Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Presiden Turki Recep Tayyp Erdogan (theguardian.com)
Dream - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menangis di masjid Istanbul saat menghadiri pemakaman Erol Olcak. Pria yang ada terbaring kaku adalah sahabat lamanya. Olcak tewas bersama anak lelakinya saat menjadi korban kudeta militer pada Jumat malam, 14 Juli 2016 waktu setempat.
Olcak merupakan satu dari 290 pendukung Erdogan yang tewas ditembak militer di malam kudeta berdarah tersebut. Erdogan kemudian berjanji akan membersihkan negara Turki dari para pembangkang, setelah penangkapan sedikitnya 6.000 orang pendukung kudeta, termasuk 29 jenderal tinggi negara itu.
" Kita berbaris di kafan pemakaman kita, dan kita akan tangani para pembunuh ini, para pemuja ini, pengikut-pengikut Fethullah (Gulen)," ujar Erdogan, merujuk para ulama yang dicurigai menjadi dalang kudeta, Fethullah Gulen, dan tinggal di Amerika Serikat.
Pidato Erdogan di pemakaman para korban kudeta sempat terhenti sejenak lantaran ia kembali terisak dan tak mampu menahan emosi. Dia lalu melanjutkan pidatonya dan bersumpah akan membersihkan seluruh institusi Turki dari virus dukungan terhadap Gulen.
Erdogan juga mendesak Amerika Serikat untuk mengekstradisi Gulen, yang telah mendapat suaka politik dari Pensylvania. Gulen membantah dirinya terlibat dalam kudeta tersebut.
Di luar Masjid Istanbul, kemarahan Erdogan sejalan dengan perasaan yang diluapkan oleh orang-orang Turki. Mereka berkumpul di lokasi pemakaman para korban dengan membawa bendera Turki dan mengutuk para pembunuh itu.
Kudeta Tentara Gila...
© Dream
" Kudeta ini adalah bentuk terorisme," ujar Mehmet Aydin, 57 tahun, yang merupakan mantan pegawai negeri sipil yang datang dari Ankara demi sampai ke lokasi pemakaman di Istanbul.
" Komplotan pembangkang itu tidak peduli kepada warga, mereka hanya peduli pada pemimpinnya sendiri, tidak pada rakyat," kata Aydin.
Sementara pendukung pemerintah yang lain, Ertugul Aydin, 42 tahun begitu jengkel dengan para pelaku kudeta. Ia sampai menyebut para pelaku kudeta adalah tentara gila.
" Ini adalah korban dari para tentara yang cacat mental. Mentalitas mereka adalah teroris atau orang gila," ucap Ertugul.
Sumber: theguardian.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya