Ilustrasi Berdoa (Foto: Shutterstock.com)
Dream - " Fabiayyi alai rabbikuma tukadzdziban." Ini disebutkan beberapa kali dalam Surat Ar Rahman di Alquran.
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, arti ayat tersebut adalah " Maka nikmat Tuhanmu yang manakah hendak kau dustakan?"
Ayat ini sering kali kita dengar. Para ustaz, dai, kiai, ulama juga kerap mengutip ayat ini dalam ceramah maupun materi keagamaan yang mereka sampaikan.
Maksud dari ayat ini adalah untuk mengingatkan kita agar selalu bersyukur. Karena nikmat dari Allah selalu hadir dalam setiap detik kehidupan manusia.
Juga sebagai pengingat manusia agar tidak menyombongkan diri. Karena tanpa nikmat Allah, manusia tidaklah berarti apa-apa.
Setiap kali mendengar ayat tersebut, dianjurkan menjawabnya dengan doa ini. Doa tersebut ada dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Jabir RA, dari Rasulullah Muhammad SAW.

La bisyaiin min ni'amika rabbana nukadzdzibu fa lakal hamdu.
Artinya,
" Tidak satupun dari nikmat-Mu, wahai Tuhan kami, kami dustakan. Bagi-Mu segala puji."
Dream - Makan, kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan. Makanan memberikan energi agar tubuh kita bisa beraktivitas.
Makan juga merupakan kenikmatan tersendiri. Sebab kita merasakan lezatnya rasa masakan.
Selain itu, makanan juga bisa menjadi sarana mendekatkan kita dengan orang lain. Dengan makanan bisa terjalin silaturahmi.
Namun begitu, kita harus tetap memperhatikan adab. Jangan sampai terlalu banyak memasukkan makanan ke tubuh.
Ketika kita sudah merasa kenyang, dianjurkan untuk berhenti makan. Kemudian berdoa dengan doa yang sering diucapkan Rasulullah Muhammad SAW.

Alhamdulillahi hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fihi ghoiro makfurin wala muwadda’in.
Artinya,
" Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik dan diberkahi, yang senantiasa tidak diinkari nikmatnya dan tidak terputus."
Dream - Makan dan minum jadi aktivitas yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Tidak ada satupun orang yang mampu bertahan hidup dalam jangka waktu lama tanpa makanan apalagi minuman.
Namun demikian, dalam Islam makan dan minum tidaklah berkaitan dengan aktivitas syariat. Karena ini merupakan kebutuhan dasar setiap makhluk yang bermakna aktivitas biasa. Hukumnya juga sebatas mubah, sehingga tidak berdampak pada pahala dan dosa.
Meski begitu, makan dan minum bisa diubah menjadi aktivitas ibadah. Sehingga makan dan minum bisa menghasilkan pahala. Bagaimana caranya?
Dikutip dari Islami, kunci mengubah makan dan minum dari aktivitas mubah jadi ibadah adalah pada niat. Ketika kita berniat makan untuk ibadah, aktivitas tersebut sudah mengandung pahala.
Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya 'Ulumuddin menjelaskan bagaimana generasi salafush shalih membiasakan diri menjadikan makan sebagai aktivitas ibadah.
" Sesungguhnya aktivitas makan merupakan bagian dari agama. Untuk melakukannya, Tuhan Pemilik semesta slam telah membeberkan tuntunan, dengan firman yang Maha Benar dalam segala Firman-nya: 'Makanlah kalian dari segala yang baik-baik. Lalu lakukan amal yang baik.' Berbekal firman ini, maka barangsiapa yang mendahului aktivitas makannya, karena niat mencari pertolongan dalam menuntut ilmu dan beramal kebaikan, serta niat mencari kekuatan untuk melaksanakan suatu ketaatan, maka tidak patut baginya membiarkan dirinya, aktivitas makannya, sebagai yang kosong dari niat kebaikan itu, sehingga lepas kendali menyerupai aktivitas makannya hewan di tempat gembalaan. Makan merupakan bagian dari sarana yang penting bagi agama. Ia bisa menjadi instrumen terbitnya sinar-sinar agama."
Dalam pandangan Imam Al Ghazali, sinar agama yang dimaksud yaitu menjaga adab dan memperhatikan sunah dari makan dan minum. Semua itu akan menjadi pengendali diri bagi orang-orang bertakwa.
" Sesungguhnya yang dimaksud dengan sinarnya agama adalah penjagaan adab saat makan dan minum, memperhatikan sunah-sunah dalam makan dan minum, yang kesemua itu merupakan tugas penting bagi seorang hamba dan menjadi pengendali diri bagi orang-orang yang bertakwa, sehingga hidupnya seolah bertimbangkan pedoman syariat, bergerak mengendalikan syahwat makannya khususnya dari serangannya. Akhirnya jadilah ia sosok yang berhasil mempertahankan diri dari dosa akibat syahwat makan itu, sehingga menariknya kepada memperoleh pahala, bahkan meski harus mengikuti dorongan keinginan itu."
Karena hukumnya mubah, bisa jadi makan dan minum menimbulkan dua dampak, pahala atau justru kesia-siaan. Makan minum yang tidak berpahala menyerupai aktivitas hewan.
Pandangan ini semata bukan hendak menjelekkan aktivitas makan dan minum, melainkan mengingatkan akan pentingnya niat ibadah. Niat itulah yang akan membedakan aktivitas makan minum manusia dengan hewan.
Hal yang dibenarkan dalam syariat adalah membawa makan minum ke atas ibadah. Aktivitas ini dapat menjadi perangkat kuatnya menjalankan ibadah dan melakukan amal kebaikan serta ketaatan.
Sumber: Islami.co