4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Foto Ilustrasi
Dream - Meski punya postur tubuh kecil, semangat hijaber ini untuk terus melanjutkan studi ke perguruan tinggi sangat besar. Dia adalah Galih Putri Wulandari, salah satu penerima beasiswa BIDIKMISI yang diterima di Fakultas Farmasi UGM melalui jalur SNMPTN 2014.
Gadis kelahiran Purworejo, 14 Oktober 1996 ini adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Galih berasal dari SMAN 1 Purworejo.
Sebelum mencoba mendaftar ke UGM, Galih sempat ragu. Ini cukup beralasan mengingat kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Galih sehari-hari hidup bersama ibu, adik dan kakaknya. Kakak Galuh saat ini juga tengah studi di Jurusan Teknologi Industri Pertanian UGM.
" Sudah sejak 2009 silam bapak meninggal dunia, Mas," kata Galih, ketika dijumpai di rumahnya, Desa Botorejo RT 03/RW III, Bayan, Purworejo.

Srubingah Muji Rahayu, ibunda Galih, sehari-hari bekerja serabutan. Terkadang jualan sayur matang, terkadang jualan gorengan keliling kampung. Penghasilannya sehari rata-rata Rp25 ribu.
Dengan kondisi ekonomi semacam ini sempat membuat Galih ragu-ragu bisa melanjutkan kuliah. Namun, dengan dorongan keluarga serta bimbingan dari guru BP di sekolah akhirnya membuat Galih memilih Fakultas Farmasi UGM dengan beasiswa BIDIKMISI.
" Ya senang dan bangga, Mas. Sebelumnya sempat takut gak bisa nerusin sekolah," katanya.
Fakultas Farmasi UGM adalah pilihan pertamanya. Galih melihat bekerja sebagai apoteker cukup mulia. Bekerja di dunia medis kapan dan dimana pun akan selalu dibutuhkan masyarakat.
Ibunda Galih, Muji Rahayu mengaku bangga dan terharu anaknya bisa diterima di UGM. Sama halnya dengan Galih, Rahayu juga sempat ragu-ragu bisa membiayai anaknya melanjutkan studi di perguruan tinggi.
Apalagi kondisi kesehatannya kian menurun setelah mata sebelah kiri berkurang penglihatannya. " Mata sebelah kiri ini sudah sulit untuk melihat dengan jelas. Jadi memang mengganggu untuk aktivitas berjualan," kata Rahayu.
Galih memang gadis yang punya semangat tinggi. Bukan hanya ketika ingin melanjutkan studi di perguruan tinggi namun juga ketika dia bangku SMA. Untuk berangkat ke sekolah Galih harus naik sepeda dari rumahnya hingga pangkalan ojek di jalan raya dengan jarak 3 km.
Setelah itu dia selalu membonceng motor temannya hingga ke sekolah. " Modalnya helm saja mas karena selama SMA saya membonceng motor teman," gurau Galih.
(Ism, Sumber: UGM.ac.id)
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
