Snack Ngebul/ Foto: Shutterstock
Dream - Sebanyak 7 anak di Tasikmalaya diketahui mengalami keracunan setelah mengonsumsi jajanan dingin yang sering disebut " chiki ngebul" . Berupa camilan garing yang didinginkan menggunakan nitrogen cair.
Saat dimakan akan keluar asap dingin dari mulut, hal ini membuat anak-anak sangat menyukainya. Bila si kecil minta dibelikan ini sebaiknya hati-hati, karena pada beberapa kasus, camilan tersebut menyebabkan sederet masalah kesehatan.
Seperti keracunan di Tasikmalaya, luka di kulit dan lidah, iritasi di saluran cerna hingga kebocoran di sistem pencernaan. Dokter RA Adaninggar, spesialis penyakit dalam (SpPD) lewat akun Instagramnya @drningz, menjelaskan bahaya camilan ini.
" Sebenarnya, makanan menggunakan nitrogen cair ini juga udah lama dilarang oleh FDA di AS (Amerika Serikat) karena nitrogen cair ini bisa sangat berbahaya kalau dikonsumsi saat belum evaporasi sempurna atau suhu masih sangat dingin, bisa menyebabkan frost bite injury baik di kulit, mulut, maupun saluran cerna," ungkap dr. Ning, sapaan akrabnya.
Suhu dingin yang ekstrem dari camilan tersebut bisa mengakibatkan luka yang disebut frosbite injury. Frostbite injury ini bisa memicu iritasi dan luka mulai derajat ringan hingga dalam dan berat mirip seperti luka bakar.
" Luka dalam dan berat di saluran cerna bisa sampai menyebabkan saluran cerna bocor dan bolong yang disebut perforasi. Ini kondisi yg sangat berbahaya bisa menyebabkan kematian," tulis dr. Ning.
Bahaya lainnya adalah, uap nitrogen yang terhirup bisa mencetuskan serangan asma pada orang yang punya bakat asma. Ia pun mengingatkan untuk berhati-hati, dan sebaiknya camilan ini dihindari.
Dream - Label organik pada bahan makanan dianggap sebagai jaminan lebih sehat. Biasanya, para orangtua saat akan membuat makanan pendamping ASI (MPASI), lebih memilih bahan organik meskipun harganya jauh lebih mahal.
Lalu apakah sayur dan sumber protein organik pasti lebih sehat untuk anak? Dokter Meta Hanindita, spesialis anak memberikan penjelasan dalam akun Instagramnya @metahanindita.

" Makanan organik dihasilkan pertanian organik, menggunakan bahan pupuk organik dan pembatasan bahan pupuk organik dan pembatasan bahan kimia seperti pestisida, penyubur dll. Penelitian menunjukkan produk makanan organik tidak lebih unggul secara signifikan dibanding konvensional dalam hal pemenuhan zat gizi makro dan mikro," ujarnya dalam video yang diunggahnya.
Menurutnya pemberikan MPASi tidak harus berasal dari bahan organik. Kita bisa mendapatkannya dari penjual sayur yang lewat dan tak perlu repot mencari yang organik. Kunci MPASI bergizi dan sehat justru pada kebutuhan anak yang terpenuhi sesuai usia.
" Tidak harus organik. Konsumsi makanan bernutrisi seimbang sesuai kebutuhan usia yang bervariasi. Belum ada penelitian pada manusia yang menunjukkan bahwa makanan organik memiliki keuntungan terhadap kesehatan atau perlindungan terhadap penyakit tertentu dibanding dengan yang tidak organik," ungkap dr. Meta.

Ia juga menjelaskan dalam hal kandungan nutrisi, bahan makanan organik dan non organik tak memiliki perbedaan signifikan. Apapun bahan makanan yang diberikan pada anak, pastikan saja kandungan gizinya seimbang.
" Jika buibu pakbapak memiliki budget lebih untuk membeli makanan organik, silakan saja. Tapi jika tidak, tak perlu dipaksakan. Yang penting, terlepas dari organik tidaknya, pastikan menyajikan makanan bernutrisi seimbang sesuai kebutuhan usia dan bervariasi," pesan dr. Meta.
Dream - Masih banyak orangtua yang tak menyadari kalau anaknya mengalami masalah kekurangan gizi gizi, sampai pada level terkena stunting. Stunting sendiri adalah masalah kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama.
Efeknya berupa gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Bukan hanya berdampak fisik tapi juga kemampuan kognitif.
Kekurangan gizi ini,, baru akan nampak setelah anak berusia 2 tahun. Salah satu satu penyebabnya adalah pemberian menu makanan pendamping ASI (MPASI) yang kurang tepat.
Hal tersebut diungkapkan dr. Agnes dalam YouTube Channel Meet Dokter Agnes, seorang spesialis anak. Menurutnya, menu saat memberikan MPASI harus memperhatikan unsur mikronutrien dan makronutrien.
" Katanya MPASI tunggal itu adalah makanan pendamping ASI yang disarankan WHO dan diberikan pada dua minggu pertama. Padahal WHO tak pernah memberikan statement seperti itu," kata dr Agnes.
Makanan pendamping ASI tunggal ini contohnya hanya memberikan satu makanan tertentu saja selama dua minggu. Misalnya hanya pisang, avokad atau apel. Padahal ini tidak tepat.
" Menu MPASI, kandungan zat gizinya harus sama dengan ASI, seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral," pesan dr. Agnes.
Lemak seringkali terabaikan saat pemberian MPASI. Padahal lemak sangat dibutuhkan untuk perkembangan otak bayi.
Sumber Protein Hewani
Untuk sumber lemak dan protein, menurut dr. Agnes bisa didapatkan dari avokad atau kacang-kacangan, tapi disarankan dari sumber hewani. Seperti ikan, daging atau ayam. Ia juga menyarankan untuk memadukan menu MPASI rumahan dengan menu makanan bayi kemasan.
Pasalnya, makanan bayi kemasan sudah terfortifikasi, yaitu mendapat zat besi tambahan yang bisa memenuhi kebutuhan bayi per hari. Jadi kebutuhan zat gizi bayi terpenuhi secara optimal.
Bukan hanya vitamin dari sayuran dan buah saja, karena dianggap sehat. Tapi juga asupan protein dan zat besi yang sangat penting bagi pertumbuhan otaknya.
Advertisement