Jusuf Kalla: Masjid Butuh Arsitektur dan Akustik yang Mendukung Fungsi Inklusifnya

Reporter : Abidah
Sabtu, 29 Agustus 2026 11:00
Jusuf Kalla: Masjid Butuh Arsitektur dan Akustik yang Mendukung Fungsi Inklusifnya
Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla menegaskan bahwa masjid menjalankan lebih dari fungsi ibadah.

DREAM.CO.ID – Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla menegaskan bahwa masjid menjalankan lebih dari fungsi ibadah. Masjid juga berperan sebagai pusat sosial, pemersatu umat, dan penggerak pemberdayaan masyarakat. Ia menyampaikan hal ini saat membuka Seminar Nasional dan Focus Group Discussion (FGD) Dialog Publik Masjid Inklusif di Auditorium Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Senin (10/02).

Jusuf Kalla mencatat bahwa masjid mendominasi jumlah bangunan publik di Indonesia. Masjid berukuran besar berjumlah sekitar 800 ribu unit, dan total keseluruhan masjid melampaui satu juta bangunan, jumlah yang mengalahkan sekolah sebagai fasilitas publik terbanyak.

" Masjid adalah bangunan publik terbesar di Indonesia. Karena itu, fungsinya tidak boleh semata-mata untuk ibadah, tetapi juga harus mampu memajukan masyarakat dari sisi sosial, pendidikan, hingga ekonomi," ujar Jusuf Kalla.

DMI mengusung visi memakmurkan dan dimakmurkan masjid. Pengelolaan yang baik saja tidak cukup; masjid harus memberi dampak nyata bagi warga di sekitarnya. Desain masjid perlu mengakomodasi kegiatan sosial, pendidikan anak usia dini, layanan kesehatan, dan aktivitas ekonomi umat.

Soal arsitektur, Jusuf Kalla menolak gagasan bahwa masjid Indonesia punya satu ciri khas tunggal. Budaya dan karakter tiap daerah membentuk keragaman arsitektur masjid. Kubah dan menara, menurutnya, bukan simbol keislaman, melainkan solusi teknis masa lalu untuk memperluas ruang dan menyebarkan suara azan.

" Kubah dan menara itu teknologi lama. Secara fungsi sekarang tidak selalu diperlukan, tapi tetap penting sebagai penanda bahwa bangunan tersebut adalah masjid," jelasnya.

Ia meminta para arsitek untuk tidak berhenti pada keindahan visual. Kualitas akustik menentukan apakah masjid benar-benar berfungsi, dan sistem tata suara masih menjadi masalah besar di banyak masjid.

" Sekitar 80 persen aktivitas di masjid adalah mendengarkan, baik khutbah, ceramah, maupun pengumuman. Kalau suaranya tidak jelas, maka fungsi masjid tidak berjalan," tegasnya.

Kaca, marmer, dan keramik yang dipakai berlebihan memantulkan suara dan merusak akustik ruangan, kata Jusuf Kalla. Kayu, karpet, dan panel akustik meredam gema jauh lebih baik. Ia mendesak agar ahli akustik dan sound engineer dilibatkan sejak tahap perencanaan pembangunan masjid, karena pengaturan arah dan jarak pengeras suara yang tepat sering kali sudah cukup memperbaiki masalah tata suara.

Alur jamaah juga membutuhkan desain yang inklusif dan nyaman, mulai dari area parkir, tempat wudu, tempat penyimpanan alas kaki, sampai ruang utama salat. Bagi Jusuf Kalla, masjid inklusif berarti masjid yang terbuka untuk semua umat Islam, tanpa memandang organisasi, suku, atau praktik ibadah.

" Masjid tidak mengenal sekat. Tidak ada masjid NU, Muhammadiyah, atau kelompok tertentu. Siapa pun boleh singgah dan beribadah," ujarnya.

Jusuf Kalla berharap seminar dan FGD ini mendorong arsitek dan pemangku kebijakan merancang masjid yang indah sekaligus fungsional, nyaman, dan mampu memakmurkan masyarakat sekitarnya.

" Masjid harus dipahami dari fungsinya, bukan hanya dari luarnya. Dengan begitu, kita bisa membangun masjid yang baik, sesuai kebutuhan ibadah dan kehidupan umat," pungkasnya.

Seminar ini merupakan hasil kerja sama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Kementerian Pekerjaan Umum, dan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Wakil Menteri Pekerjaan Umum Ir. Diana Kusumastuti, MT, pengurus IAI, Wakil Ketua Umum DMI Rudiantara, serta Sekjen DMI Rahmat Hidayat turut hadir.

Beri Komentar