Ilustrasi Pembuatan Video Teroris Palsu (sumber: Twitter/@TBIJ)
Dream - Fakta terbaru mengenai perang di Timur Tengah terkuak. Hasil investigasi Biro Jurnalisme Investigatif menyebut Pentagon membayar US$540 juta atau setara Rp7,01 triliun sebuah perusahaan komunikasi publik asal Inggris, Bell Pottinger.
Perusahaan ini diminta untuk membuat video teroris palsu di Irak pada 2007 dan 2011.
Dalam kontrak itu, Bell Pottinger mendapat perintah dari Central Intelligence Agency (CIA), National Security Council (NSC), dan Pentagon untuk menunjukan sisi negatif Al-Qaeda.
Mereka menciptakan konten televisi seolah-olah itu datang dari televisi di jazirah Arab Saudi. Rencana operasi itu dimulai sejak invasi Amerika Serikat ke Irak.
Menurut East Middle Monitor, selain menggambarkan sisi kelam Al-Qaeda, Bell Pottinger juga mendapatkan arahan untuk mempromosikan 'pemilu demokratis'. Setelah itu, mereka mendapat tugas untuk menjalankan misi 'operasi psikologis'.
© Dream
Mantan karyawan Bill Pottinger, Martin Wells mengatakan, dia dikontrak perusahaan itu sebagai editor video. Dia diminta untuk mengedit konten 'operasi psikologis' di Camp Victory.
Dalam pembuatan tayangan, para kru film diminta untuk membuat video pemboman dengan gambar kualitas rendah. Perusahaan kemudian mengedit untuk membuatnya seolah-olah terlihat cuplikan berita.
Tak jarang, perusahaan itu membuat rekaman Al-Qaeda palsu yang disertakan pada setiap operasi penyergapan yang dilakukan militer Amerika Serikat.
" Kami perlu membuat gaya pada video yang dibuat dan kami harus menyertakan sumbernya dari Al-Qaeda," kata Wells.
© Dream
Selain bekerja sama dengan militer Amerika Serikat, perusahaan itu dikenal kerap bekerja sama dengan pemerintah Arab Saudi dan yayasan milik diktator Chili, Augusto Pinochet untuk membuat propaganda rahasia.
Pentagon tak hanya sekali bekerja dengan perusahaan komunikasi publik semacam Bill Pottinger. Pada 2009, Pentagon telah menyewa perusahaan komunikasi publik yang namanya cukup kontroversial, The Rendon Group. Perusahaan itu disewa untuk memonitor laporan wartawan yang telah ditanam militer Amerika Serikat di perusahaan tempat dia bekerja.
Selain dua nama perusahaan itu, militer Amerika Serikat turut mengampanyekan misi perang di Iraq pada 2005. Peristiwa itu muncul setelah perusahaan komunikasi publik Lincoln Group mengirimkan artikel ke sejumlah media massa. Artikel itu ditulis secara rahasia oleh militer Amerika Serikat.