Tangis Erdogan Pecah di Pemakaman Sahabat Korban Kudeta

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 18 Juli 2016 12:43
Tangis Erdogan Pecah di Pemakaman Sahabat Korban Kudeta
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menangis di masjid Istanbul saat pemakaman Erol Olcak, sahabatnya yang tewas ditembak saat menghalau militer yang memblokade jembatan Bosphorus.

Dream - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menangis di masjid Istanbul saat menghadiri pemakaman Erol Olcak. Pria yang ada terbaring kaku adalah sahabat lamanya. Olcak tewas bersama anak lelakinya saat menjadi korban kudeta militer pada Jumat malam, 14 Juli 2016 waktu setempat.

Olcak merupakan satu dari 290 pendukung Erdogan yang tewas ditembak militer di malam kudeta berdarah tersebut. Erdogan kemudian berjanji akan membersihkan negara Turki dari para pembangkang, setelah penangkapan sedikitnya 6.000 orang pendukung kudeta, termasuk 29 jenderal tinggi negara itu.

" Kita berbaris di kafan pemakaman kita, dan kita akan tangani para pembunuh ini, para pemuja ini, pengikut-pengikut Fethullah (Gulen)," ujar Erdogan, merujuk para ulama yang dicurigai menjadi dalang kudeta, Fethullah Gulen, dan tinggal di Amerika Serikat.

Pidato Erdogan di pemakaman para korban kudeta sempat terhenti sejenak lantaran ia kembali terisak dan tak mampu menahan emosi. Dia lalu melanjutkan pidatonya dan bersumpah akan membersihkan seluruh institusi Turki dari virus dukungan terhadap Gulen.

Erdogan juga mendesak Amerika Serikat untuk mengekstradisi Gulen, yang telah mendapat suaka politik dari Pensylvania. Gulen membantah dirinya terlibat dalam kudeta tersebut.

Di luar Masjid Istanbul, kemarahan Erdogan sejalan dengan perasaan yang diluapkan oleh orang-orang Turki. Mereka berkumpul di lokasi pemakaman para korban dengan membawa bendera Turki dan mengutuk para pembunuh itu.

Kudeta Tentara Gila...

 

1 dari 1 halaman

Kudeta Tentara Gila

" Kudeta ini adalah bentuk terorisme," ujar Mehmet Aydin, 57 tahun, yang merupakan mantan pegawai negeri sipil yang datang dari Ankara demi sampai ke lokasi pemakaman di Istanbul.

" Komplotan pembangkang itu tidak peduli kepada warga, mereka hanya peduli pada pemimpinnya sendiri, tidak pada rakyat," kata Aydin.

Sementara pendukung pemerintah yang lain, Ertugul Aydin, 42 tahun begitu jengkel dengan para pelaku kudeta. Ia sampai menyebut para pelaku kudeta adalah tentara gila.

" Ini adalah korban dari para tentara yang cacat mental. Mentalitas mereka adalah teroris atau orang gila," ucap Ertugul.

Sumber: theguardian.com

 

Beri Komentar
Video Kondisi Terkini WNI dari Wuhan di Natuna