New York Times Soroti Arogansi Polisi Indonesia di Tragedi Kanjuruhan

Reporter : Nabila Hanum
Rabu, 5 Oktober 2022 12:00
New York Times Soroti Arogansi Polisi Indonesia di Tragedi Kanjuruhan
Polisi dinilai kurang latihan untuk mengendalikan massa, dan tragedi Kanjuruhan mengungkap masalah-masalah yang ada di kepolisian.

Dream - Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 1 Oktober 2022 masih menjadi sorotan, tak hanya dalam negeri, tapi juga media internasional.

New York Times (NYT), media Amerika Serikat, menyorot aksi polisi di tengah tragedi Kanjuruhan, Malang. Media itu menilai polisi kurang latihan untuk mengendalikan massa, dan tragedi Kanjuruhan mengungkap masalah-masalah yang ada di kepolisian.

" Para pakar menyebut tragedi tersebut mengungkap masalah-masalah sistemik yang menghadapi polisi, banyak dari mereka yang tak dilatih dengan baik untuk mengendalikan kerumunan dan sangat termiliterisasi," tulis artikel New York Times berjudul Deadly Soccer Clash in Indonesia Puts Police Tactics, and Impunity, in Spotlight.

1 dari 3 halaman

NYT menulis, para analis membahas bahwa polisi seringkali tidak perlu bertanggung jawab terhadap perbuatan mereka.

Selama lebih dari 20 tahun, para aktivis HAM dan ombudsman RI juga telah mempertanyakan tindakan Polri, tetapi seringkali laporan itu tak diurus.

" Tak ada kepentingan politik agar benar-benar menghadirkan pasukan polisi yang profesional," ujar Jacqui Baker, ekonom politik di Murdoch University, Indonesia, dikutip dari Liputan6.com.

Baker yang mempelajari kebijakan di Indonesia menyebut impunitas terus-menerus terjadi.

NYT juga menyorot jatuhnya opini terhadap para polisi. Kepercayaan publik turun dari 71,6 persen pada April 2022, menjadi 54,2 persen pada Agustus 2022.

2 dari 3 halaman

Masalah Akuntabilitas

Masalah lainnya adalah akuntabilitas terkait anggaran polisi yang fantastis. Anggaran polisi tahun ini lebih besar dari anggaran pendidikan dan kesehatan.

Anggaran polisi pada 2022 adalah Rp107 triliun. Banyak dari jumlah tersebut digunakan untuk gas air mata, baton, dan masker gas.

Para pakar kepolisian menyebut tahun 2019 adalah saat perubahan terkait pemakaian gas air mata. Pada Mei 2019, polisi bentrok dengan pendemo pemilu, sehingga sejumlah orang tewas, termasuk remaja.

Pemakaian gas air mata pun meluas ke daerah-daerah lain. Pengamat kebijakan Andri Prasetyo menyebut anggaran polisi untuk gas air mata melonjak pada 2020. Saat itu, polisi menggunakan gas air mata untuk menghadapi pendemo saat pandemi Covid-19.

Gas air mata juga kembali digunakan ketika ada demo Omnibus Law. Amnesty mencatat ada 411 korban dari tindakan berlebihan polisi di 15 provinsi saat demo-demo tersebut.

3 dari 3 halaman

Masalah Suap

Laporan NYT juga menyebut polisi Indonesia semakin kuat setelah Suharto turun, ketika polisi dipisah dari militer. Kekuatan polisi pun semakin kuat.

Hal lain yang disorot NYT adalah aksi suap yang disebut sebagai biasa di kalangan polisi. Selain itu, banyak kasus-kasus terkait masalah polisi yang justru tidak ditindaklanjuti.

" Dalam banyak contoh, para petugas polisi memiliki keputusan final terkait apakah sebuah kasus mesti diusut. Menerima suap adalah hal biasa, kata para analis. Dan adanya tuduhan terhadap kesalahan polisi dibiarkan diurus pejabat-pejabat tinggi agar diinvestigasi. Seringnya, kata kelompok HAM, kasus-kasus itu tak diurus," tulis NYT.

Beri Komentar