Perubahan Iklim, Penyebab Alien Tak Muncul

Reporter : Sandy Mahaputra
Rabu, 18 Juni 2014 08:13
Perubahan Iklim, Penyebab Alien Tak Muncul
Berbagai penjelasan mengapa manusia bumi tidak melihat alien telah muncul. Ada yang menyebut perjalanan antar galaksi itu tidak mungkin dilakukan atau mungkin peradaban alien tersebut sudah hancur.

Dream - Fisikawan Enrico Fermi yakin suatu saat sebuah peradaban yang cukup maju melakukan perjalanan antar bintang dan mengisi seluruh galaksi. Itulah yang dikenal sebagai Fermi Paradox. Namun hingga kini, manusia di bumi belum sekalipun melakukan kontak dengan kehidupan yang digambarkan oleh Fermi tersebut.

Berbagai penjelasan mengapa manusia bumi tidak melihat alien telah muncul. Ada yang menyebut perjalanan antar galaksi itu tidak mungkin dilakukan atau mungkin peradaban alien tersebut sudah hancur.

Tetapi setiap penemuan baru dari sebuah planet yang berpotensi layak huni, Fermi Paradox menjadi semakin misterius. Masalahnya, mungkin ada ratusan juta planet layak huni di galaksi Bima Sakti.

Kesan tersebut diperkuat penemuan terakhir yang disebut 'Mega-Earth', sebuah planet berbatu berukuran 17 kali lebih besar dari bumi, tetapi memiliki atmosfer tipis.

Sebelumnya, Mega-Earth diduga memiliki atmosfer sangat tebal sehingga permukaannya diselimuti oleh temperatur dan tekanan yang tidak mendukung kehidupan. Tetapi jika hal ini tidak benar, ada kategori baru bagi planet-planet yang berpotensi bisa dihuni di gugusan bintang.

Perubahan Iklim

Jadi kenapa tidak kita melihat peradaban maju tersebar di alam semesta? Satu penyebabnya mungkin perubahan iklim. Ini tidak berarti bahwa peradaban maju selalu menghancurkan diri mereka sendiri dengan memanaskan biosphere mereka secara berlebihan (walaupun kemungkinan tersebut bisa terjadi).

Sebaliknya, mungkin karena bintang menjadi lebih terang dengan bertambahnya usia mereka, sehingga sebagian besar planet yang awalnya memiliki iklim ramah kehidupan menjadi sangat panas jauh sebelum kehidupan 'cerdas' akan muncul.

Selama 4 miliar tahun, bumi diselimuti cuaca yang baik meskipun matahari memiliki panas lebih dari saat ia terbentuk. Diperkirakan jumlah pemanasan ini berkat metode memprediksi konsekuensi dari emisi gas dan efek rumah kaca.

Menurut metode tersebut bumi seharusnya memanas beberapa derajat celcius untuk setiap persentase kenaikan panas di permukaannya.

Selama setengah miliar tahun, suhu permukaan matahari meningkat sebesar 4 persen dan suhu alam semesta juga telah meningkat sekitar 10 celcius. Namun, dari catatan geologi menunjukkan suhu rata-rata bumi justru turun.

Ekstrapolasi sederhana menunjukkan bahwa selama sejarah hidup manusia, suhu harusnya meningkat hampir 100 celcius. Jika itu benar, kehidupan awal manusia haruslah muncul pada saat planet membeku. Namun, bumi masih muda memiliki air di permukaannya. Jadi apa yang terjadi?

Jawabannya adalah tidak hanya matahari yang berubah, tapi bumi juga ikut berevolusi. Bumi berkembang dengan munculnya tanaman darat sekitar 400 juta tahun lalu. Itu mengubah komposisi atmosfer dan jumlah panas ke bumi dengan memantulkannya kembali ke ruang angkasa.

Ada juga perubahan geologi di mana beberapa benua terus tumbuh seiring waktu sebagai aktivitas vulkanik. Hal itu menambah massa tanah sehingga memiliki efek pada lingkungan dan reflektifitas bumi terhadap panas matahari.

Hebatnya, evolusi biologi dan geologi umumnya menghasilkan pendinginan dan ini juga mengurangi efek pemanasan dari matahari yang makin menua. Dengan demikian, bumi telah mengatur perubahan iklim secara ajaib selama empat miliar tahun.

Planet alien harusnya bekerja seperti bumi dalam menangkal pemanasan akibat matahari. Planet yang memiliki air cocok untuk kehidupan dan akan memiliki iklim yang seperti bumi, sangat sensitif terhadap perubahan.

Namun, alam semesta sangat besar dan hanya beberapa planet yang memiliki persyaratan agar layak dihuni. Mungkin bumi adalah salah satu planet yang beruntung. Jadi, mungkin mau tidak mau, perubahan iklim akan tetap menjadi kutukan dari kelangsungan kehidupan di planet bumi.

(Ism, Sumber: Space.com)

 

Beri Komentar