Ketika Rasulullah Merindukan Kampung Halaman

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 19 Juni 2019 11:00
Ketika Rasulullah Merindukan Kampung Halaman
Bagaimanapun, Rasulullah tidak berbeda dengan orang kebanyakan yang juga merindukan kampung halaman.

Dream - Riwayat hidup Rasulullah Muhammad SAW tidak bisa dilepaskan dari kota Mekah. Meski akhirnya Rasulullah menetap hingga meninggal di Madinah.

Rasulullah menjalani sejumlah fase dalam kehidupannya di Mekah. Mulai dari lahir, masa remaja hingga berusia 25 tahun.

Demikian pula ketika menikah dengan Khadijah. Rasulullah tinggal di Mekah hingga usia 40 dan diangkat sebagai Nabi.

Rasulullah baru meninggalkan Mekah setelah mendapat perintah hijrah dari Allah SWT. Setelah tinggal di Madinah, Rasulullah memang sering ke Mekah namun tidak untuk tinggal menetap.

Bagaimanapun, Mekah sudah menjadi bagian dari kisah hidup Rasulullah. Sehingga, merupakan kewajaran jika Rasulullah dilanda kerinduan pada tanah kelahirannya itu.

Kerinduan Rasulullah pada Mekah tertuang pada kisah yang tercantum di kitab Syarah Az Zarqani Ala Mawahib Laduniyah karya Az Zarqani.

 

1 dari 2 halaman

Bertanya Kabar Mekah Terbaru

Suatu hari, sahabat Ashil Al Ghifari baru tiba di Madinah setelah bepergian ke Mekah. Dia lalu berkunjung ke rumah Rasulullah. Saat di rumah Sang Nabi, dia ditanya oleh Aisyah RA mengenai bagaimana kabar terbaru Mekah.

" Aku melihat Mekah subur wilayahnya dan menjadi bening aliran sungainya," kata Ashil menjawab pertanyaan Aisyah.

Setelah itu, Aisyah mempersilakan Ashil duduk dan menunggu Rasulullah. Sementara Rasulullah masih agak sibuk di kamar.

Beberapa saat kemudian, Rasulullah keluar kamar dan menemui Ashil. Rasulullah pun menanyakan hal yang sama seperti Aisyah kepada Ashil.

" Bagaimana keadaan Mekah sekarang?" tanya Rasulullah.

 

2 dari 2 halaman

Dilanda Rindu yang Sangat

Rasulullah begitu ingin tahu kondisi Mekah. Tetapi, kali ini Ashil menjawab secara lebih panjang dan rinci.

" Aku melihat Mekah subur wilayahnya, telah bening aliran sungainya, telah banyak tumbuh idzkirnya (sejenis pohon), telah tebal rumputnya, dan telah ranum salamnya (tumbuhan yang kerap dipakai untuk menyamak kulit)," kata Ashil.

" Cukup, wahai Ashil. Jangan engkau buat kami bersedih," kata Rasulullah, menandakan kerinduan yang sangat pada Mekah.

Rasulullah tidak ubahnya orang kebanyakan, yang juga merindukan kampung halamannya. Ketika peristiwa Fathu Makkah yang terjadi 8 tahun usai hijrah, barulah Rasulullah memiliki kesempatan berkunjung ke Mekah.

(Sah, Sumber: NU Online)

Beri Komentar