JFW (1): Busana Muslim Kian Berkibar

Reporter : Syahid Latif
Senin, 3 November 2014 19:20
JFW (1): Busana Muslim Kian Berkibar
Mereka merangsek ke pusat perbelanjaan elit. Disukai wanita karir. Modis dan tetap Syariah.

Dream - Bulir-bulir keringat mengalir dari wajah permai Dian Pelangi. Jemari tangan cekatan. Menata. Merapihkan gaun hijab para model. Sesekali matanya menyapu ruangan itu, seperti tengah memburu seseorang. “ Aduh, ke mana sih modelnya,” dia bertanya, entah kepada siapa.

Pada 1 November, Sabtu pekan lalu itu, wanita cantik asal Palembang ini seperti kekurangan waktu. Tak ada waktu selonjorkan kaki. Membuang penat. Sekedar menyeka keringat yang membasuh wajah saja, hampir tak sempat.

Pada ajang Jakarta Fashion Week 2015, yang digelar di sebuah pusat perbelanjaan di ibukota itu, Dian memang ingin tampil sempurna. Dia memboyong delapan karyawan ke situ. Semua sibuk. Tata rias wajah, rambut, dan busana hijab, haruslah sempurna di panggung. Tak ada celah keliru.

Dan delapan orang itu sudah ahli pada bidang masing-masing. " Semua memang sudah ada bagiannya. Tapi tetap panik, deg-degan sampai keringat dingin,”ujar Dian yang sesekali meladeni pertanyaan Kusmiyati dari Dream.co.id.

Bukan hanya Dian. Desainer hijab yang sudah sohor dan malang melintang seperti Norma Hauri, Nurzahra, dan Restu Anggraini, juga terlihat sibuk alang kepalang. Empat wanita ini memang ditimpa tugas berat. Busana besutan mereka menjadi gong pembuka acara tahunan ini.

Ajang Jakarta Fashion Week ini memang terbilang akbar di tanah air. Ini pesta fashion bergengsi, yang kerap kali menjadi pintu pembuka kesuksesan para desainer. Pelataran pusat perbelanjaan yang ramai itu disulap menjadi arena catwalk.

Terik matahari memang tertahan di luar. Hawa sejuk dari pendingin menyiram ruangan. Tapi hawa di belakang panggung tetaplah menyesak panas. Para desainer hilir mudik. Model-model itu mematung “ disulap” para perias.

Pukul enam lebih 30 menit sore, para model itu sudah berbaris. Rapi. Lampu raksasa itu menyiram cahaya. Para penonton sudah menunggu. Berjejer rapi di muka panggung. Menunggu sajian fashion yang ditampilkan para perancang itu.

Lalu, satu per satu para model itu muncul dari balik panggung. Disambut semua mata. Bunyi dan kilatan kamera susul menyusul. Suasana makin riuh. Acara tahunan yang sudah lama ditungggu itu, resmi dihelat.

Selama setengah jam penonton disuguhi karya adibusana muslim terbaru. Para penonton memberi sanjungan. Mereka kagum. Busana Muslim kini bisa bersaing. Padu padan terlihat modis dan tentu saja tetap syari’i.

Tepuk tangan bersahutan di ruangan itu. Keringat yang bercucuran kini berbalas senyum bahagia dan hela napas lega. Rasa bangga dan puas membersit dari wajah pada desainer itu.

" Hawa di dalam panas, waktunya juga mepet-mepet tapi jadi keseruan tersendiri untuk kami semua. Terima kasih banyak atas semua dukungannya," kata Dian yang pada hajatan ini mengusung tema Miss Palembang in New York.

*****

Bagi para desainer, tampil dalam ajang ini adalah pintu pembuka menuju gemilang. Meski desainer seperti Dian Pelanggi sudah kondang, bahkan sohor ke manca negara. Pada September lalu, misalnya, Dian tampil memukau di New York Fashion Week. Di negeri Barrack Obama itu dia mengusung hijab dengan tema Nusantara.

Meski sudah melalangbuana ke banyak negeri, tampil di ajang Jakarta Fashion Week itu tetap mempunyai nilai tersendiri. Inilah ajang yang menjadi referensi para pecinta fesyen dan panggung untuk melihat tren tahun 2015.

Itu sebabnya para desainer itu sekuat tenaga tampil prima. Persiapkan harus sempurna. Dian Pelangi rela mengorbankan waktu satu bulan hanya untuk mempersiapkan desain-desain yang ditampilkan dalam ajang ini. Jenahara mengambil waktu lebih panjang, satu hingga dua bulan.

Dalam ajang sebesar ini, Dian Pelangi membawa amunisi berupa 12 koleksi yang diyakini menjadi tren 2015. Dian sengaja mempersiapkan koleksi-khusus untuk even sepenting ini.

Jenahara tak kalah sibuk. Sebanyak 24 koleksi pakaian diboyong. Lebih banyak dari Dian Pelangi. Jenahara memang tampil untuk dua peragaan busana dalam ajang ini.

Sementara Restu Anggraini membekali diri dengan 12 koleksi baru. Semuanya mengusung tema busana wanita karir. Fresh, young, dan sociable. Baik dalam urusan pekerjaan maupun pergaulan. Waktu dua bulan dibenamkan demi membesut koleksi-koleksi terbaru.

“ Koleksi-koleksi ini bercerita bagaimana wanita menikmati hidupnya dengan penuh semangat dan penuh percaya diri. Tanpa mempedulikan hal-hal negatif di sekelilingnya,” jelas Restu.

Berbeda dengan Dian dan Jenahara, bagi Restu, inilah ajang pembuktiaannya di kancah industri fesyen muslim. Merek busananya ETU, masuk dalam salah satu program Indonesia Fashion Forward. Inilah ajang persiapan bagi desainer yang secara khusus dipamerkan untuk pertama kalinya dalam Jakarta Fashion Week.

Ketiga desainer busana Muslim ini sama menilai bahwa inilah ajang penting. Pintu masuk ke pasar dunia. Gerbang yang akan membantu kepak sayap mereka ke dunia fashion.

*****

Skala hajatan ini sangat besar. Sukses di sini, masa depan sudah terbayang. Itu sebabnya begitu banyak desainer muda yang ingin tampil pada ajang ini. Sayang, kiprah busana muslim pada hajatan Jakarta Fashion Week ini sedikit terlambat.

Berlangsung untuk ketujuh kalinya, penyelenggara ajang ini baru memasukan karya adibusana hijab pada pagelaran tahun 2012. Saat itu baju muslim unjuk gigi dalam program Indonesia Fashion Forward Program.

“ Kami melihat potensi desainer busana muslimah sangatlah baik. Kenapa tidak kami rangkul mereka untuk semakin mengembangkan sayapnya ke dunia internasional,” kata Ketua Jakarta Fashion Week, Svida Alisyahbana.

Langkah merangkul para desainer dan pebisnis busana Muslim itu terbukti tepat. Empat tahun usai unjuk gigi, industri fesyen muslimah dunia mulai melirik Indonesia.

Svida memaparkan bahwa pasar busana hijab bisa melambung bahkan hingga ke manca negara. Sebab segmen ini sudah ramai dilirik pebisnis fesyen dunia. Dan besutan sejumlah desainer Indonesia itu sangat bagus. Besar peluangnya menembus pasar dunia.

Ucapan Svida bukan mengecap semata. Tengok saja data the Global Islamic Economy Report 2013 yang dikeluarkan Dinardstandar hasil kolaborasi Thomson Reuters. Bisnis pakaian muslim dunia pada 2012 mencapai US$ 224 miliar. Angka ini bakal melonjak menjadi US$ 322 miliar pada 2018.

Pasar busana muslim ini bertengger di posisi kedua dibawah Amerika Serikat yang bernilai US$ 494 miliar.

Dari daftar itu, Indonesia menduduki puncak tertinggi pasar busana muslim dunia. Sebanyak 72 persen produk muslim tersaji di negara Kepulauan ini di rentang 2012-2018.

Masyarakat Indonesia pada 2012 saja sudah menghabiskan uang hingga US$ 16,8 miliar. Dana ini menempatkannya sebagai negara muslim dengan pasar busana muslim terbesar ketiga di dunia.

“ Pasarnya ada. Keuntungan bisnis pun bisa didapat. Mereka yang biasanya hanya menerima puluhan pesanan, kini sudah bisa memprodUksi ratusan bahkan ribuan koleksi,” katanya.

Pada Jakarta Fashion Week, para desainer muslimah sama peluangnya dengan desainer fashion umum. Dian pelangi, Jenahara, bersama 16 desainer pakaian muslim yang lain, berpacu bersama 220 desainer di ajang ini.

Dan bukan hanya dari dalam negeri. Ajang ini diikuti 10 desainer internasional dari empat negara. Inggris, Jepang, Thailand, dan Korea Selatan mengirim para desainer ternama.

Ajang ini berlangsung dari 1 hingga 7 November 2014. Menampilkan 2.600 busana dengan 230 model. Gaung acara ini juga bergema ke sejumlah negara. Dari Asia hingga Eropa.

Svida, yang juga CEO Femina Group, memaparkan bahwa lebih dari 57 ribu runway Jakarta Fashion Week telah diunduh para jurnalis seantero dunia. Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Belanda ikut membawa gaung ajang ini kian meluas. Bahkan pusat mode dunia, Perancis tak ingin tertinggal mengangkat perhelatan akbar ini.

Dan sanjungan untuk desain busana Muslim terus mengalir. Direktur Kreatif Jakarta Fashion Week 2015, Diaz Persada, memberikan pujian tinggi bagi desainer pakaian muslim itu.

Indonesia Fashion Forward Program, kata Diaz, dimulai dari 2012. Generasi pertama Dian Pelangi. Tahun berikutnya muncul Jenahara dan Nurzahra. Dan pada generasi ketiga ada Etu dan Norma Hauri. “ Banyak sekali kemajuan. Mereka berkembang,” puji Diaz.

Gebrakan mengejutkan dilakukan Jenahara. Desainer hijab dengan karya-karya cantiknya ini menggaet L’Oreal Paris untuk pagelaran adibusananya. “ Jenahara membuat gebrakan baru di tahun ini,” kata Diaz.

Busana Muslim besutan para perancang muda itu, kian mendapat tempat di hati masyarakat. Banyak yang laku. Karya besar mereka lahir dari ketekunan. Mereka matang karena kerja keras. Dari cucuran keringat.

(Laporan: Kusmiyati dan Ervina Anggaraini)

Beri Komentar