Hikayat CEO Sido Muncul Jadi Salah Satu Orang Terkaya Indonesia

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 31 Januari 2022 18:51
Hikayat CEO Sido Muncul Jadi Salah Satu Orang Terkaya Indonesia
Sejarahnya diawali dari penjual jamu godokan rumahan.

Dream – Gambar logo itu adalah alat pembuat jamu tradisional. Terdiri dari batu panjang yang berfungsi sebagai penghancur ramuan. Juga wadah batu untuk penampung ramuan jamu.  Tapi bukan itu yang menarik perhatian. Melainkan foto hitam putih seorang wanita dewasa dan anak kecil yang dia pangku. Ya, itulah logo Sido Muncul, sebuah produsen jamu terbesar di Indonesia.

Foto pada logo itu adalah foto Nyonya Rakhmat Sulistyo (Go Djing Nio) bersama cucu kesayangannya, Irwan Hidayat. Saat ini Irwan merupakan Chief Executive Officer (CEO) atau Presiden Direktur PT Sido Muncul. Irwan Hidayat  adalah generasi ketiga penerus perusahaan jamu tersebut.


Ada kisah menarik di balik pemasangan foto itu. Awalnya Nyonya Rakhmat hendak memasang foto dirinya dengan sang suami. Namun dia merasa foto itu justru akan terasa aneh.

Akhirnya Nyonya Rakhmat memilih foto berdua dengan Irwan sebagai pendamping dalam foto di logo Sido Muncul. Dan hingga saat ini, logo Sido Muncul yang memuat foto Nyonya Rakhmat bersama cucunya itu tak pernah berubah. Padahal perusahaan Sido Muncul sudah berdiri selama tujuh dekade.

Irwan bercerita saat kecil dia sering sakit-sakitan. Dalam tradisi Tionghoa, jika seorang anak sakit, maka harus diambil sebagai anak angkat. Karena itu Irwan akhirnya diadopsi neneknya Nyonya Rakhmat Sulistyio dan diangkat sebagai seorang anak. Mau tak mau, Irwan juga mengikuti bagaimana sang nenek jatuh-bangun membangun bisnis jamu sejak awal.


***

Awalnya, kakek dan nenek Irwan, pasangan suami istri Siem Thiam Hie dan Nyonya Rakhmat Sulistyo, merintis toko roti dengan nama Roti Muncul di Yogyakarta.

Pada tahun 1930, Nyonya Rakhmat Sulistyo mulai meracik jamu masuk angin yang kini dikenal dengan nama Tolak Angin. Nyonya Rakhmat Sulistyo adalah penemu formula Tolak Angin. Bentuknya masih berupa rempah-rempah, seperti jahe, adas, kayu ules, daun mint, dan daun cengkeh yang harus digodok sebelum diminum.

Sepuluh tahun kemudian, nenek dari Irwan Hidayat itu mulai memasarkan jamu godokan itu di rumahnya yang berlokasi di Jalan Ketandan nomor 8 Yogyakarta.

Pada tahun 1949, sang nenek dan kakek terpaksa mengungsi ke Semarang karena Agresi Militer Belanda ke-II di Yogyakarta. Irwan yang ketika itu masih berusia dua tahun ikut serta.

Pada tahun 1951 di Semarang, Nyonya Rahmat mendirikan usaha jamu dengan merek Sido Muncul.

Karena setiap jamu memerlukan logo di samping merek, maka dibuatlah logo alat pembuat jamu tradisional dan foto Nyonya Rakhmat dan cucunya Irwan. Rumah pertama pembuatan jamu Sido Muncul lahir dengan bantuan tiga karyawan perempuan di Jalan Bugangan nomor 25, Semarang.

Logo Sido Muncul


" Saya belum mengenal Tolak Angin ketika masih berbentuk rempah-rempah. Yang saya tahu pada 1951 yang dibuat sudah berbentuk serbuk," ujar Irwan seperti dikutip Liputan6.com.

Lalu pada 1953, orangtua Irwan menyusul pindah ke Semarang. Saat itu kedua orangtuanya memutuskan untuk ikut berinvestasi di Sido Muncul dengan membeli 50 persen saham Sido Muncul.

Pabrik jamu pertama Sido Muncul berdiri di tahun itu. Didirikan di Jalan Mlaten Trenggulun nomer 104, Semarang. Sido Muncul sendiri memiliki arti “ impian yang terwujud.”

Pada tahun 1970, ketika Nyonya Rakhmat sudah berusia 73 tahun diputuskan untuk memberikan Sido Muncul seutuhnya kepada orangtua Irwan sebagai generasi kedua penerus Sido Muncul. Lalu belakangan orang tua Irwan kemudian menyerahkannya ke Irwan dan adik-adiknya.

Kala itu, Sido Muncul masih berupa pabrik kecil berukuran 700 meter. Irwan bercerita bagaimana usaha jamunya ini sempat berjalan lambat sejak tahun 1970 hingga tahun 1990.

Alhasil, Sido Muncul pernah terlilit utang hingga Rp 46 juta. Padahal saat itu, omzetnya hanya berkisar Rp 900 ribu. Sehingga, beberapa barang milik Sido Muncul disita.

Hingga suatu hari, Irwan kemudian mendapat ide untuk melakukan promosi di radio di Jakarta dengan produk jamu ramuan jamu Madura merek Pasutri produksi Sido Muncul. Dengan cara promosi dan strategi yang tepat, dalam dua bulan omzet Sido Muncul meroket dari Rp 900 ribu menjadi Rp 12 juta. Utang sebesar Rp 46 juta pun akhirnya berhasil dilunasi dalam waktu enam bulan saja.

Dari situ perusahaan Sido Muncul kemudian terus berkembang pesat. Bahkan, pada 18 Desember 2013, Sido Muncul secara resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode emiten “ SIDO.”

Saham ini termasuk saham idola bagi investor di pasar saham karena rekam jejak yang stabil dalam kinerja perusahaannya.

Kalau tidak percaya, lihatlah laporan pembukuannya pada tahun 2021. Pada tahun 2021, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) mencatat kinerja positif sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2021. Perseroan membukukan pertumbuhan penjualan dan laba bersih double digit.

Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk membukukan penjualan Rp 2,77 triliun hingga September 2021. Realisasi penjualan tumbuh 22,99 persen dari periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 2,25 triliun.

Kontribusi penjualan itu antara lain dari jamu herbal dan suplemen naik 22,59 persen dari Rp 1,44 triliun hingga kuartal III 2020 menjadi Rp 1,76 triliun hingga kuartal III 2021.

Dari penjualan makanan dan minuman juga meningkat. Kontribusi penjualan makanan dan minuman naik 24,52 persen dari Rp 722,18 miliar hingga kuartal III 2020 menjadi Rp 899,30 miliar hingga kuartal III 2021.

Sementara itu, dari penjualan farmasi naik 17,4 persen menjadi Rp 109,04 miliar hingga September 2021 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 92,83 miliar.

Laba bruto tumbuh 28,32 persen. Perseroan membukukan laba bruto Rp 1,56 triliun hingga September 2021 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,21 triliun.

Dengan demikian, laba usaha tumbuh 37 persen dari Rp 786,04 miliar hingga kuartal III 2020 menjadi Rp 1,07 triliun hingga kuartal III 2021.

***

Irwan Hidayat menegaskan, kunci utama agar sebuah perusahaan mampu bertahan dari generasi ke generasi ialah rukun sesama saudara.

" Kalau di keluarga saya, orangtua saya, nenek saya terus papa mama saya itu selalu mengajarkan untuk selalu  puasa Senin Kamis, lalu enggak makan daging. Untuk apa itu. Dia hanya bilang supaya anaknya rukun," kata Irwan.

Irwan juga menegaskan bila kerukunan yang terjalin menjadi fokus utama untuk selalu mengembangkan perusahaan ke arah yang lebih baik.

" Saya dan adik-adik saya mengikuti bila logikanya memang benar seperti itu. Jadi kalau kita ribut energi kita habis. Kita bukan tidak pernah berbeda pendapat, tapi kita harus menyadari dengan baik pesan orangtua seperti apa. Makanya itu kami berusaha mati-matian untuk tetap rukun karena kesadaran itu," ujarnya.

Itulah juga mengapa PT Sido Muncul kemudian melakukan go public. Salah satu tujuannya untuk menghindari konflik keluarga yang biasa terjadi.

Berkat kiat itu, tak mengherankan Presiden Direktur PT Sido Muncul Irwan Hidayat sempat tercatat sebagai orang terkaya Indonesia ke-17 versi majalah Forbes pada tahun 2020.

Kekayaan Irwan pada tahun itu meningkat 41 persen menjadi U$ 1,55 miliar, atau sekitar Rp 21,8 triliun berkat penjualan obat herbal dan jamu di tengah pandemi Covid-19.

Namun demikian, cucu dari pendiri Sido Muncul ini coba merendah dengan mengaku kekayaan yang didapatnya hanya bermodalkan hoki semata.

" Hidup saya cuma berdasarkan feeling sama percaya sama hoki aja," kata Irwan dalam diskusi virtual Marketeers Hangout 2021, seperti dikutip Merdeka.com.

Menurut dia, dirinya bisa jadi salah satu orang terkaya karena hoki bisa menjalankan bisnis yang cocok dengan pasar Indonesia. Padahal, dia mengaku hanya kerja bolak-balik Semarang-Yogyakarta saja, tempat di mana kantor Sido Muncul berpusat.

" Karena saya ini sebagai penikmat usaha. Jadi saya bukan pengusaha saja, tapi penikmat usaha. Jadi hoki," ujar Irwan.

Irwan mengatakan, dirinya beserta adik-adik juga hanya meneruskan usaha dari neneknya yang telah berjualan jamu sejak era akhir Kolonial Belanda. Dia juga enggan berinvestasi untuk lini bisnis baru di luar perhitungannya.

" Coba kalau sekarang 5 tahun yang lalu saya bisnisnya misalnya investasi Rp 3-4 triliun, uangnya Rp 2,5 triliun, kurang Rp 1,5 triliun, terus utang. Ya sekarang bangkrut juga," tuturnya.

Dia pun menyimpulkan, jika pencapaian yang diraihnya saat ini 90 persen di antaranya karena faktor keberuntungan alias hoki semata-mata.

Irwan Hidayat lalu bercerita mengenai perjalanan perusahaannya yang mengolah industri jamu dan herbal yang telah merambah pasar internasional. Awal mula perusahaan ini berdiri tahun 1970-an hanya mengandalkan omzet Rp 900.000 dan lima orang karyawan.

Pada masa itu, Sido Muncul membulatkan tekat untuk memperkenalkan jamu dan herbal di masyarakat Indonesia. Irwan mengakui, perjalanan ini tidaklah mudah karena rata rata orang Indonesia menyukai jamu tanpa merek untuk dijadikan obat.

Tidak hanya itu, Sido Muncul juga harus bersaing dengan industri padat karya lainnya yang mengeluarkan produk yang sama. Hal ini sangat berdampak pada perusahaan di mana pertumbuhan penjualannya hanya 1,5 persen kala itu.

" Kita bandingkan tahun 1990 kita tumbuhnya masih hanya 1,5 persen, rata-rata orang Indonesia tidak mengerti jamu," ucap Irwan.

Namun demikian, usaha penjualan jamu dan herbal masih terus dilakukan. Fakta berkata lain, jamu buatan Sido Muncul ternyata laku keras di luar negeri. Pesanan dari negara tetangga maupun Eropa terus masuk. Akhirnya, Sido Muncul bisa bertahan dan penjualan terus meningkat.

" Dulu tahun 1990 hingga 1992 kami berpikir bagaimana membuat industri jamu laku meski kecil. Sekarang malah bagus. Semua jamu di ekspor ke mana-mana bahkan di impor negara maju. Wisatawan banyak yang bawa Tolak Angin. Industri jamu akan jadi sunrise  industri," tegasnya.

Setidaknya, saat ini Sido Muncul sudah mengeluarkan 200 jenis produk jamu yang mempunyai pangsa pasar di luar negeri seperti Kuala Lumpur, Singapura, Hongkong, Australia, Nigeria, Arab Saudi, Yaman, Suriname, dan Eropa. Irwan juga menyebut, lewat jamu Indonesia bisa terkenal di luar negeri.

Irwan mengatakan pangsa pasar jamu di Indonesia masih terbuka lebar karena masih banyak masyarakat yang belum terbiasa dengan jamu bermerek. Dia optimis perusahaannya akan terus maju ke depannya.

Menurut Irwan, berkat kerja keras semua pihak, kini perusahaannya mempunyai 4.500 karyawan. Sido Muncul juga menjadi satu-satunya perusahaan jamu dan herbal yang telah melantai di bursa saham Indonesia.

Sementara itu, data terakhir untuk tahun 2021 menunjukkan kekayaan  Irwan Hidayat menurut majalah Forbes kini berada di peringkat ke 28 orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan U$ 1,58 miliar atau Rp 22,6 triliun. Mengalahkan anak pendiri Astra, Edwin Soeryadjaya (Saratoga Investama Sedaya Grup) yang berada di peringkat 29 dan  Hary Tanoesoedibjo (MNC Grup) di peringkat 40.

Dari jamu seduhan sampai menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Mungkin itulah hikayat Sido Muncul dan Irwan Hidayat, sang cucu yang dipangku Nyonya Rahmat di foto logo Sido Muncul. Sebuah prestasi yang tak bisa diraih banyak orang. (eha)

Sumber: Sido Muncul, Liputan6.com, Merdeka.com, Forbes

Beri Komentar