Bayi Baru Lahir (Foto: Shutterstock)
Dream - Melahirkan di tengah-tengah pandemi Covid-19 global seperti sekarang, memang jadi sebuah tantangan sendiri bagi ibu dan ayah. Rumah sakit yang sebelumnya terasa nyaman, kini terkesan lebih 'horor'.
Dokter dan perawat mengenakan alat pelindung diri (APD), keamanan dan prosedur di RS pun diperketat. Kondisi ini tentunya membuat orangtua semakin mawas diri, terutama setelah bayi lahir dan boleh pulang.
Risiko penularan bisa saja terjadi di mana pun, bukan hanya di RS. Untuk itu, saat merawat bayi baru lahir di tengah pandemi ini, perhatikan tips dari para ahli kesehatan berikut.
© shutterstock.com
Meningat kondisi seperti saat ini, beberapa dokter mengalihkan jadwal kunjungan melalui virtual seperti skype, zoom, atau platform lainnya. Orangtua dapat mengajukan pertanyaan melalui video dengandokter. Video dinilai lebih efektif dari pada konsultasi lewat telepon seluler. Hal ini dikarenakan dokter dapat melihat secara langsung interaksi antara orang tua dan bayi. Selain itu, dokter dapat menilai hambatan atau permasalahan yang dialami bayi melalui video.
Jika ada permasalahan pada kesehatan bayi, seperti masalah pernapasan, dokter akan menjadwalkan untuk membawa bayi ke klinik. Namun jika hanya permasalahan biasa seperti ruam popok, masalah menyusui, dokter biasanya akan memantau melalui video.
© shutterstock.com
Orangtua mungkin masih perlu membawa bayinya ke klinik dokter untuk mendapatkan vaksin. Menunda memberikan vaksin pada bayi, tidak disarankan karena vaksin sangat penting untuk melindungi bayi terhadap penyakit seperti meningitis dan batuk.
Namun, mengingat tingkat risiko saat pandemi ini (terutama untuk bayi yang lahir prematur atau dengan kondisi kesehatan lain), Matt Dougherty, M.D., seorang dokter anak di St. Louis, mengatakan bahwa pemberian vaksin untuk bayi dapat ditunda sementara waktu. Dokter dan orangtua dapat mendiskusikan untuk mengambil waktu yang paling aman untuk memberikan vaksin kepada bayinya.
© shutterstock.com
Untuk saat ini, tempat yang paling aman untuk bayi adalah tetap berada di dalam rumah. Namun, jika situasi harus memaksa orangtua untuk keluar membawa bayinya, pastikan bayi terlindungi dengan aman. Orangtua dan bayi harus menjaga jarak dan menghindari kontak fisik dengan orang asing.
Dougherty mengatakan bahwa risiko penularan terhadap bayirendah jika tetap membiarkan bayi berada dalam kereta dorongnya dan bayi tidak menyentuh permukaan apapun. Namun yang perlu diingat bahwa jangan membawa bayi ke swalayan atau apotek karena kedua tempat itu rentan kontak fisik dengan orang lain.
© Ilustrasi foto : Alodokter
Kebutuhan seperti popok, tisu, dan susu formula sangat dibutuhkan. Meskipun ketersediaannya terbatas, orang tua tidak perlu menimbun secara berlebihan.
Cukup beli persediaan selama dua minggu, untuk mengurangi frekuensi keluar rumah. Bisa juga memesan secara online agar rsesuai yang dibutuhkan bayi untuk persediaan beberapa minggu. Dengan begitu, dapat mengurangi waktu ke luar rumah dan mengurangi risiko terpapar infeksi virus covid-19.
© Ilustrasi foto : Alodokter
Dalam situasi seperti saat ini, tidak mungkin menitipkan bayi kepada orang lain. Namun orangtua dapat menitipkan kepada keluarga yang sudah bisa dipastikan kebersihannya. Upayakan untuk membagi tanggung jawab bersama pasangan, hal ini sangat penting agar Ibu tidak depresi dan kewalahan. Orangtua dapat bergantian untuk menjaga bayi mereka dan membiarkan ibu untuk beristirahat sejenak.
© Ilustrasi foto : Alodokter
Menjaga kesehatan mental pasca melahirkan sangat penting untuk mencegah depresi pada Ibu yang baru saja melahirkan bayinya. Jika mengalami gejala depresi pasca melahirkan sebaiknya hubungi petugas profesional. Bisa juga melakukan konsultasi online, tapi pastikan melakukannya pada konsultan yang tepat. (mut)
Sumber: Parents