Kisah Kocak Nasrudin Hoja Hadapi Cibiran

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 22 Oktober 2018 12:28
Kisah Kocak Nasrudin Hoja Hadapi Cibiran
Kisah ini bisa menjadi cerminan tentang apa yang kita lakukan dianggap keliru oleh orang lain.

Dream - Nama Nasrudin Hoja tidak bisa diabaikan dalam perkembangan sastra Islami. Sosok ini lekat dengan kisah-kisah humor, namun sarat makna hidup.

Tidak jarang, kisah Nasrudin Hoja selalu membuat pembacanya terpingkal-pingkal. Tetapi, di dalamnya terselip pesan moral yang luar biasa.

Salah satunya ketika Nasrudin berhadapan dengan orang lain yang suka mencibir. Bukan marah ataupun dendam namun justru jenaka.

Suatu hari, Nasrudin bersama anaknya keluar rumah menuju pasar. Mereka membawa seekor keledai dengan cara dituntun.

Belum cukup jauh keduanya berjalan, cibiran sudah datang dari orang-orang yang melihat mereka.

" Hai teman-teman, lihatlah bapak dan anak yang menuntun keledainya itu. Betapa bodohnya mereka, masak keledai dituntun begitu saja? Bukankah mereka bisa menaiki keledai tersebut agar tidak lelah?" kata orang kepada Nasrudin dan anaknya.

1 dari 3 halaman

Dinaiki Berdua, Malah...

Mendapat cibiran itu, Nasrudin dan anaknya memutuskan menaiki keledai tersebut. Mereka lalu melanjutkan perjalanan.

Di tengah jalan, mereka kembali mendapat cibiran. Beberapa orang berbisik ketika melihat Nasrudin dan anaknya berada di atas keledai.

" Masya Allah, benar-benar keterlaluan mereka berdua itu, keledai yang badannya lebih kecil dari kuda dinaiki dua orang berbadan tegap. Kasihan keledai itu, harusnya cukup dinaiki satu orang," demikian cibiran orang.

Cibiran itu didengar oleh Nasrudin. Kemudian, dia memutuskan turun dan membiarkan anaknya menaiki keledai itu.

Nasrudin menuntun keledai itu dengan memegangi tali pengikatnya. Sementara anaknya duduk di punggung keledai.

 

2 dari 3 halaman

Si Anak Malah Dianggap Kurang Ajar

Cibiran rupanya tak juga berhenti. Ada saja orang yang menganggap kelakuan anak Nasrudin kurang ajar.

" Benar-benar kurang ajar, masak dia enak-enak naik keledai sedangkan bapaknya disuruh jalan menuntun keledai?" demikian cibiran tersebut.

Mendengar cibiran itu, akhirnya si anak turun dan Nasrudin diminta naik keledai. Perjalanan pun berlanjut.

Berharap cibiran berhenti, tampaknya hal itu tidak terwujud. Masih saja ada orang mencemooh Nasrudin.

" Hai kawan-kawan, lihatlah bapak yang tidak tahu malu, sementara dia naik keledai anaknya disuruh menuntun keledai," begitulah cemoohan yang diterima Nasrudin.

 

3 dari 3 halaman

"Gendong Saja"

Mendengarnya, si anak lalu bertanya kepada Nasrudin, " Apa yang harus kita lakukan?"

Seketika, Nasrudin meminta anaknya membantu menggendong keledai tersebut. Perjalanan ke pasar kembali dilanjutkan.

Sayangnya, cibiran masih saja ada. Bahkan banyak orang menertawakan tingkah Nasrudin dan anaknya yang menggendong keledai.

" Hahaha, lihatlah bapak dan anak yang bodoh itu, masa keledai digendong, harusnya dinaiki atau dituntun," begitu bunyi cemoohan kepada Nasrudin.

Nasrudin lalu berpesan kepada anaknya agar tidak mencukur bulu ekor keledai di hadapan orang lain.

" Beberapa orang akan berkata kamu memotongnya terlalu banyak, sementara yang lain berkata kamu memotongnya terlalu sedikit. Jika kamu ingin menyenangkan semua orang, pada akhirnya keledaimu tidak akan memiliki ekor sama sekali."

Selengkapnya...

Beri Komentar