Ariska Putri Miss Grand Internasional 2016 Berduka: `Kita Pulang Ya`

Reporter : Amrikh Palupi
Selasa, 16 Maret 2021 11:40
Ariska Putri Miss Grand Internasional 2016 Berduka: `Kita Pulang Ya`
Siapa yang meninggal?

Dream - Kabar duka datang dari modal dan mantan runner-up Putri Indonesia, Ariska Putri Pertiwi. Ayahanda dari wanita yang pernah menyabet gelar Miss Grand International Tahun 2016 dikabarkan meninggal dunia.

Kabar duka ini dibagikan Ariska Putri lewat unggahan akun instagramnya. Ariska Putri mengunggah foto peti jenazah ayahnya yang ditutupi bendera merah putih berlatar belakang hitam putih.

" Papa," tulis Ariska Putri Pertiwi dikutip Dream, Selasa 16 Maret 2021.

Ariska Putri

Pada unggahan selanjutnya Ariska mengunggah foto sejumlah orang tengah menggotong peti jenazah itu untuk dimasukkan dalam ambulance.

“ Kita pulang ya pa,” kata Ariska.

Orangtua Ariska Putri

Ariska terus mengabadikan momen melepas sang ayah untuk terakhir kalinya saat dilakukan upacara pelepasan secara militer di pangkalan udara.

Ayah Ariska Putri

" Kita udah pulang Papa," tuturnya.

1 dari 6 halaman

Innalilahi, Anton Medan Meninggal Dunia

Dream - Muhamad Efendi atau lebih dikenal dengan Anton Medan dikabarkan meninggal dunia, Senin 15 maret 2021.

Anton medan meninggal sekitar pukul 14.50 di kediamannya Pondok Rajeg, Cibinong, Bogor. Belum diketahui penyebab pria bernama asli Tan Hok Liang meninggal.

Kabar meninggalnya Anton Medan ramai di sosial media. Warganet ramai menyampaikan ucapan belasungkawa.

Sebelumnya, Anton Medan dikabarkan sakit. Dalam unggahan artis Miller Khan, Anton Medan terlihat terduduk lesu di kursi roda.

Anton Medan dikenal sebagai mantan perampok dan bandar judi yang kini insaf. Ia sempat menjadi Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia sejak 2012. Almarhum memeluk Islam sejak 1992.

 

2 dari 6 halaman

Muhamad Efendi atau lebih dikenal dengan Anton Medan sudah menyiapkan liang lahat untuk dirinya jika kelak meninggal.

Liang lahat yang disiapkan Anton berada di Pondok Pesantren At-Taibin di Kampung Bulak Rata RT 2/8, Kelurahan Pondok Rajeg, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. Ponpes itu akan menjadi tempat peristirahatan terakhir pria yang kini menginjak usia 61 tahun. 

Pria pemilik nama Tionghoa, Tan Kok Liong, sejak dulu bercita-cita membangun sebuah pondok pesantren bagi mualaf Tionghoa dan mantan narapidana yang ingin belajar agama.

Pada 2002 cita-citanya terwujud membangun sebuah pondok pesantren. Saat itu yang pertama kali dibangun oleh Anton yakni kuburan.

Lokasi yang nantinya menjadi tempat pemakanam Anton berada tepat di sebalah kanan Masjid Tan Kok Liong yang di desain dengan gaya bangunan Tionghoa.

Kuburan itu memiliki kedalaman sekitar 160 sentimeter dan panjang 2 meter yang saat ini dijadikan pendopo bagi tamu yang berkunjung ke pondok pesantren tersebut.

3 dari 6 halaman

Anton Medan, KH Zainuddin MZ, dan Perjalanan Panjang Meraih Hidayah Islam

Dream - Nama Anton Medan tidak bisa dihapus dalam ingatan masyarakat Indonesia. Nama ini begitu fenomenal lantaran kisah pergulatannya menjalani hidup hingga akhirnya menemukan cahaya Islam.

Anton Medan telah berpulang ke Rahmatullah pada Senin, 15 Maret 2021. Kisahnya yang panjang dalam mengarungi hidup mengandung hikmah mendalam.

Anton lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, pada 10 Oktober 1957. Saat lahir, dia mendapatkan nama Tan Hok Liang lalu mengubah nama menjadi Muhammad Ramadhan Effendi setelah memutuskan menjadi mualaf.

Sejak usia 12 tahun, Anton mengenal kelamnya dunia hitam. Semata karena dia harus menjadi tulang punggung keluarga.

4 dari 6 halaman

Merasakan Kerasnya Hidup

Saat itu, Anton menjadi calo penumpang di Terminal Bus Tanah Tinggi. Singkat cerita, dia terjerat masalah hukum karena memukul salah satu sopir bus akibat mendapat upah tak sesuai.

Hal sama terulang ketika dia pergi ke Kota Medan. Dia berkelahi dengan sopir.

Satu sopir tewas akibat terkena parang sabetan Anton. Akibatnya, dia harus meringkuk di penjara selama empat tahun.

Bebas penjara, Anton pulang ke kampung halaman. Tak dinyana, dia malah ditolak keluarga karena orangtuanya merasa malu punya anak pernah dipenjara.

Anton pun merantau ke Jakarta dan berniat menemui pamannya. Sayangnya, dia tidak menemukan alamat tinggal sang paman dan terpaksa hidup menggelandang.

Kesempatan bertemu akhirnya didapat. Sayangnya, sang paman juga menolak kehadiran Anton.

Sejak itulah dia menggeluti profesi di dunia hitam. Namanya pun terkenal seantero Jakarta sebagai orang yang ditakuti.

5 dari 6 halaman

Meraih Hidayah

Berulang kali dia keluar masuk penjara. Hingga akhirnya dia mendapatkan hidayah dan memutuskan insyaf dari dunia hitam.

Saat menjalani hukuman di Cipinang, Anton berkeinginan tobat dan memeluk Islam. Sayangnya, keinginan itu harus terwujud dengan sulit.

Dia pernah ditolak Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) dan Yayasan Karim Oei saat mengutarakan niat ingi masuk Islam. Dua lembaga itu tak mau membimbing Anton karena masa lalunya yang kelam.

Hal itu tidak menyurutkan niat Anton untuk memeluk Islam. Di bawah bimbingan KH Zainuddin MZ, Anton akhirnya mengucap kalimat syahadat dan mengganti nama menjadi Muhammad Ramadhan Effendi.

 

6 dari 6 halaman

Mengabdi untuk Umat

Semenjak itu, Anton mengabdikan diri untuk kesejahteraan umat. Dia mendirikan Majelis Taklim Ata'ibin untuk menampung para narapidana dan pengangguran serta membimbing mereka.

Anton juga mendirikan pondok pesantren agar dapat mengabdi kepada masyarakat secara lebih luas. Pesantren yang berlokasi di Pondok Rajeg, Cibinong, Bogor ini juga menampung para santri narapidana.

Di dalam pesantren itu, Anton mendirikan masjid dengan ciri khas Tionghoa. Masjid itu diberi nama Masjid Tan Kok Liong.

Begitulah Anton Medan. Pengabdiannya untuk umat begitu besar.

Beri Komentar