Biota Laut Terdampar di Maluku Akibat Upwelling Bukan Gempa, Fenomena Apa Itu?

Reporter : Maulana Kautsar
Selasa, 15 Oktober 2019 07:00
Biota Laut Terdampar di Maluku Akibat Upwelling Bukan Gempa, Fenomena Apa Itu?
Fenomena itu juga kerap membawa plankton atau zat hara.

Dream - Warga di Kecamatan Tanimbar Utara, Maluku resah akibat fenomena terdamparnya ratusan ikan berbagai jenis biota laut di pantai Desa Lelingulan, pada 13 Oktober 2019 lalu. 

Kejadian langka tersebut memicu spekulasi adanya kaitan dengan gempa yang menguncang disusul beberapa getaran perut bumi di Maluku beberapa waktu lalu. 

Menanggapi fenomena tersebut, ahli tsunami Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari, memastikan belum ada keterkaitan antara biota laut permukaan dengan aktivitas kegempaan dari laut yang biasanya bersumber pada lempeng dengan kedalaman lebih dari 1.000 meter.

" Biota-biota yang selama ini seringkali mati dalam jumlah besar kemudian terdampar di pantai adalah biota permukaan atau biota laut dangkal-karang, bukan biota laut dalam," ujar Muhari, Senin, 14 Oktober 2019.

Muhari menjelaskan, fenomena terdamparnya biota laut dangkal sering kali disebabkan fenomena upwelling.

Fenomena ini adalah arus naik ke permukaan yang biasanya membawa planton atau zat hara yang menjadi makanan biota laut dangkal, bukan merupakan efek aktivitas lempeng atau sesar.

Fenomena yang terjadi tidak merujuk pada tanda-tanda akan muncul gempa besar.

1 dari 5 halaman

Ribuan Unit Rumah Rusak

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo mengatakan, BMKG mencatat 1.516 gempa susulan pascagempa Maluku M 6,5 yang terjadi pada 26 September lalu.

Dari jumlah tersebut, 175 gempa susulan dirasakan oleh warga. Terkait dengan gempa tersebut, perkembangan terkini per 14 Oktober 2019 BNPB mencatat 148.619 warga masih mengungsi.

Total rumah rusak di wilayah terdampak, yaitu Kabupaten Maluku Tengah, Seram Bagian Barat dan Kota Ambon mencapai 6.355 unit dengan rincian total rusak berat 1.273 unit, rusak sedang 1.837 unit dan rusak ringan 3.245 unit.

Korban meninggal tercatat 41 jiwa dan mereka yang masih terluka sebanyak 1.602.

Kabupaten Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat masih melakukan upaya penanganan darurat. Sedangkan Provinsi Maluku dan Kota Ambon sudah melakukan upaya-upaya transisi darurat ke pemulihan.

2 dari 5 halaman

Ribuan Ikan Mati Misterius di Pantai Ambon, Warga Geger

Dream - Ribuan ikan ditemukan dalam kondisi mati dan terdampar di pantai wilayah Kecamatan Litimur Selatan, Kota Ambon, Provinsi Maluku, sejak Sabtu 14 September 2019.

Warga Desa Laehari, Vin Maitimu, merasa khawatir dan menduga fenomena ini sebagai pertanda bakal terjadi tsunami. Sehingga pada Sabtu malam, mereka bersiap menyelamatkan barang berharga dan dokumen penting.

" Bahkan saat malam hari senantiasa berjaga-jaga sehingga terganggu waktu tidur karena mengkhawatirkan kemungkinan tsunami melanda secara tiba-tiba," ujar Vin, dilaporkan Liputan6.com, Senin 16 September 2019.

Menurut Vin, belum ada penjelasan resmi dari Pejabat Kepala Desa Leahari, Jhon Sitanala, dan perangkat desa terkait. " Saya konfirmasi ke Pejabat Kepala Desa diberitahu bahwa staf Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Ambon bersama Balai Karantina Ikan Ambon dan UPTD terkait telah mengambil sampel ikan yang mati untuk diteliti," ujar dia.

3 dari 5 halaman

Laporan Warga

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon, Steven Patty, mengatakan, dinas bersama Balai Karantina Ikan Ambon dan Unit Pelaksana Teknis Daerah masih meneliti penyebab ribuan ikan di pantai Desa Leahari dan Rutong.

" Dugaan sementara karena ledakan getaran yang kuat, sehingga ikan-ikan mati dengan kondisi tulang retak, dan mata copot," ujar Steven.

Dia menambahkan, masyarakat setempat mengaku mengonsumsi ikan-ikan tersebut. Namun belum ada laporan adanya warga yang keracunan. " Sehingga kami masih terus melakukan analisa kematian ikan ini," kata dia.

Sementara itu, akun Facebook, Glen Kailuhu Leiwakabessy mengunggah foto ikan-ikan yang mati di pantai.

" Sudah dua hari ikan mati terdampar di Pantai Rutong dan Leahari, belum tahu penyebabnya," tulis Glen.

4 dari 5 halaman

Misteri Ratusan Paus Terdampar di Pantai, Pertanda Apa?

Dream - Ratusan paus pilot sirip pendek terdampar di Hamelin Bay, Australia Barat, Jumat 23 Maret 2018. Dari 150 paus yang terdampar, hanya 15 yang selamat dan dilepas kembali ke laut lepas.

Evakuasi pemindahan binatang bernama latin Globicephala macrochynchus itu sempat mengalami kendala ketika angin dan badai tropis melanda. Hingga pukul 00.00 malam waktu setempat, sebagian besar paus pilot sirip yang terdampar mati.

" Sayangnya, sebagian besar paus yang terdampar tidak selamat," kata salah satu relawan, Jeremy Chick, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari ABC Perth, Jumat 23 Maret 2018.

Untuk sementara waktu, pihak berwenang telah menutup Hamelin Bay. Mereka juga memperingatkan adanya hiu di area perairan itu.

Menurut WA Parks and Wildlife Service, paus pilot sirip pendek memang sering mendamparkan diri secara massal.

5 dari 5 halaman

Berpindah-pindah

Insiden terdamparnya paus paling parah di Australia Barat terjadi pada 1996. Ketika itu sebanyak 320 paus pilot sirip panjang (Globicephala melas) ditemukan terdampar di barat daya Dunsborough, sebelah barat daya Australia Barat.

Kejadian serupa terjadi di Farewell Spit, Selandia Baru, pada Februari 2017. Waktu itu, 416 paus pilot sirip panjang ditemukan terdampar. Fenomena terakhir itu disebut insiden terburuk sepanjang sejarah negara itu.

Petugas dari WA Parks and Wildlife Service telah mengambil sampel DNA paus yang mati di Hamelin Bay untuk mencari petunjuk mengapa hewan-hewan laut itu terdampar.

Paus pilot sirip pendek agak sulit untuk dibedakan dengan kerabatnya, paus pilot sirip panjang. Keduanya banyak memiliki kesamaan fisik, hanya saja paus pilot sirip panjang cenderung lebih besar dan mempunyai ciri khas tertentu.

Paus pilot sirip pendek hidup secara berpindah-pindah tanpa pola migrasi yang diketahui secara pasti. Tetapi, pergerakan paus umumnya dipengaruhi oleh keberadaan makanan.

Mereka cenderung bergerak mendekati pantai ketika musim pemijahan cumi-cumi tiba.

Sumber: Liputan6.com/Afra Augesti

Beri Komentar