Hijaber Anak Tukang Becak Jadi Wisudawan Terbaik

Reporter : Sandy Mahaputra
Rabu, 11 Juni 2014 11:46
Hijaber Anak Tukang Becak Jadi Wisudawan Terbaik
Apa yang dilakukan Raeni membuktikan tidak ada halangan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa berkuliah dan berprestasi. Bisa jadi inspirasi buat hijabers!

Dream - Pemandangan tidak biasa terlihat di acara Wisuda Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Selasa kemarin. Pasalnya, lulusan terbaik berangkat ke lokasi wisuda dengan kendaraan yang tidak biasa.

Adalah Raeni wisudawan dengan IPK 3,96 yang diantar ayahnya, Mugiyono, menggunakan becak. Tanpa memperlihatkan rasa canggung, anak bungsu dari dua bersaudara pasangan Mugiyono dan Sujamah itu naik becak mulai dari tempat indekosnya, sekitar kampus Unnes, menuju lokasi wisuda.

Demikian pula, ketika usai wisuda, peraih beasiswa Bidik Misi itu kembali menumpang becak yang digenjot ayahnya, bahkan Rektor Unnes Fathur Rokhman ikut menumpang menuju rektorat.

Raeni mengaku bangga bisa menamatkan kuliah di Unnes dengan prestasi membanggakan dan menyandang predikat lulusan terbaik, meski ia berasal dari kalangan keluarga kurang mampu.

Ayahanda Raeni memang bekerja sebagai tukang becak yang saban hari mangkal tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Langenharjo, Kendal. Pekerjaan itu dilakoni Mugiyono setelah ia berhenti sebagai karyawan di pabrik kayu lapis.

Sebagai tukang becak, diakuinya, penghasilannya tak menentu. Sekira Rp10-50 ribu sehari. Karena itu, ia juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp450 ribu per bulan.

Meski dari keluarga kurang mampu, Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Penerima beasiswa Bidikmisi ini beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4.

Prestasi itu dipertahankan hingga ia lulus sehingga ia ditetapkan sebagai wisudawan terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96. Dia juga menunjukkan tekat baja agar bisa menikmati masa depan lebih baik dan membahagiakan keluarganya.

" Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Pengin-nya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi," kata gadis berhijab yang bercita-cita menjadi guru tersebut.

Tentu saja cita-cita itu didukung sang ayah. “ Sebagai orang tua hanya bisa mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon,” kata pria yang mulai menggenjot becak sejak 2010 itu.

Apa yang dilakukan Raeni membuktikan tidak ada halangan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa berkuliah dan berprestasi. Bisa jadi inspirasi buat hijabers!

(Ism, Sumber: Unnes.ac.id)

Beri Komentar