Anak yang Terlalu Pintar Berisiko Miliki Gangguan Psikologis

Reporter : Mutia Nugraheni
Selasa, 22 Desember 2020 16:02
Anak yang Terlalu Pintar Berisiko Miliki Gangguan Psikologis
Tingkat kecemasan dan risiko gangguan mood-nya sangat tinggi.

Dream - Banyak orangtua berharap anak-anaknya menjadi seorang yang jenius dan selalu berprestasi dalam bidang akademik. Menjadi jenius dianggap akan jadi batu loncatan yang penting bagi kesuksesan anak di masa depan.

Sayangnya banyak yang tak tahu kalau jenius juga bisa berdampak sebaliknya. Anak yang terlampau pintar di usianya punya rasa frustasi yang berpengaruh kepada kondisi psikologisnya.

Menurut penelitian, anak yang jenius atau terlalu pintar cenderung memiliki gangguan psikologis tertentu. Beberapa orang berpikir bahwa anak yang sangat pintar atau jenius, pasti dididik sejak dini oleh orang tuanya agar lebih berprestasi dari anak yang lain.

Dikutip dari KlikDokter, sebuah survei yang dilakukan pada 2015 menemukan bahwa anak-anak yang memiliki kepintaran berlebih dicurigai memiliki beberapa gangguan psikologis. Untuk membuktikan hal tersebut, ilmuwan meneliti 3.175 anak yang masuk ke dalam American Mensa Society, yakni organisasi bagi orang-orang yang ingin mendapatkan IQ tinggi.

Survei dilakukan guna memeriksa prevalensi gangguan psikologis yang dialami oleh anak-anak dengan kecerdasan tinggi. Dalam penelitian tersebut, peneliti menanyakan berbagai hal kepada peserta untuk mendiagnosis gangguan mood dan kecemasan.

 

1 dari 5 halaman

Gangguan Mood

Gangguan Mood © Dream

Gangguan mood yang dicurigai berupa attention deficit hyperactivity (ADHD), gangguan spektrum autisme, dan beberapa penyakit seperti alergi makanan, asma, dan penyakit autoimun.

Hasil penelitian menunjukan, orang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata cenderung memiliki gangguan spektrum autisme. Lalu, 80 persen peserta lainnya lebih mungkin didiagnosis ADHD, dan 83 persen peserta cenderung mengalami gejala kecemasan. Tak hanya itu, 182 persen peserta lain lebih mungkin untuk mengalami gangguan mood.

Menanggapi penelitian tersebut, psikolog Ikhsan Bella mengatakan tidak semua orang yang sangat pintar pasti memiliki gangguan psikologis. Hanya saja, anak yang jenius memang sering frustasi dengan lingkungannya karena mereka memiliki pemikiran yang berbeda dengan teman sebayanya.

“ Anak jenius itu, kan, biasanya pemikiran mereka lebih maju daripada anak seusianya. Terkadang hal ini buat mereka frustasi karena pemikiran mereka seolah berbeda dari umumnya, padahal sebenarnya pemikiran mereka lebih maju. Kalau memang menimbulkan masalah sama lingkungannya, ini berarti ada masalah dalam pengasuhan dan lingkungan sekitarnya,” ungkap Ikhsan.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

2 dari 5 halaman

Buah Hati Sangat Tak Fokus Belajar di Rumah? Ini Cara Membantunya

Buah Hati Sangat Tak Fokus Belajar di Rumah? Ini Cara Membantunya © Dream

Dream - Anak tak fokus saat belajar di rumah jadi salah satu keluhan yang kerap dilontarkan orangtua selama pandemi. Materi pelajaran yang disampaikan melalui video maupuum Zoom dan Gmeet kerap tak diperhatikan anak dengan baik.

Ada juga anak yang mudah fokus, tapi ada juga yang sangat sulit. Orangtua memiliki peran penting dalam membantu anak dengan rentang perhatian yang pendek atau yang mengalami kesulitan fokus.

" Bagaimana kita merespons saat anak tak fokus,  menuntunnya mencari solusi, akan sangat membantunya," kata Ashley Abramson seorang pakar pengasuhan anak, dikutip dari Fatherly.

Jika tujuan kita adalah untuk mengembangkan rentang perhatian yang lebih lama pada anak, ingatlah bahwa fokus adalah sebuah keterampilan. Dengan sedikit bantuan strategis dan kesabaran, kita bisa melatih fokus anak jadi lebih baik.

Coba beberapa cara berikut

 

3 dari 5 halaman

1. Perhatikan kecenderungan anak

1. Perhatikan kecenderungan anak © Dream

Selalu ada sesuatu yang memicu keharusan mengingatkan anak untuk kesekian kalinya fokus pada tugas, kelas dan hal lainnnya terkait akademik. Ingatlah bahwa karena fokus adalah keterampilan, anak-anak yang lebih kecil tidak selalu memiliki kekuatan otak untuk menyelesaikan suatu tugas.

Rebecca Bransetter, seorang psikolog anak, mengungkap bagian otak anak yang memiliki tugas untuk fokus belum berkembang sepenuhnya. Pada anak-anak yang lebih besar, situasi stres seperti pembelajaran jarak jauh dapat membuat fokus jadi lebih sulit.

" Orang tua terkadang langsung mempermalukan atau mengungkapkan kekecewaan, kemarahan, atau kekesalan tanpa memikirkan sudut pandang anak," kata Bransetter.

Bransetter menyarankan untuk mengingatkan diri sendiri bahwa anak sebenarnya mampu untuk fokus tapi mereka sedang mengalami masa-masa sulit dan perlu dilatih berulang kali untuk menjaga fokusnya.

Ketika orangtua melihat anak tidak fokus, berhentilah untuk memarahi dan ingatkan diri bahwa kemungkinan ada keterampilan perkembangan yang tertinggal atau alasan situasional yang membuat anak kesulitan.

Coba teknik " perhatikan dan jelajahi" . Pertama, amati usaha anak, kedua ajukan pertanyaan.

Seperti, " Mama perhatikan kakak/adik mengalami kesulitan saat bikin tugas matematika. Kenapa? Apakah baik-baik saja? Mau dibantu?”. Pertanyaan detail penting diajukan untuk mencari tahu masalah anak. 

 

4 dari 5 halaman

2. Hindari langsung mencari solusi

2. Hindari langsung mencari solusi © Dream

Saat melihat anak-anak kita tidak fokus, naluri kita biasanya langsung ingin memberikan solusi dan memaksanya untuk fokus. Bransetter mengatakan melompat terlalu cepat untuk " memperbaiki" adalah mengabaikan kesempatan untuk mengajari anak-anak teknik pemecahan masalah.

Lebih baik mulailah dengan mengajukan pertanyaan. Seperti, " Ada ide biar kakak/adik lebih fokus saat belajar?" , " Lampunya kurang terang ya?" , " Apakah suara di luar mengganggu?" . Perlu diingat bahwa, pada anak-anak yang lebih besar, strategi terbaik untuk membuat mereka lebih fokus adalah dengan menggunakan caranya sendiri.

 

5 dari 5 halaman

3. Memaksa anak

3. Memaksa anak © Dream

Melihat anak-anak mereka beralih ke YouTube saat mereka seharusnya sedang mengerjakan tugas atau mendengarkan gurunya di Zoom selama pembelajaran jarak jauh, membuat orangtua frustrasi. Orangtua mungkin langsung memarahi anak, tetapi Bransetter mengatakan hal itu malah jadi bumerang dan anak malah kesal.

Lebih baik tarik napas panjang dan ajukan pertanyaan pada anak, kenapa ia malah membuka YouTube atau media sosial saat pelajaran. Pertanyaan akan membawa fokus kembali ke lobus frontal otak anak jadi lebih aktif.

" Di situlah pemikiran rasional dapat muncul.Anak-anak tidak bisa memecahkan masalah jika mereka merasa stres atau dihakimi," kata Bransetter.

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More