KAA (4): Gamal Abdul Nasser, Air Kobokan dan Kolonialisme

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 20 April 2015 18:14
KAA (4): Gamal Abdul Nasser, Air Kobokan dan Kolonialisme
Semangat kesederhanaan Bandung membuatnya menjadi Singa Padang Pasir. Menasionalisasi Suez serta mengusir kolonialisme Inggris dan Perancis.

Dream - Rumah Makan Mahdrawi siang itu terlihat sibuk. Hari itu, sudah masuk minggu ketiga bulan April 1955. Rumah makan yang terletak di Jalan Dalam Kaum Bandung itu memang sohor dengan makanan lezat. Sate kambing adalah salah satu hidangan kondang dari restoran itu.

Siang itu mereka akan menerima tamu negara peserta Konferensi Asia Afrika (KAA) untuk santap siang. Bukan tanpa alasan rumah makan itu jadi tempat singgah pimpinan negara. Salah satunya, karena restoran itu adalah langganan Presiden Soekarno sejak dia masih menjadi mahasiswa di ITB. Kelezatan masakannya membuat restoran itu jadi salah satu tempat tujuan peserta KAA.

Tak lama, rombongan pemimpin negara peserta KAA  tiba. Salah satunya adalah Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser.  Soerkano tidak ikut dalam rombongan. Perdana Menteri India, Jawaharlal Nehru, juga terselip dalam rombongan.

Mereka pun langsung memesan makanan. Siang itu mereka memesan sate kambing dan nasi rames.

Seperti biasa, sebelum pesanan datang, para pelayan meletakkan kobokan untuk mencuci tangan di meja tamu. Kobokan itu ditaruh dalam mangkok-mangkok kecil alumunium.

Tak disangka, kobokan cuci tangan tersebut diminum oleh Gamal Abdul Nasser dan Nehru. Mereka mengira kobokan itu gelas minuman. Para pelayan pun kaget.  Mereka langsung  memanggil pemilik restoran, Padlie Badjuri.

Dengan bahasa Inggris terbatas, Padlie pun segera melarang anggota delegasi untuk meminum air kobokan itu. Ia menerangkan bahwa air kobokan itu bukan untuk diminum. Tapi untuk cuci tangan.

Sadar akan kesalahannya, Gamal Abdul Nasser  dan Nehru tidak murka. Mereka justru tertawa karena kesalahan itu.

" Untung baru sedikit. Saya langsung cegah," ujar Padlie. Kesaksian Padlie itu tertuang dalam buku “ Di Balik Layar Konferensi Asia Afrika 1955, Warna-Warni di Mata Pelakunya” yang akan dibagikan kepada peserta konferensi KAA 2015.

Rumah Makan Mahdrawi sendiri sudah tutup. RM Madrawi tidak beroperasi lagi sejak tahun 1987. Dulu, rumah makan tersebut terletak di dekat Masjid Agung Bandung.

Tapi kenangan pemilik rumah makan itu menunjukkan betapa kesederhanaan pimpinan Asia Afrika saat itu, tak terkecuali Gamal Abdul Nasser.

***


1 dari 3 halaman

Mesir, Setahun Kemudian

Mesir, setahun kemudian.

Pria itu berdiri tegap. Lantang bicara di hadapan jutaan rakyat. Suaranya menggelegar, bak halilintar memecah sunyi. Sorak sorai pun melantun, pertanda kebahagiaan atas kemenangan telah berada dalam genggaman.

" Dor... " Suara tembakan itu tiba-tiba menyalak dan berulang sampai delapan kali. Teriakan histeris dan kepanikan muncul bersamaan dengan suara itu. Pria yang berdiri di podium itu seketika membungkuk. Namun dia tidak bergerak dari posisinya.

Bunyi letupan berhenti, tetapi kepanikan masih saja terjadi. Pria itu kembali berdiri tegak. Sorot matanya tajam dan alisnya mengernyit. Segera ia meraih mikrofon di hadapannya.

“ Biarkan mereka membunuhku, itu tidak akan menghalangiku sejauh aku menanamkan kebanggaan, kehormatan, dan kebebasan kalian,” teriak pria itu, Gamal Abdul Nasser. 

“ Jika Gamal Abdul Nasser harus mati, kalian semua harus menjadi Gamal Abdul Nasser! Gamal Abdul Nasser adalah kalian dan dari kalian, dan dia siap mengorbankan hidupnya untuk bangsa!” lanjutnya.

Insiden percobaan pembunuhan itu terjadi di hari ketika Inggris menyatakan menarik pasukannya dari Mesir.  Inggris, bersama Perancis dan Israel kala itu kalah dalam perebutan hak atas Terusan Suez. 

Hal ini bermula ketika Nasser selaku Presiden Mesir menyatakan Terusan Suez milik Negeri Firaun sepenuhnya. Keputusan sangat berani itu diambil, meski Nasser harus berhadapan dengan negara-negara digdaya. Ia pun  paham, keputusan menasionalisasi terusan yang dibuka pada tahun 1869 itu dapat memicu peperangan. Tapi ia memilih mengabaikan resiko itu.

“ Bukankah terusan itu terusan milik kita, yang dibayar dengan 120.000 jiwa rakyat Mesir,” katanya dalam pidato di hadapan rakyat Mesir pada tanggal 26 Juli 1956.

Terusan Suez awalnya dibangun atas kerjasama antara Pemerintah Inggris dan Perancis, melalui perusahaan yang bernama Suez Canal Company. Perusahaan ini bertugas mengelola tarif hilir mudik kapal-kapal yang melintasi perairan buatan itu. Hasil dari pengelolaan itu sebagian besar masuk ke kas dua negara tersebut.

Kedudukan terusan itu sangat strategis, terutama bagi kegiatan ekonomi di Eropa. Melalui Terusan Suez, jarak tempuh kapal-kapal niaga yang membawa komoditas dari Asia ke Eropa menjadi jauh lebih pendek. Tetapi, manfaat itu hanya dirasakan oleh masyarakat Eropa khususnya Inggris dan Perancis. Sementara sang pemilik tanah, rakyat Mesir, hanya mendapat bagian yang sangat sedikit.

Fakta itu membuat Nasser kecewa dan mengambil keputusan dramatis dengan mengambil alih terusan tersebut. Alhasil, para negara digdaya itu benar-benar marah. Mereka melancarkan invasi militer atas keputusan Nasser. Terjadilah peperangan hebat antara Mesir dengan koalisi negara-negara tersebut. Situasi menjadi semakin rumit akibat keterlibatan Amerika Serikat, yang lebih mendukung invasi Inggris, Perancis, dan Israel ketimbang membantu Mesir.

Namun demikian, Nasser bukan pemimpin berkarakter lemah. Ia kemudian menggalang dukungan di antara negara-negara Arab. Dukungan itu menjadi modal bagi Nasser untuk melakukan perlawanan.

Perlawanan itu ternyata mendapat dukungan dari Uni Soviet, yang bersedia mengirim pasukan untuk membantu Mesir membalas invasi Inggris, Perancis, dan Israel. Hal ini membuat Amerika kalang kabut, lantaran misi membendung Komunisme semakin berat. Di satu sisi, Amerika harus menghadapi krisis Hongaria yang membuka potensi menguatnya dukungan terhadap Komunisme Soviet. Sementara di waktu yang bersamaan, krisis Suez terjadi.

Hal ini membuat Amerika kebingungan dan akhirnya memohon agar tiga negara tersebut menghentikan invasi. Tetapi, permintaan itu ditolak Inggris, Perancis dan Israel. 

Amerika kemudian meminta bantuan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk mengeluarkan perintah agar ketiga negara tersebut menarik pasukannya dari Mesir. Ketiga negara tersebut menurut pada teguran keras PBB.

Invasi berhenti, dan Terusan Suez menjadi milik Mesir sepenuhnya.

***

Hingga saat ini...

2 dari 3 halaman

Ilham Pertemuan KAA Bandung 1955

Ilham Pertemuan KAA Bandung 1955

Hingga saat ini, keputusan Nasser menasionalisasi Terusan Suez tetap dianggap sebagai keputusan berani di dunia internasional. Padahal, pemimpin Mesir sebelumnya tidak pernah ada yang segalak dia. Lantas, apa yang membuat Nasser begitu “ galak”? Jawabannya, Konferensi Asia Afrika pertama yang digelar pada tanggal 18-23 April 1955 di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Nasser begitu terilhami oleh penyelenggaraan KAA. Konferensi tingkat tinggi itu begitu berkesan baginya. Lantaran sebelumnya belum pernah ada momen sebesar itu yang bisa membuat sebagian besar negara dunia bersikap satu suara. Ditambah lagi, konferensi tersebut dihelat pertama kali oleh negara yang masih berumur 10 tahun, Indonesia, dengan satu semangat, menghapus segala bentuk penjajahan.

Perhelatan itu membuat Nasser mengenal dan akrab dengan sosok Soekarno. Ia merasa memiliki kesamaan dengan ‘Bapak Pendiri’ Indonesia tersebut, yaitu sama-sama berjuang melawan kolonialisme. Sama seperti Soekarno, Nasser bisa memerintah Mesir melalui perjuangan melawan penjajahan.

Kedekatan dengan Soekarno membuat Nasser terlibat aktif dalam perpolitikan dunia Bersama Soekarno, Presiden Yugoslavia Joseph Bros Tito dan Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, Nasser membangun Gerakan Non-Blok (GNB). GNB bertujuan menciptakan perdamaian dunia dan menjalankan politik dunia tanpa berpihak pada kubu manapun, baik Timur yang dikaitkan dengan Komunisme maupun Barat yang dikaitkan dengan Liberalisme.

Bagi Nasser, Soekarno merupakan sahabat yang begitu dekat. Ketika ia menghadapi tekanan dunia, Soekarno, atas nama Indonesia, turun tangan membantu tanpa harus diminta. Kedekatan itu kemudian diabadikan oleh Nasser menjadi nama jalan yang membentang di dekat Piramida Giza: Jalan Soekarno. 

Ide tentang GNB yang dicetuskan bersama Soekarno diyakini selalu relevan. Baginya, setiap negara bebas berpendapat tanpa ada batasan apapun. Hal itu tidak mungkin bisa terjadi jika dunia hanya dikuasai dua kubu, Timur-Barat. Sehingga, bagi Nasser, GNB memberikan peluang bagi setiap negara bicara tanpa harus ada pembatasan melalui afiliasi.

“ Non-blok yang murni bukan berarti selalu bersikap netral terhadap segala isu penting yang muncul. Non-blok yang murni berarti menilai masalah sesuai realita, dan untuk mengekspresikan pendapat tanpa ada batasan hubungan maupun aliansi,” kata Nasser kepada jurnalis Sunday Times, David Morgan. 

***

Tatkala masih muda...

3 dari 3 halaman

Revolusi Pengubah Wajah Mesir

Revolusi Pengubah Wajah Mesir

Tatkala masih muda dan menjadi mahasiswa, Nasser melibatkan diri dalam demonstrasi yang digelar oleh Partai Muda Mesir (Youth Egypt Party) di Alexandria menentang kebijakan Raja Mesir, Farouk I. Ini lantaran Farouk lebih mementingkan diri sendiri dan terlalu menghamba pada Inggris. 

“ Saya dimasukkan ke penjara sebagai mahasiswa yang antusias (pendukung partai) dan begitu marah,” katanya kepada Sunday Times.

Pemenjaraan dirinya itu ternyata malah menempa dan membentuk pola pikir dan ideologi Nasser. Sebebas dari penjara, Nasser mendaftar pada pendidikan militer.

Ia meraih sejumlah prestasi dan karirnya cukup bagus. Bersama beberapa kolega seperti Zakaria Mohd El-Din dan Muhammad Anwar Sadat, Nasser mendirikan organisasi ‘Perwira Bebas’ (The Free-Officers). Organisasi ini bersifat rahasia dan lahir atas ketidaksukaan terhadap pemerintahan Farouk yang rakus dan begitu dekat dengan Inggris.

Melalui organisasi ini, Nasser meluaskan pengaruh. Alhasil, ia mendapat dukungan dari sejumlah pejabat militer yang juga tidak suka dengan Farouk. Ketidaksukaan tersebut memuncak, dan dukungan terhadap Nasser semakin menguat.

Tepat pada tanggal 23 Juli 1952, Nasser yang berpangkat kolonel mengerahkan seluruh pasukan dalam kudeta militer menggulingkan kekuasaan Farouk. Kudeta itu berhasil dan mengubah wajah Mesir dari bentuk kerajaan menjadi republik. 

Atas kudeta yang dikenal dengan Revolusi Mesir itu mengantarkan Nasser menjadi pemegang tampuk kekuasaan sebagai presiden. Ia kemudian membuat manuver yang menggetarkan dunia.

Selain krisis Suez, Nasser secara tegas menolak kehadiran Israel. Bagi dia, Israel adalah potret nyata penjajahan yang harus dibasmi. Ia pun berjanji terus berjuang demi membebaskan Palestina.  

Semangat Nasser barangkali adalah cerminan dari semangat dan kesederhanaan para pemimpin negara yang dIsatukan dalam Konferensi Asia Afrika Bandung. Tanpa pertemuan sederhana di Bandung, barangkali para pimpinan negara itu tak punya nyali besar melawan kolonialisme…. (eh)

Beri Komentar