Hukum Berkurban Kambing Untuk Sekeluarga

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 9 September 2016 10:29
Hukum Berkurban Kambing Untuk Sekeluarga
Belakangan muncul pendapat yang menyatakan kambing dapat digunakan untuk berkurban satu keluarga.

Dream - Kurban merupakan amalan yang dianjurkan pelaksanaannya bagi para Muslim. Tetapi, terdapat ketentuan tersendiri yang telah diatur dalam hukum syara'.

Salah satunya adalah jenis hewan kurban untuk jumlah pengkurban. Ketentuan syara' menyebut kurban seekor kambing untuk satu orang, sementara sapi atau unta untuk tujuh orang.

Tetapi, belakangan muncul pendapat yang menyatakan kambing dapat digunakan untuk berkurban satu keluarga. Pendapat ini didasarkan pada praktik yang pernah dilakukan Rasulullah.

Lantas bagaimana kedudukan pendapat ini?

 

1 dari 2 halaman

Contoh Rasul

Rubrik bahtsul masail laman resmi Nahdlatul Ulama memberikan penjelasan terkait persoalan ini. Rasulullah memang pernah menyembelih satu hewan kurban diperuntukkan bagi diri Rasulullah sendiri dan umatnya.

Hal itu diketahui dari doa yang dibaca Rasulullah saat menyembelih seekor kambing.

" Tuhanku, terimalah kurbanku ini untukku dan umatku."

Para ulama menganggap hadits ini merupakan bentuk kepedulian Rasulullah terhadap umatnya. Dengan kurban Rasulullah, gugurlah tuntunan ibadah kurban bagi semua umat Islam.

Dari pendapat ini, para ulama kemudian menyimpulkan kurban merupakan ibadah berhukum sunah kifayah. Artinya, sunah ini berlaku bagi siapa saja, tetapi dapat gugur jika sudah dilakukan oleh seseorang.

Sehingga para ulama kemudian menyatakan satu kurban kambing untuk satu orang.

Imam Nawawi dalam Al Majmu Syarhul Muhadzdzab menyebutkan:

" Seekor kambing kurban memadai untuk satu orang, dan tidak memadai untuk lebih dari satu orang. Tetapi kalau salah seorang dari anggota keluarga berkurban dengan satu ekor, maka memadailah syiar Islam di keluarga tersebut. Ibadah kurban dalam sebuah keluarga itu sunah kifayah. Masalah ini sudah dibahas di awal bab."

 

2 dari 2 halaman

Pendapat Lain

Ibnu Hajar memberikan ulasan terhadap praktik kurban yang dijalankan Rasulullah. Dalam Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, Ibnu Hajar berpendapat:

" (Seekor kambing) baik domba maupun kambing kacang itu memadai untuk kurban (satu orang) saja berdasarkan kesepakatan ulama, tidak untuk lebih satu orang. Tetapi kalau misalnya ada dua orang menyembelih dua ekor kambing yang membaur sebagai kurban bagi keduanya, maka tidak boleh karena masing-masing tidak menyembelihnya dengan sempurna. Hadits ‘Tuhanku, inilah kurban untuk Muhammad dan umat Muhammad SAW,’ mesti dipahami sebagai persekutuan dalam pahala. Ini boleh saja. Dari sini para ulama berpendapat bahwa seseorang boleh menyertakan orang lain dalam pahala kurbannya. Secara tekstual, pahala itu didapat bagi orang menyertakan orang lain. Ini jelas, meskipun orang yang disertakan itu sudah wafat. Hal ini didasarkan pada qiyas sedekah atas mayit. Tentu harus dibedakan antara sedekah biasa dan ibadah kurban sempurna. Karena di sini sekadar berbagi pahala kurban dibolehkan. Saya melihat dalil yang memperkuat pernyataan ini seperti pernah dijelaskan di mana hukum ibadah kurban adalah sunah kifayah. Hal ini sejalan dengan bahasan sejumlah ulama yang menyebutkan bahwa pahala orang yang berkurban untuknya dan keluarganya itu sejatinya untuk dirinya sendiri. Karena, orang pertama lah yang berkurban, sama halnya dengan orang yang menunaikan ibadah fardhu kifayah."

Dua pendapat ini menyatakan kurban kambing hanya berlaku bagi satu orang. Tetapi, orang yang berkurban dapat menyertakan keluarganya atau kerabatnya saat memohon pahala berkurban.

Selengkapnya...

Beri Komentar