Penampakan Mirip Struktur Paramida Di Antartika (Foto:The Sun)
Dream - Dengan bantuan aplikasi Google Earth, kanal Youtube Third Phase of the Moon mengunggah video mencengangkan. Yaitu, penampakan sebuah struktur mirip piramida terkubur di bawah es di Antartika.
Penemuan yang tak biasa itu telah tersebar luas di YouTube. Banyak yang antusias dengan penemuan itu, dan mengklaim bahwa piramida tersebut adalah bukti manusia pernah tinggal di Antartika. Serta mendirikan bangunan yang megah.
Penemuan struktur mirip piramida di Antartika itu bahkan mengundang minat para ilmuwan. Sebagian berteori bahwa wilayah beku di Antartika jauh sebelumnya memiliki suhu yang lebih hangat, mungkin hingga 20 derajat Celcius.
Membahas mengenai iklim di wilayah Antartika, Dr Vanessa Bowman, dari British Antarctic Survey berkata, " Jauh 100 juta tahun yang lalu Antartika ditutupi hutan hujan yang lebat mirip dengan yang ada di Selandia Baru saat ini."
Namun banyak pengguna internet yang tidak yakin dengan adanya piramida di Antartika. Ada yang berkomentar bahwa foto Google Earth itu palsu. Sementara yang lain, menganggap mereka yang percaya itu piramida di Antartika sebagai orang gila.
Meskipun demikian, video tersebut telah disaksikan 650.000 kali.
(Sumber:TheSun)
© Dream
Dream - Salju pink. Alju semangka. Itulah yang digunakan oleh banyak orang untuk menyebut salju berwarna pink di Benua Artik. Banyak orang terpesona dengan keunikan dan keindahan salju ini.
Tapi sebenarnya, di balik keindahan itu ada bahanya mengerikan. Warna pink atau merah pada salju itu bukanlah sirup atau pewarna makanan. Warna pink dan merah menandakan adanya agla pada salju tersebut.
Dan inilah bahayanya. Berdasarkan laporan penelitian yang dipublikasikan Rabu pekan kemarin di jurnal Nature Communications, berkembangnya alga pada salju menyebabkan percepatan pencairan es.
Kabar yang lebih buruk lagi, alga ini bisa mencairkan es di sekitar Kutub Utara lebih cepat daripada yang diakibatkan oleh perubahan iklim.
Menurut studi para ilmuwan, warna pink ini mengurangi kemampuan salju untuk memantulkan panas, dan cenderung menyerap panas ---seperti pada kain putih yang cenderung memantulkan panas dan kain hitam yang menyerap lebih banyak panas.
Selama 100 hari musim cair, penelitian itu menemukan bahwa kemampuan salju yang dipengaruhi ganggang merah untuk memantulkan cahaya atau panas 13 persen lebih rendah daripada salju putih.
Jadi, semakin banyak ganggang merah pada salju, semakin berkurang kemampuannya untuk memantulkan panas. Itu artinya pencairan es semakin cepat. (Sumber: Huffington Post)
© Dream
Dream - Sejumlah lubang atau kawah misterius terus bermunculan di daerah Siberia, Rusia. Padahal, para ilmuwan belum bisa menjelaskan secara pasti terbentuknya kawah misterius yang muncul di kawasan Semenanjung Yamal, yang muncul beberapa waktu lalu.
Seperti dikutip Dream dari laman Daily Mail, Rabu 30 Juli 2014, kawah ke dua ditemukan di Distrik Taz, Yamal, dengan diameter sekitar 15 meter. Dalamnya diperkirakan 60 meter hingga 100 meter.
Sementara kawah ke tga ditemukan di Semenanjung Taymyr, tepatnya di kawasan Kransoyark, dengan diameter sekitar empat meter. Menurut penduduk lokal, lubang tersebut terbentuk 27 September 2013.
Kedua kawah terakhir ditemukan oleh para penggembala rusa yag hampir terjerembab ke lubang raksasa itu. Sementara, kawah pertama yang telah membetot perhatian dunia terletak sekitar 32 kilometer dari pabrik eksplorasi gas di Bovanenkov.

Sumber: Daily Mail
Dua lubang yang ditemukan belakangan memang ukurannya lebih kecil. Namun, bentuk ke tiga lubang misterius ini relatif sama. Dengan kemunculan dua lubang ini, tantangan bagi ilmuwan Rusia untuk memecahkan teka-teki terbentuknya kawah-kawah misterius ini semakin bertambah.
Sebelumnya, sejumlah terori mengemuka untuk menjelaskan kawah-kawah raksasa yang misterius ini. Mulai tumbukan meteorit ke bumi, keberadaan alien, hunjaman rudal, buatan manusia, hingga ledakan gas metan atau gas di dalam bumi.
Namun, banyak ilmuwan yang meyakini terbentuknya kawah raksasa ini akibat memuainya gas di dalam labisan es di bawah tanah karena perubahan suhu, atau lebih tepatnya karena pemanasan global. Namun, belum ada kesimpulan yang pasti.
Semenanjung Yamal atau yang dalam bahasa bahasa lokal berarti 'ujung bumi' memang kaya akan gas alam. Daerah di ujung utara Rusia ini menjadi tambang utama gas alam bagi negeri Beruang Merah itu.
© Dream
Dream – Warga di kota Norilsk, Rusia, geger. Sebab, air di Sungai Daldykan di dekat kota mereka mendadak berubah merah. Semerah darah!
Sebagian penduduk ketakutan. Berbagai spekulasi bermunculan. Di antara mereka mengira perang nuklir akan meletus.
Tetapi, sebagian yakin perubahan warna tersebut disebabkan oleh kecelakaan pabrik pengolahan nikel. Warga khawatir kecelakaan tersebut mencemari sungai dan saluran air lainnya di seluruh negeri.
Perubahan warna air tersebut pertama kali terlihat di dekat sebuah pabrik peleburan Nadezhda Metallurgical Plant, milik perusahaan Norilsk Nikel.
Kota terpencil Norilsk terletak di Lingkaran Kutub Utara dan lebih dari seperempat penduduk kota yang berjumlah 210.000 jiwa bekerja di pabrik tersebut.
Nadezhda Metallurgical adalah tambang nikel terbesar ke lima di dunia dan lebih dari setengah produksinya adalah palladium yang digunakan untuk membuat knalpot mobil dan perhiasan.
Banyak warga yang memposting status ke media sosial merasa prihatin dengan perubahan warna Sungai Daldykan. Beberapa mengatakan mereka yakin limpasan tersebut berasal dari pabrik peleburan di dekatnya, sementara yang lain percaya bijih mineral telah bocor ke dalam air.
Beberapa komentator di Typical Norilsk, yang merupakan bagian dari situs jejaring sosial Rusia VK, mengatakan perubahan warna air itu adalah 'tanda dari Tuhan bahwa perang nuklir akan segera terjadi. Sementara yang lain menyebutnya sebagai 'sungai darah'.
ABC News menulis, mantan pekerja pabrik, Evgeny Belikov, mengatakan penampungan di dekat dengan pabrik juga berwarna merah darah dan pekerja biasa menyebutnya 'laut merah'.
" Di musim dingin, saljunya juga berwarna merah. Di satu sisi terlihat indah, tapi di sisi lain menakutkan karena itu adalah bahan kimia," kata Belikov.
Menurut Siberian Times, saat ini sedang dilakukan penyelidikan yang mengaitkan perubahan air sungai dan produksi Nadezhda Metallurgical yang dikurangi.
" Sampai hari ini, Divisi Kutub Utara Norilsk Nickel tidak menemukan kebocoran limbah industri ke Sungai Daldykan," kata seorang juru bicara Nadezhda Metallurgical.
" Namun, pemantauan lingkungan di sekitar sungai dan fasilitas produksi perusahaan tetap dilakukan, termasuk menggunakan helikopter."