Pemilu Malaysia, Jalan Panjang Anwar Ibrahim

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 5 Desember 2022 21:31
Pemilu Malaysia, Jalan Panjang Anwar Ibrahim
Ia disebut sebagai mesias dan Nelson Mandela Asia.

Dream – Memakai baju Melayu berwarna hitam dengan sarung di pinggang dan celana hitam senada, pria seten-gah baya yang sebagian jengot dan kumisnya sudah mulai memutih itu,  maju ke depan Raja Malaysia di Istana Negara, pukul 17.05, Kamis 24 November 2022.

Setelah menunduk hormat di depan raja, pria berkopiah hitam itu membuka dokumen yang dia bawa dan membacanya.

" Saya, Anwar Ibrahim, setelah ditunjuk sebagai perdana menteri, bersumpah dengan sungguh-sungguh bahwa saya akan dengan jujur memenuhi tugas itu dengan segala upaya dan bahwa saya akan mengabdikan kesetiaan sejati saya kepada Malaysia," kata pria berusia 75 tahun itu.

Pria itu memang Anwar Ibrahim, yang selama dua puluh tahun terakhir menjadi pemimpin oposisi Malaysia. Hari itu dia resmi dilantik menjadi Perdana Menteri Malaysia ke-10.

Setelah mengambil sumpahnya, Anwar menandatangani surat penunjukan yang disaksikan oleh Hakim Ketua Tengku Maimun Tuan Mat dan Ketua Sekretaris Pemerintah Mohd Zuki Ali. Upacara tersebut disaksikan oleh Jaksa Agung Idrus Harun, Kepala Kepolisian Affendi Buang, Ketua Senat Dr Rais Yatim dan Ketua Dewan Rakyat Azhar Azizan Harun.

Pelantikan Anwar Ibrahim jadi PM Malaysia hari itu direspon positif oleh pasar. Bursa Malaysia menguat ke level tertinggi hampir tiga bulan hari ini, dengan indeks utama naik 4,04 persen. Pada pukul 17.00, benchmark FTSE Bursa Malaysia KLCI melonjak 58,38 poin di akhir perdagangan hari di 1.501,88 dibandingkan dengan 1.443,50 pada penutupan kemarin.

Pelantikan Anwar Ibrahim dilakukan setelah raja menggelar pertemuan khusus di antara para raja sembilan negara bagian Malaysia pada Kamis pagi, 24 November 2022. Raja menyatakan bahwa dia ingin meminta pandangan dari para penguasa Melayu lainnya.

Anwar Ibrahim saat dilantik jadi PM Malaysia oleh Raja Malaysia© CNN

(Anwar Ibrahim saat dilantik jadi PM Malaysia oleh Raja Malaysia/CNN)

Diangkatnya Anwar Ibrahim sebagai perdana menteri adalah buah dari penantian panjangnya. Ia pernah menjabat sebagai wakil perdana menteri pada 1990-an sebelum dipecat oleh perdana menteri saat itu Mahathir Mohamad pada tahun 1998.

Raja Malaysia atau Yang di-Pertuan Agong Abdullah dari Pahang menyampaikan pesan kepada Perdana Menteri Anwar Ibrahim yang baru dilantik sore ini.

Dalam pernyataan resmi Istana Malaysia, Raja mewanti-wanti kepada Anwar Ibrahim agar menerapkan filosofi padi. " Baginda Raja berpesan kepada perdana menteri Malaysia yang baru agar mengambil ilmu padi, semakin berisi semakin tunduk," tulis Istana Malaysia.

Raja Abdullah menyatakan rakyat Malaysia sudah lama dibebani kemelut politik yang tak berkesudahan. " Negara memerlukan kondisi yang stabil untuk meningkatkan ekonomi dan membangun negara," tulisnya.

" Baginda mengingatkan semua pihak bahwa yang menang tidak menang semua dan yang kalah tidak kalah semua," tulis pernyataan resmi Istana Malaysia.

Pemilu Malaysia yang baru digelar pada Sabtu, 19 November 2022, sempat menemui jalan buntu. Pasalnya tidak satu partai pun yang mendapat suara mayoritas untuk membentuk pemerintahan.

Kedua kandidat terkemuka, Anwar Ibrahim dan Muhyiddin Yassin tidak memiliki cukup dukungan. Ketidakpastian hasil pemilu meningkatkan kekhawatiran akan ketidakstabilan politik di salah satu negara Asia Tenggara tersebut. Apalagi Malaysia sempat memiliki tiga perdana menteri dalam empat tahun terakhir.

***

Kepastian Datuk Seri Anwar Ibrahim menjadi Perdana Menteri Malaysia terjadi setelah UMNO yang merupakan elemen partai terbesar di Koalisi Barisan Nasional, menyatakan bersedia bergabung dan mendukung koalisi yang dipimpin Anwar Ibrahim.

Malaysia pada Sabtu 16 November lalu lalu memang baru saja menyelenggarakan Pemilihan Umum. Hasilnya, koalisi Pakatan Harapan (PH) pimpinan Anwar Ibrahim menjadi peraih kursi terbanyak parlemen dengan 82 kursi, disusul koalisi Perikatan Nasional (PN) pimpinan Muhiddin Yassin dengan 73 kursi, koalisi Barisan Nasional (BN) dengan 30 kursi, koalisi Gabungan Partai Serawak (GPS) 23 kursi, koalisi Gerakan Rakyat Sabah (GRS) 6 kursi, Warisan 3 kursi, independen 2 kursi, dan KDM serta PBM masing-masing 1 kursi.

Meskipun Pakatan Harapan memiliki kursi terbanyak, belum menjadikan Anwar Ibrahim otomatis sebagai Perdana Menteri. Hal tersebut dikarenakan syarat untuk membentuk kabinet pemerintahan adalah Partai/Koalisi atau Gabungan Partai/Koalisi yang mampu mencapai lebih dari 50 persen kursi parlemen atau memiliki 112 kursi dari 222 jumlah keseluruhan kursi parlemen.

Sekjen UMNO, Ahmad Maslan dalam keterangannya kepada media setelah Musyawarah Majlis Kerja Tertinggi (MKT) khas Partai yang berlangsung sengit mengatakan partainya sepakat menjadi bagian dari pemerintahan gabungan sesuai Titah dari Raja. Namun mereka menyatakan tidak bersedia jika harus bergabung dengan koalisi Perikatan Nasional.

“ MKT sepakat satu suara memutuskan untuk mendukung dan menjunjung titah Yang Maha Mulia Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong supaya Barisan Nasional mendukung dan mengambil bagian dalam pemerintahan gabungan yang bukan dipimpin oleh Perikatan Nasional untuk memastikan sebuah pemerintahan yang stabil dan makmur dapat dibentuk," kata Ahmad Maslan, Kamis dinihari waktu setempat.

Sehari sebelumnya,  Rabu 23 November 2022,  saat menghadap Raja, Pemimpin Utama Barisan Nasional yang juga Pemimpin UMNO, Ahmad Zahid Hamidi telah memberikan surat kepada Raja, di mana dalam surat tersebut menyatakan 30 Anggota Parlemen BN yang baru terpilih memberikan dukungan kepada PH untuk membentuk pemerintahan dan mendukung Anwar Ibrahim menjadi Perdana Menteri ke-10 Malaysia.

Padahal sebelum bertemu Raja Malaysia,  hasil keputusan tertinggi Barisan Nasiona (BN)l, bahwa BN memilih menjadi opisisi dan tidak mendukung koalisi manapun baik dari PH maupun PN.

Namun setelah petinggi BN dipanggil Raja ke Istana, MKT UMNO melakukan rapat tadi malam, keputusan menjadi berubah.

Tidak hanya mendapat dukungan dari BN, pada Selasa 22 November 20221, Partai Warisan yang memiliki 3 kursi parlemen juga telah menyatakan memberikan dukungan kepada PH dan BN untuk membentuk pemerintahan koalisi bersama.

Koalisi GPS yang telah menyatakan mendukung PN juga akan beubah haluan, karena saat dipanggil Raja ke istana mereka juga menyatakan akan mendukung apapun yang diputuskan Raja.

Jika PH, BN, Warisan bergabung, ditambah lagi dari Independen dan partai-partai kecil yang akan menyusul, serta GPS dan GRS yang akan berubah haluan mengikuti titah Raja, maka pemerintah gabungan ini memiliki dukungan 148 kursi parlemen atau dua pertiga dari 222 kursi parlemen.

Inilah yang membuat Anwar Ibrahim mulus menjadi Perdqana Menteri ke-10 Malaysia.

Anwar Ibrahim dan istri tersenyum bahagia setelah dilantik sebagai PM Malaysia© CBC

(Anwar Ibrahim dan istri tersenyum bahagia setelah dilantik sebagai PM Malaysia/CBC)

Anwar, yang diangkat oleh Raja Malaysia setelah pemilihan yang gagal menghasilkan pemenang mayoritas di parlemen, mengatakan bahwa perhatian utamanya adalah ekonomi dan dia akan memiliki kabinet lebih ramping daripada pemerintahan sebelumnya.

" Prioritas saya sekarang adalah mengatasi biaya hidup," katanya dalam konferensi pers setelah melapor untuk bertugas di kantor perdana menteri, Jumat, 25 November 2022.

Anwar belum mengumumkan penunjukan kabinet untuk pemerintahan koalisinya. Dia sebelumnya mengindikasikan akan ada dua wakil perdana men-teri di kabinetnya - satu dari mantan aliansi penguasa Barisan dan satu lagi dari blok politik yang lebih kecil di Malaysia Borneo.

Pengangkatannya mengakhiri lima hari krisis pasca-pemilihan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pemilihan Sabtu lalu mengadu koalisi multi-etnis Anwar yang progresif melawan aliansi etnis-Melayu, Muslim yang sebagian besar konservatif Muhyiddin Yasin.

Tetapi tidak ada pemenang mayoritas, sehingga terjadi kebuntuan dan memperburuk ketidakstabilan di Malaysia yang beragam etnis dan telah berganti tiga perdana menteri dalam empat tahun terakhir.

Perselisihan juga berisiko menunda keputusan kebijakan yang diperlukan untuk mendorong pemulihan ekonomi.

Raja Abdullah meredakan krisis itu dengan menunjuk Anwar setelah berkonsultasi dengan sejumlah politisi.

Langkah ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan raja dengan ketua Pakatan Harapan Anwar Ibrahim dan pemimpin Perikatan Nasional Sri Muhyiddin Yassin.

" Prosesnya adalah mengizinkan Raja membuat keputusan untuk menunjuk seorang anggota Parlemen yang, menurut kebijakan Yang Mulia, akan mendapatkan dukungan mayoritas di Dewan Rakyat sebagaimana diatur dalam Pasal 43(2)(a) Konstitusi Federal," kata juru bicara Istana, Ahmad Fadil.

Berbicara kepada wartawan di luar Gerbang 2 Istana Negara, Raja Abdullah te-lah meyakinkan akan membuat keputusan rasional. Sebelum masuk istana, Raja Abdullah juga meminta warga Malaysia menerima keputusan akhir dan terus melangkah usai pemilu ini berlangsung, apapun hasilnya.

Raja pun akhirnya menunjuk Anwar Ibrahim, karena tidak ada kekuatan politik yang mendapat dukungan mayoritas parlemen.

Setelah Anwar Ibrahim ditunjuk Raja, dukungan dari partai politik pun mengalir bak air bah, sehingga menjadi 148 kursi atau dua pertiga dari 222 kursi parlemen.

***

Anwar Ibrahim, juga disebut Anwar bin Ibrahim, lahir 10 Agustus 1947, Cherok Tok Kun, Penang, Malayan Union atau yang sekarang dikenal sebagai Malaysia.

Sebagai putra politisi, Anwar memulai karir politiknya pada akhir 1960-an di Universitas Malaya di Kuala Lumpur, di mana ia dikenal sebagai pemimpin mahasiswa Islam.

Pada tahun 1971 ia mendirikan Gerakan Pemuda Muslim Malaysia, dan menjabat sebagai presidennya hingga tahun 1982. Terlepas dari kritiknya terhadap koalisi Barisan Nasional (BN) yang berkuasa dan komponennya yang paling kuat, Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), Anwar di tahun 1982 menerima undangan dari perdana menteri saat itu Mahathir bin Mohamad untuk bergabung dengan UMNO dan pemerintahannya.

Karir politik Anwar maju pesat di bawah Mahatihir. Ia  menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (1983), Menteri Pertanian (1984), dan Menteri Pendidikan (1986–91) sebelum diangkat menjadi Menteri Keuangan (1991–98) dan Wakil Perdana Menteri (1993–98) .

Anwar Ibrahim saat jadi Wakil PM Malaysia Mahathir Mohammad© Liputan6

(Anwar Ibrahim saat jadi Wakil PM Malaysia Mahathir Mohammad/Liputan6)

Memimpin kemakmuran ekonomi Malaysia yang luar biasa selama tahun 1990-an, Anwar mendapatkan rasa hormat dari rekan-rekannya di seluruh dunia.

Namun, selama krisis keuangan Asia tahun 1997, dia berselisih dengan Mahathir atas penerapan langkah-langkah pemulihan ekonomi. Anwar bersikpa keras terhada kroniisme di tubuh UMNO. Dia diberhentikan Mahathir pada tahun 1998.

Dan pada tahun 1999 dia dipenjara atas tuduhan korupsi, yang kemudian dit-ambah dengan tuduhan sodomi.

Sementara Malaysia yang mayoritas Muslim mengkriminalkan aktivitas homo-seksual, hukuman jarang terjadi dan kasus terhadap Anwar dikecam secara in-ternasional karena bermotivasi politik.

Kemunculan Anwar dengan mata lebam saat dipenjara juga menimbulkan kemarahan luas dan memicu demosntrasi besar-besaran.

Anwar Ibrahim dengan mata hitam karena disiksa di penjara© Twitter PKR

(Anwar Ibrahim dengan mata hitam karena disiksa di penjara/Twitter PKR)

Protes jalanan yang penuh kekerasan meletus ketika dia dipenjara selama enam tahun karena korupsi. Setahun kemudian dia dijatuhi hukuman sembilan tahun karena sodomi.

Demo menuntut pembebasan Anwar Ibrahim© BBC

(Demo menuntut pembebasan Anwar Ibrahim/BBC)

Anwar selalu menyatakan bahwa tuduhan itu adalah bagian dari kampanye kotor untuk mencopotnya sebagai ancaman politik bagi Mahathir.

Mahathir digantikan sebagai perdana menteri oleh Abdullah Ahmad Badawi pada tahun 2003, dan pada tahun 2004 Pengadilan Tinggi Malaysia membatalkan hukuman sodomi Anwar, dengan alasan kurangnya bukti.

Anwar Ibrahim tiba dengan kursi roda dan peyangga leher di pengadilan tahun 2004© CBC

(Anwar Ibrahim tiba dengan kursi roda dan peyangga leher di pengadilan tahun 2004/CBC)

Setelah dibebaskan, ia muncul sebagai ketua de facto dari pihak oposisi yang baru bangkit yang mencatatkan penampilan kuat dalam pemilu 2008.

Tahun berikutnya dia memimpin oposisi ke ketinggian baru dalam pemilihan yang menghasilkan pertunjukan terburuk bagi koalisi Barisan Nasional yang berkuasa.

Anwar juga sempat memegang posisi sebagai dosen di Universitas Oxford; Uni-versitas Johns Hopkins, di Baltimore, Maryland; dan Universitas Georgetown, di Washington, D.C.

Pada tahun 2007, dengan stagnasi pemerintahan Abdullah di tengah skandal dan gejolak sosial dan ekonomi, oposisi negara yang berbeda secara historis berkumpul di sekitar reformis Anwar.

Awal tahun 2008, Anwar menjabat kepemimpinan de facto dari koalisi oposisi tiga partai, Pakatan Rakyat (PR), yang terdiri dari Partai Keadilan Rakyat (PKR), Partai Islam Pan-Malaysia (Parti Islam SeMalaysia; PAS), dan Partai Aksi Demokratik (DAP).

Sebelum pemilihan umum untuk majelis rendah parlemen Malaysia pada Maret 2008, Anwar, meskipun dilarang menjabat secara politik sampai April karena hukuman penjaranya, tetap aktif berkampanye atas nama PR.

Pesan koalisi tentang kesetaraan etnis, toleransi beragama, dan pasar terbuka—cita-cita reformis yang telah lama dianut oleh Anwar—mendapatkan dukungan yang cukup untuk mematahkan mayoritas dua pertiga kursi  BN yang berkuasa di parlemen, yang sebelumnya hanya dipatahkan sekali sejak Malaysia memperoleh kemerdekaan pada tahun 1957. .

Pada Agustus 2008, sebagai pemimpin oposisi utama, Anwar memenangkan pemilihan sela untuk duduk di majelis rendah, sebuah langkah besar dalam re-habilitasi karir politiknya.

Segera setelah kemenangan telak di kampung halamannya di distrik Permatang Pauh, Penang, dia melancarkan kampanye yang gencar untuk menjatuhkan pemerintahan Abdullah, yang partainya, UMNO, telah memecat Anwar pada tahun 1998.

Pada pertengahan September, Anwar meminta Abdullah untuk mengadakan rapat umum. sesi darurat parlemen, menegaskan bahwa dia memiliki cukup dukungan untuk melakukan mosi tidak percaya terhadap pemerintah. Perdana menteri menolak dan mengancam tindakan terhadap Anwar, yang dia nyatakan sebagai ancaman bagi keamanan negara.

Akhirnya, Abdullah mengumumkan pada bulan Oktober bahwa dia akan mengundurkan diri pada bulan Maret tahun berikutnya. Pada April 2009 Najib Razak, juga dari UMNO, menggantikan Abdullah sebagai Perdana Menteri Ma-laysia, dengan Anwar sebagai rival politik utamanya.

Rintangan lain menghalangi kiprah politik Anwar, karena, tak lama sebelum pemilu 2008, tuduhan sodomi baru diajukan terhadapnya. Dia akhirnya dibebaskan dari tuduhan tersebut pada awal tahun 2012 setelah diadili selama dua tahun.

Anwar Ibrahim kembali dipenjara© Twitter Nur Izzah Anwar

(Anwar Ibrahim kembali diadili untuk kasus sodomi/Twitter Nur Izzah Anwar)

Anwar dan PR berharap bisa memperbaiki hasil pemilu 2008 oposisi di pemilu parlemen 2013 mendatang. Meskipun PR menjaring beberapa kursi lagi dalam pemungutan suara yang diadakan pada awal Mei, BN mempertahankan mayoritas sederhana di majelis rendah.

Sesaat sebelum pemilu 2014 di negara bagian Selangor, di mana Anwar di-harapkan menjadi menteri utama, pengadilan banding membatalkan pem-bebasannya pada tahun 2012, dan dia dijatuhi hukuman lima tahun penjara atas kasus sodomi.

Pada tahun 2015, Pengadilan Federal Malaysia menguatkan vonis dan hukuman tersebut. Anwar membantah tuduhan itu, menuduh adanya " konspirasi politik."

Ketika pemerintahan Najib Razak terlibat dalam skandal keuangan 1Malaysia Development Berhad  (1MDB)  yang melibatkan dugaan penggelapan miliaran dolar dari dana pembangunan negara, Mahathir muncul dari masa pensiunnya untuk menjadi pemimpin oposisi.

Tetapi untuk mementaskan kembalinya dia ke politik Malaysia, Mahathir harus mencapai kesepakatan yang tidak mungkin dengan Anwar yang masih dipenjara, yang tetap sangat populer di kalangan pendukung oposisi.

Dalam momen yang banyak dipublikasikan, keduanya bertukar jabat tangan yang dulunya tidak terpikirkan, menandai dimulainya reuni politik yang luar biasa.

Mahathir adalah mentor Anwar yang berubah menjadi musuh bebuyutan, yang kemudian menjadi sekutu politik.

Anwar Ibrahim dan Mahathir Mohammad saat berkoalisi dalam Pakatan Harapan© NST

(Anwar Ibrahim dan Mahathir Mohammad saat berkoalisi dalam Pakatan Harapan untuk menggulingkan Najib Razak/News Strait Times)

Mahathir menyatakan bahwa jika terpilih sebagai perdana menteri, dia akan berusaha mendapatkan pengampunan kerajaan atas nama Anwar, sebuah langkah yang memungkinkan Anwar bebas dan kembali ke politik. Selanjutnya, Mahathir yang berusia 92 tahun berjanji untuk mundur setelah dua tahun menjabat, dan menyerahkan jabatan itu kepada Anwar.

Mahathir memimpin aliansi Pakatan Harapan meraih kemenangan dalam pemilihan penting tahun 2018, mengakhiri rentetan kemenangan 61 tahun berturut-turut Barisan Nasional dalam memerintah negara.

Koalisi Pakatan Harapan yang baru menyatukan empat partai ke dalam koalisi multi-etnis pertama Malaysia yang benar-benar mendapat dukungan dari mayoritas Muslim Melayu serta minoritas China dan India yang cukup besar di negara itu.

Dalam salah satu tindakan pertamanya saat menjabat, Mahathir mengajukan petisi kepada Sultan Muhammad V untuk mengampuni Anwar, dan pada 11 Mei , 2018, Mahathir mengumumkan bahwa raja telah menyetujui permintaan itu.

Anwar Ibrahim dibebaskan dari penjara lima hari kemudian.

***

Tetapi aliansi Pakatan Harapan yang berkuasa tersebut mulai terlihat genting karena Mahathir terus mengelak saat ditagih komitmennya untuk menyerahkan jabatan Perdana Menteri Malaysia ke Anwar Ibrahim setelah dua tahun berkuasa.

Mahathir lebih banyak mengulur waktu untuk menyerahkan kekuasaan. Itu mulai memicu pertikaian sengit di Pakatan Harapan.

Perpecahan di Pakatan Harapan, membuat Muhyidin Yassin membuat  “ Langkah Sheraton.” Gerakan ini merupakan penggulingan pemerintahan Pakatan Harapan yang baru 22 bulan berkuasa, yang dipicu oleh pertikaian hebat di antara pihak-pihak dalam koalisi tersebut.

Menurut Malaysia Kini, " Langkah Sheraton" merujuk kepada 11 anggota parle-men yang meninggalkan Partai Keadilan Rakyat (PKR) pimpinan Anwar Ibrahim untuk bergabung dengan Partai Bersatu pimpinan Muhyiddin, Barisan Nasional, UMNO, Partai Islam Se-Malaysia (PAS), Gapungan Partai Serawak (GPS) dan Warisan di Sheraton Hotel, Petaling Jaya pada malam Ahad, 23 Februari 2022, dalam usaha mengambil alih kekuasaan Pakatan Harapan yang berkuasa dengan menggunakan nama koalisi baru Perikatan Nasional.

Muhyiddin, Anwar Ibrahim dan Mahathit Mohammad saat masih bersatu di bawah Pakatan Harapan© Chanel News Asia

(Muhyiddin Yasin, Anwar Ibrahim dan Mahathir Mohamad saat masih bersatu/Chanel News Asia)

Karena kehilangan dukungan di parlemen, pada Februari 2020, Mahathir mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri, Pengunduran diri Mahathir yang tak terduga menyebabkan keruntuhan koalisi Pakatan Harapan, dan menjeru-muskan Malaysia ke dalam periode kekacauan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya -dan sekali lagi membuat Anwar pulang dengan tangan kosong.

Setelah pemerintahan baru runtuh, UMNO kembali berkuasa dan Muhyiddin Yassin diangkat sebagai perdana menteri baru dalam koalisi baru Perikatan Nasional.

Tetapi lebih dari setahun kemudian di puncak pandemi, Muhyiddin mengundur-kan diri setelah beberapa bulan penuh gejolak yang membuatnya kehilangan dukungan mayoritas di parlemen.

Pada Oktober 2022 penggantinya, Ismail Sabri Yaakob dari UMNO, mengumumkan pemilihan cepat  UMNO diyakinkan oleh serangkaian kemenangan pemilihan sela bahwa mereka dapat memperoleh kembali kekuasaan.

Namun sebaliknya, aliansi Pakatan Harapan Anwar lah yang muncul sebagai pemenang dengan meraih kursi terbanyak, meskipun masih kurang dari mayoritas sederhana yang diperlukan untuk membentuk pemerintahan. Dan setelah berhari-hari mengalami kebuntuan, Raja mengumumkan penunjukan Anwar -puncak dari penantian Anwar selama 25 tahun.

Anwar Ibrahim saaat kampanye untuk Pakatan Harapan© Foreign Policy

(Anwar Ibrahim saat kampanye untuk Pakatan Harapan/Foreign Policy)

Tapi jalan di depan masih akan dipenuhi dengan tantangan bagi Anwar, yang harus menyatukan koalisi pemerintahan yang bisa diterapkan, dan pasti akan menghadapi kesulitan dalam mempromosikan Malaysia yang lebih pluralistik dan inklusif, dalam menghadapi kebangkitan fundamentalis Islamisme.

***

Dengan Anwar Ibrahim menjadi perdana menteri ke-10 Malaysia, dia sekarang menghadapi banyak harapan.

Banyak yang melihatnya sebagai seorang mesias, yang datang untuk memperbaiki masalah yang dihadapi negara, yang sedang menuju masa ekonomi yang tidak pasti dengan meningkatnya inflasi, ringgit yang jatuh, dan daya apung ekonomi yang tertekan akibat perlambatan ekonomi dunia.

Malaysia telah lama terlibat dalam politik berbasis ras dan kefanatikan agama, yang telah menimbulkan kebencian di dalam masyarakat. Sebagian besar penduduk ingin mempertahankan hak istimewa mereka, sementara pemerintah harus mencari cara baru untuk meningkatkan pendapatan tanpa memberikan tekanan pendapatan yang tidak semestinya pada 40 persen penduduk ber-penghasilan terbawah.

Selain itu, selama lima tahun ke depan, masa jabatan di bawah sistem parlementer negara, Anwar harus menyatukan koalisi politik yang terdiri dari musuh tradisional lama, dengan berbagai ideologi dan pemangku kepentingan pemilu.

Media  memposisikan Anwar sebagai mesias, yang akan dapat melakukan 'per-baikan cepat' untuk menyelesaikan semua masalah Malaysia. Ini adalah efek mesias, yang kita lihat di Amerika Serikat pada tahun 2008 ketika Barak Obama mencalonkan diri sebagai presiden. Obama mewakili kebalikan dari apa yang diwakili oleh petahana George Bush, dan orang-orang memilih Obama dengan sangat banyak.

Ini adalah kerugian besar Obama. Dengan begitu banyak harapan yang diberi-kan padanya, hampir tidak mungkin baginya untuk memenuhi harapan orang.

Ini adalah bahaya politik yang serius. Jadi, kita harus bertanya, apa yang dibawa Anwar ke kantor perdana menteri?

Sejak masa mahasiswanya, Anwar telah berurusan dengan ekspektasi. Setelah pemecatannya sebagai wakil perdana menteri di bawah Mahathir Mohamed pada tahun 1998, gerakan 'Reformasi' adalah salah satu harapannya.

Anwar Ibrahim dianggap sebagai mesias dan Nelson Mandela Asia© Twitter Nur Izah Anwar

(Anwar Ibrahim dianggap sebagai mesias dan Nelson Mandela Asia/Twitter Nur Izah Anwar)

'Reformasi' menjadi impian Malaysia untuk menciptakan masyarakat multiras berdasarkan kesetaraan keadilan. Ketika Anwar dipenjara, beberapa orang menyamakan kariernya dengan mendiang Nelson Mandela, reformator besar dan pemenang Hadiah Nobel dari Afrika Selatan.

“ Perjuangan politik Anwar berada pada tingkat yang sebanding dengan Nelson Mandela (Afrika Selatan), karena keduanya mengalami banyak penganiayaan dalam proses demokratisasi negara mereka,” kata Dr Ei Sun Oh dari Institut Urusan Internasional Singapura.

“ Diharapkan dengan Anwar sebagai penanggung jawab, Malaysia dapat kembali ke masyarakat dan ekonomi yang lebih terbuka dan inklusif, yang diharapkan akan mengembalikan pamor Malaysia ke panggung dunia.”

Anwar, 75 tahun, sudah dua kali berada di puncak kekuasaan. Karenanya dia harus berhati-hati. Mengelola ekpektasi dan mengayuh di antara partai pen-dukung yang poisisinya berseberangan secara ideologis, tentu ini tidak mudah.

Tapi paling tidak dia sudah membuktikan diri. Tiga dekade berpolitik, dua dekade sebagai pemimpin oposisi. Dua kali masuk penjara dengan tuduhan yang merusak nama baiknya. Dan sekarang menjadi Perdana Menteri. Pantaslah dia disebut Nelson Mandela Asia karena harus berulang kali masuk penjara karena keyakinan politiknya. Sebuah jalan panjang yang tidak mudah bagi siapa pun. (eha)

Sumber: Chanel News Asia, Bernama, Malaysia Kini, Strait Times, The Star, BBC, Britanicca, The Hill

Beri Komentar