Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Kasus virus corona di Indonesia memaksa kita harus lebih ekstra dalam menjaga sistem kekebalan tubuh. Terutama pada anak-anak yang imunitasnya belum bisa bekerja secara optimal.
Penting bagi Sahabat Dream untuk terus menerus mengingatkan anak kebiasaan yang sehat. Hal yang mereka bisa lakukan setiap hari baik di rumah, sekolah, maupun tempat lain demi menjaga kondisi kesehatannya sendiri.
Ada empat kebiasaan yang harus selalu ditanamkan. Segera ajarkan sekarang dan jangan bosan untuk mengingatkannya.
Cuci tangan dengan lagu 2 'Happy Birthday'
Cara yang paling bisa dilakukan saat ini demi mencegah penularan corona adalah cuci tangan dengan sabun. Ajarkan anak untuk cuci tangan dengan benar, bukan hanya telapak tapi juga sela-sela jari.
Lakukan selama 20 detik atau bisa juga dengan menyanyikan lagu 'Happy Birthday'. Anak biasanya cuci tangan sesukanya, untuk itu harus dicontohkan berkali-kali.
© Dream
Bila anak sedang pilek atau batuk, minta mereka menggunakan masker agar tak menulari orang lain di sekitarnya. Batuk juga harus tahu etikanya, yaitu menutupnya dengan tisu atau menutup mulut/hidung dengan siku.
Cara ini bisa menurunkan risiko penularan. Pastikan buah hati tahu hal ini. Hal yang juga sangat penting adalah memberitahunya tak boleh meludah di sembarang tempat. Harus di kamar mandi, saat ingin membuang dahak.
© Dream
Anak seringkali mengucek mata padahal tangannya sangat kotor. Hal ini akan dengan mudah menular virus. Ingatkan anak untuk tak menyentuh mata dan wajahnya jika tangannya kotor dan belum cuci tangan. Infeksi seperti konjungtivitis dapat ditularkan melalui sentuhan mata setelah menyentuh benda oleh orang dengan infeksi tersebut.
© Dream
Anak-anak kadang suka berbagi makanan dengan temannya. Jika ingin berbagi sebaiknya menggunakan alat makan sendiri, seperti sendok dan garpu. Berbagi alat bisa meningkatkan risiko penularan virus karena liur merupakan pembawa virus dan bakteri.
Sumber: Verywell
© Dream
Dream - Jumlah kasus infeksi karena corona terus meningkat di seluruh dunia. Untuk di Indonesia sendiri, baru pada 2 Maret 2020 kemarin, diketahui ada 2 pasien yang positif corona (Covid-19) setelah kontak langsung dengan kerabatnya dari Jepang yang juga terinfeksi.
Bagi orangtua, kabar ini memang memunculkan kekhawatiran. Pasalnya, anak-anak memiliki daya tahan tubuh yang belum optimal. Mereka juga kerap kali mengalami keluhan batuk, pilek, demam dan disertai sesak napas, yang memang mirip dengan gejala infeksi corona.
Tak perlu panik. Pasalnya, jumlah kasus infeksi coronavirus di kalangan anak-anak sangat rendah. " Kami melihat [sekitar] total 75.000 kasus pada saat ini, tetapi literatur hanya melaporkan sekitar 100 atau lebih kasus anak," kata Terri Lynn Stillwell, seorang ahli penyakit menular anak di Rumah Sakit Mott Children's di University of Michigan, dikutip dari NPR.org.
Mungkin saja banyak anak yang terinfeksi tetapi tidak cukup sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Bisa juga pada anak yang terinfeksi mungkin tidak mengalami gejala sama sekali.
" Sejauh ini, tampaknya lebih dari 80% infeksi cukup ringan pada anak, tidak lebih parah dari flu biasa," kata Cody Meissner, seorang ahli penyakit menular dan profesor pediatri di Tufts University School of Medicine.
© Dream
Meissner merujuk pada temuan sebuah studi kecil, yang diterbitkan di Journal of the American Medical Association (JAMA). Para peneliti di Wuhan, Cina, mengidentifikasi sembilan bayi yang dirawat di rumah sakit yang telah didiagnosis dengan COVID-19 setelah terinfeksi oleh anggota keluarga.
Usia mereka berkisar dari satu bulan hingga 11 bulan. Para peneliti mendokumentasikan gejala mereka. Mereka menemukan bahwa empat bayi menderita demam dan dua menderita batuk.
" Itu penyakit yang sangat ringan," kata Meissner.
Tidak ada bayi yang mengalami komplikasi parah. Sejauh ini, tampaknya virus Covid-19 lebih mungkin menginfeksi orang dewasa yang lebih tua, terutama orang-orang dengan masalah kesehatan kronis. Korban yang meninggal rata-rata berusia 70-an.