Lion Air Gelontor Rp38 Miliar untuk Cari Kotak Hotam JT610

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Senin, 17 Desember 2018 13:00
Lion Air Gelontor Rp38 Miliar untuk Cari Kotak Hotam JT610
Lion Air menggandeng perusahaan swasta asal Belanda dengan menggunakan kapal laut MPV Everest

Dream - Lion Air terus mencari Cockpit Voice Recorder (CVR) pesawat JT610 yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, 29 Oktober silam. Mereka bahkan mengeluarkan anggaran Rp38 miliar untuk melanjutkan pencarian kotak hitam tersebut.

" Proses pencarian juga dilakukan terhadap kotak hitam yaitu alat perekam suara di ruang kemudi pilot (CVR)," ujar Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro, dalam keterangan tertulisnya, Senin 17 Desember 2018.

Lion tak sendiri. Selain dengan KNKT, Lion Air menggandeng perusahaan swasta asal Belanda dengan menggunakan kapal laut MPV Everest. Kapal ini rencananya akan tiba di Tanjung Karawang, Rabu 19 Desember 2018.

Saat ini, tambah Danang, kapal MPV Everest sedang berada di Johor Bahru, Malaysia. Kapal tersebut mengalami kesulitan bergerak ke Tanjung Karawang karena terganggu cuaca. Rencananya, proses pencarian menggunakan kapal MPV Everest akan dilakukan selama 10 hari.

Hingga kini, KNKT baru menemukan flight data recorder (FDR) yang merupakan bagian dari black box. Sementara data tim DVI Polri baru bisa mengidentifikasi 125 jasad dari total 189 orang. Apabila dalam pencarian ini menemukan jasad korban, maka akan diserahkan ke Basarnas.

1 dari 3 halaman

Rusdi Kirana Marah, Lion Air Mau Batalkan Pembelian Pesawat Boeing?

Dream – Rusdi Kirana, pendiri masakapai Lion Air dikabarkan sedang mengkaji ulang pembatalan pembelian pesawat dari Boeing senilai US$22 miliar (Rp402,66 triliun).

Hal ini disebabkan oleh memburuknya hubungan Lion dengan Boeing atas tanggung jawab kecelakaan pesawat bernomor registrasi PK-LQP yang menewaskan 189 orang penumpang.

Dikutip dari South China Morning Post, Rabu 5 Desember 2018, Reuters memberitakan Cofounder Lion Air Group, Rusdi Kirana, marah karena Boeing mengalihkan perhatian dari perubahan desain.

Rusdi juga kesal karena produsen pesawat itu menyalahkan Lion Air atas kecelakaan yang terjadi.

Dalam laporan tersebut, manajemen Lion Air menolak untuk berkomentar lebih lanjut.

Untuk diketahui setiap permintaan pembatalan pesanan ini bisa menekan kinerja produsen pesawat seperti Boeing. Permintaan pembatalan pesawat akan mendorong produsen untuk bernegosiasi kepada maskapai.

Namun, sumber-sumber lainnya menyebut produsen pesawat jarang memberikan ruang untuk pembatalan sepihak.

“ Kami mengambil setiap langkah untuk sepenuhnya memahami semua aspek dari kecelakaan ini. (Kami) bekerja sama dengan tim investigasi dan semua pihak berwenang yang terlibat. Kami juga mendukung pelanggan kami yang berharga (untuk) melalui masa sulit ini,” kata juru bicara Boeing.

2 dari 3 halaman

Tanggapan Lion

Dream mencoba menghubungi manajemen Lion Air terkait kabar sang pendiri yang marah kepada Boeing dan kemungkinan pembatalan pemesanan pesawat Boeing. Pihak manajemen belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut.

“ Sampai saat ini, kami belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut,” kata Corporate Communication Strategic Lion Air, Danang Mandala Prihantoro, ketika dihubungi Dream.

Danang mengatakan pihaknya akan mengklarifikasi kabar tersebut untuk mengetahui kebenaran informasi.

“ Lion Air akan mengklarifikasi kepada sumber berita yang dikatakan untuk mengetahui kebenaran dan persisnya seperti apa, sikap dan keinginan menyangkut informasi dimaksud,” kata dia.

3 dari 3 halaman

Lion Air JT610 Terbang Pakai AOA Hasil Perbaikan, Bukan Sparepart Baru

Dream - Pesawat PK-LQP milik Lion Air yang terbang dengan kode JT610 tidak menggunakan alat sensor Angle Of Attack (AoA) baru, melainkan hasil perbaikan. Pesawat tersebut bermasalah dalam empat penerbangan sebelumnya.

Hal ini disampaikan Investigator Senior Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Ony Suryo Wibowo. Menurut dia, AOA di PK-LQP tidak diganti dengan suku cadang baru begitu diketahui rusak.

" Sudah diperbaiki, bukan sparepart baru dari pabrikan," ujar Ony, dikutip dari Liputan6.com, Jumat 30 November 2018.

Padahal, meskipun sudah diperbaiki, alat tersebut harus menjalani pengujian dan sertifikasi terlebih dulu baru bisa dipakai. Prosedur yang berlaku sama dengan alat baru.

" Perbaikan dalam dunia penerbangan ada prosedur yang sangat ketat. Setelah selesai (diperbaiki) dia harus diuji, dikalibrasi, kemudian ada sertifikatnya," ucap Ony.

Ony mengatakan keberadaan sertifikat sangat penting dalam penggunaan suku cadang pesawat. Barang baru sekalipun, kata dia, tidak boleh dipakai jika tidak ada sertifikat lulus uji.

" Begitu pun kebalikannya, barang sudah repair, apapun bentuknya, dengan sertifikat yang valid, sah digunakan di pesawat," ucap Ony.

AOA merupakan alat yang merupakan bagian dari sistem penunjuk kecepatan atau airspeed indicator. Alat ini memiliki fungsi sebagai indikator attitude pesawat terhadap aliran udara.

Lebih lanjut, terang Ony, jenis AOA yang ada di PK-LQP sama dengan yang digunakan pada Boeing 737-800NG. Meski demikian, alat yang ada di 737 MAX 8 tidak bisa dijadikan komponen pada 800NG.

" Enggak bisa, paling tidak kami mencapat AOA ini sama dengan Boeing 800NG, sama dengan 737 MAX 8. Tapi enggak boleh yang lain. Jadi kalau komponennya sama tapi nomornya berbeda, tetap enggak boleh," ucap Ony. (mut)

Sumber: Liputan6.com/Nur Habibie

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More