Kisah Pilu Sepasang Kekasih Korban Sriwijaya Air SJ182 yang Pakai KTP Orang Lain

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Senin, 11 Januari 2021 18:14
Kisah Pilu Sepasang Kekasih Korban Sriwijaya Air SJ182 yang Pakai KTP Orang Lain
Sang cowok dipecat dari tempat kerja di Jakarta. Sejoli ini berniat cari kerja di Pontianak.

Dream - Berangkat ke Pontianak mencari kerja, dua orang warga asal Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), masuk dalam daftar penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh ke perairan Kepulauan Seribu, Sabtu 9 Januari 2021.

Kedua penumpang Sriwijaya Air itu merupakan pasangan calon suami istri. Keduanya berangkat ke Pontianak untuk mencari kerja. Rencananya, dalam waktu dekat, mereka akan menikah. Tetapi karena sang calon suami diberhentikan dari pekerjaan di Jakarta maka keduanya memutuskan untuk meninggalkan Jakarta ke Pontianak.

Kedua penumpang asal Ende ini tercatat dalam manifest penumpang atas nama Feliks Wenggo dan Sarah Beatrice Alomau dengan nomor seat 18 dan 17.

Namun, sesungguhnya nama yang tercatat dalam manifest penumpang itu, bukanlah nama sebenarnya. Kedua penumpang asal Ende ini terbang dengan pesawat nahas ini menggunakan identitas KTP dari orang lain.

1 dari 4 halaman

Identitas Asli

Nama asli dari penumpang yang tercatat atas nama Feliks Wenggo adalah Teofilus Lau Ura kelahiran 5 Maret 1998. Sedangkan calon istrinya baru diketahui nama panggilannya, Shelfi.

Perwakilan Keluarga Benediktus Beke mengatakan, dalam pembelian tiket pesawat Sriwijaya Air tujuan Jakarta-Pontianak, Theofilus menggunakan KTP keponakannya, Felix Wenggo. Sedangkan Selfi meminjam KTP temannya, Sarah Beatrice Alomau.

2 dari 4 halaman

KTP Palsu Untuk Membeli Tiket

" Mereka dua itu kan calon suami istri sama-sama orang Ende. Satu dari Detusoko dan yang satu dari Desa Pora. Kemudian mereka berangkat ke Pontianak itu dengan mempergunakan identitas yang bukan identitasnya sendiri atau identitas orang lain," kata Beke.

Ia mengakui, Feliks Wenggo saat ini berada di Jakarta dan dari pihak keluarga sudah meminta dirinya melapor ke polisi terkait KTP-nya dipinjam tanpa sepengetahuan yang bersangkutan.

" Waktu itu Olus (nama panggilan dari Teofilus Lau Ura), pinjam KTP bawa foto copy saja untuk pergi swab dan untuk pembelian tiket di penerbangan," ungkapnya.

 

 

 

3 dari 4 halaman

Mencari Pekerjaan di Pontianak

Dirinya juga merasa prihatin, pihak penerbangan bisa melayani pembelian tiket mempergunakan KTP foto kopi.

Kedua anggota keluarga mereka menggunakan KTP atau identitas orang lain ini bukan bermaksud negatif. Keduanya mau meninggalkan Jakarta untuk mencari kerja di Pontianak.

Di mana saat pembatasan sosial di Jakarta, Olus sudah menganggur dan sebentar lagi akan menikah. Sehingga mereka berencana mencari kerja di Pontianak.

" Dia sudah menganggur dan sebentar lagi keduanya mau menikah tetapi tidak mempunyai uang sehingga walaupun gunakan identitas KTP orang lain, keduanya nekat berangkat ke Pontianak untuk mencari kerja di sana," ungkap Benedikus Beke.

 

 

4 dari 4 halaman

Berharap Jasad Ditemukan

Mewakili pihak keluarga, Benediktus Beke berharap supaya jasad almarhum dan almarhumah segera ditemukan.

" Dalam kondisi apapun, kami sudah menerima sebagai sebuah musibah. Olus ini kan tulang punggung satu-satunya dalam keluarga. Mereka di dalam keluarga juga bukan orang berpunya. Sekarang kehilangan segalanya. Cuma tinggal mamanya dengan adiknya. Mereka berdua di rumah. Bapanya sudah lama pergi ke Malaysia dan sampai sekarang belum pulang," dia menjelaskan.

Dirinya sungguh berharap, dengan berbeda identitas jangan sampai menghilangkan hak-hak keduanya sebagai warga negara dan sebagai penumpang dalam penerbangan itu.

" Soal perbedaan KTP dan identitas hanya bersifat administratif tetapi benar jasad itu adalah keluarga kami. Kami minta supaya hak-hak dia diberikan baik dari Perhubungan maupun dari Jasa Raharja. Kami minta media massa juga mengekspos hal-hal yang positif agar dia bisa mendapatkan hak-hak nya dengan baik secepat mungkin," ungkap Benediktus Beke.

Ia menjelaskan, hari ini ibunda dari Teofilus Lau Ura sudah berada di Kota Ende dan rencananya akan berangkat ke Jakarta karena dari pihak Forensik Mabes Polri akan mengambil sampel DNA ibunya untuk pencocokan dengan jasad korban yang ditemukan.

Sumber: liputan6.com

Beri Komentar