab kala itu mengagungkan hari tersebut dengan ritual tertentu.

Lantas, mengapa nama asyura dipilih?

Dikutip dari bincangsyariah, nama tersebut terkait dengan kata al asyir. Artinya hari kesepuluh. Tetapi, para ulama rupanya tidak sepakat dengan penjelasan tersebut.

Ibn Al Atsir dalam An Nihayah fi Gharib Al Hadith wa Al Atsar menjelaskan, nama asyura dikenal setelah Islam datang. Sebelumnya digunakan kata 'ismun Islamiyyun', yang memang bermakna hari kesepuluh.

Ada pula yang memaknai asyura sebagai hari kesembilan. Alasannya, dalam tradisi Arab, kadang bilangan yang dimaksud sebenarnya satu angka dari yang mereka sebut.

Contohnya seperti dalam kalimat waradat al ibil 'asyran (ada sepuluh unta datang). Maksud sebenarnya dari kalimat ini adalah sembilan unta yang datang, seperti dijelaskan Abu Musa Muhammad bin Umar Al Ashbihani dalam Al Majmu' Al Mughits fi Gharibay Al Quran wa Al Hadith.

Timbul Perbedaan Pendapat

Dua pandangan ini melahirkan perbedaan pendapat terkait keutamaan antara berpuasa hari kesepuluh atau hari kesembilan Muharram. Ada pula yang berpendapat syariah puasa tanggal 9 Muharram untuk menyalahi tradisi Yahudi yang terbiasa puasa di tanggal 10.

Dasarnya adalah riwayat Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad dari Ibnu Abbas RA.

Ibn 'Abbas RA berkata, :Kalau saya masih ada (umur) sampai tahun depan, saya akan puasa di hari kesembilan. Di dalam riwayat lain, Ibn 'Abbas berkata, 'Ketika Rasulullah SAW. berpuasa di hari asyura dan memerintahkan agar puasa di hari itu, para sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, hari asyura itu adalah hari yang diagungkan oleh umat Yahudi dan Nasrani?' Rasulullah SAW bersabda, 'Kalau ada (umur) di tahun depan – insya Allah – kita akan puasa di hari kesembilan. Ibn 'Abbas berkata, 'Tahun depan belum tiba, namun Rasulullah SAW sudah wafat'."

Paparan di atas menjelaskan penamaan asyura memang merujuk pada urutan harinya. Sedangkan untuk hari kesembilan dinamai tasu'a.

Selengkapnya...

2 dari 2 halaman

Sejarah Muharram Jadi Bulan Awal Kalender Hijriah

Dream - Saat ini, umat Islam memasuki tahun 1440 Hijriah. Ini ditandai dengan masuknya bulan Muharram.

Sebagian umat Islam di Indonesia, terutama di Pulau Jawa menamai Muharram dengan Suro. Nama ini diambil dari nama hari kesepuluh bulan Muharram yaitu Asyuro.

Islam menganggap Asyura sebagai hari istimewa. Demikian pula dengan masyarakat Islam di Jawa.

Mungkin di benak kita muncul pertanyaan mengapa Muharram dijadikan sebagai bulan pembuka tahun. Sementara jika alasannya karena Muharram adalah bulan mulia, masih ada bulan-bulan lain yang istimewa.

Dikutip dari Islami.cosejarah mencatatkan kalender Hijriah ditetapkan oleh Khalifah Umar bin Khattab RA. Ya, Umar memang dikenal sebagai pemimpin yang cukup inovatif.

Umar menjadikan peristiwa hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah sebagai tahun pertama Hijriah. Bukan momen lahirnya Rasulullah maupun ketika Rasulullah diangkat sebagai Nabi oleh Allah SWT.

Latar Belakang Penetapan

Dream - Hal ini bukan karena dasar. Sebelum menetapkan hal ini, Umar didatangi Maimun bin Mahran. Kepada Umar, Maimun menyodorkan dokumen tentang kesepakatan antara dua orang yang berlaku pada Sya'ban.

Umar kemudian bertanya kapan Sya'ban yang dimaksud dalam dokumen tersebut. " Tahun kemarin, tahun yang akan datang atau tahun ini?" tanya Umar.

Ketidakjelasan tahun itu membuat Umar berinisiatif mengumpulkan beberapa orang sahabat.

Kepada mereka, Umar meminta pendapat tentang penyusunan sistem penanggalan yang bisa dijadikan patokan untuk bermu'amalah atau mengikat perjanjian.

Sahabat pun memberikan usulan bermacam-macam. Ada yang mengusulkan mencontoh sistem kalender Persia dan Romawi, ada pula yang menyarankan kelahiran Rasulullah sebagai tahun awal.

Pun demikian dengan Ali bin Abi Thalib RA. Menantu Rasulullah itu menyarankan agar Umar menjadikan peristiwa hijrah sebagai tahun pertama lantaran diketahui banyak orang.

Umar pun sepakat dengan ide Ali. Akhirnya, ditetapkan tahun pertama Hijriah yaitu ketika Rasulullah hijrah dari Mekah ke Madinah.

Pertimbangannya, hijrah merupakan peristiwa besar yang semua orang mengetahuinya. Selain itu, hijrah membawa perubahan besar bagi umat Islam.

Umar juga menetapkan Muharram sebagai bulan pembuka tahun. Alasannya, agar tidak merombak urutan bulan yang sudah baku kala itu.

Setelah semua proses selesai, Umar memberlakukan kalender Hijriah pada tahun ke-16 usai hijrah. Kala itu, Umar sudah dua tahun diangkat sebagai Khalifah.

Selengkapnya...

Beri Komentar
Wasiat Terakhir Ustaz Arifin Ilham