Protes Iran, Garis Waktu Kematian Mahsa Amini

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 10 Oktober 2022 20:13
Protes Iran,  Garis Waktu Kematian Mahsa Amini
Wanita muda itu tewas di tahanan polisi moral atau polisi syariah Iran.

Dream – Wanita itu seperti tengah melihat ke kejauhan. Ia mengenakan kerudung hitam. Tapi bukan hijab. Rambutnya masih sedikit terlihat. Foto wanita itu kini terus hadir di kerumunan massa yang memenuhi jalan-jalan di sekujur kota Iran.

Sudah lebih dari empat pekan, Iran telah diguncang oleh aksi protes massal di beberapa kota sejak wanita dalam foto itu, Mahsa Amini, meninggal dalam tahanan polisi moral atau polisi syariah pada 16 September 2022, tiga hari setelah dia ditangkap karena diduga mengenakan " pakaian yang tidak pantas."

Polisi menuduh Amini, seorang wanita Kurdi berusia 22 tahun, melanggar undang-undang yang mewajibkan wanita untuk menutupi rambut mereka dengan hijab, atau jilbab, serta lengan dan kaki mereka dengan pakaian longgar. Sejak dia meninggal, protes telah meletus di seluruh Iran dan di tempat lain di kawasan itu, termasuk Istanbul, ibu kota Turki, di mana terdapat populasi besar orang Kurdi.

Protes itu  adalah yang terbesar di Iran sejak tahun 2019, ketika pasukan keamanan menindak keras para demonstran yang berbaris menentang kenaikan  harga bahan bakar minyak atau BBM di masa rezim Ayatollah Ali Khamenei. Selama protes itu, 304 orang dikabarkan tewas.

Berikut adalah garis waktu bagaimana asal mula protes baru-baru ini berlangsung:

1979: Republik Islam Iran Berdiri
Setelah berbulan-bulan aksi protes terhadap pemerintahannya, pada 16 Januari 1979, Shah Iran yang didukung AS, Mohammed Reza Pahlavi, lari meninggalkan negara itu.

Pemimpin revolusioner Ayatullah Ruhollah Khomeini kembali ke Iran dengan penuh kemenangan dari pengasingan di Paris pada 1 Februari.

Ayattulah Ruhollah Khomeini

(Ayattulah Ruhollah Khomeini saat tiba di Iran/Wikipedia)

Sepuluh hari kemudian, pemerintahan Shah jatuh. Radio publik memuji “ akhir dari 2.500 tahun despotisme”.

Republik Islam resmi diproklamasikan pada tanggal 1 April.

1979-81: Krisis penyanderaan Kedubes AS di Teheran
Mahasiswa yang mendukung Khomeini menyandera 52 orang Amerika di Kedutaan Besar Amerika Serikat  di Teheran pada 4 November 1979, untuk memprotes masuknya mantan Shah ke rumah sakit di Amerika Serikat.

Penyanderaan Kedubes AS di Teheran

(Penyanderaan staf Kedubes AS di Teheran/Bosotn Globe)

Washington memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran pada tahun 1980.

Para sandera baru dibebaskan pada 20 Januari 1981.

1980-88: Perang Iran-Irak
Irak menyerang Iran pada 22 September 1980, setelah presiden Irak Saddam Hussein merobek perjanjian 1975 tentang jalur air strategis Shatt al-Arab.

Ini memicu perang delapan tahun yang melelahkan yang diperkirakan menelan ratusan ribu nyawa di kedua sisi.

Perang Irak-Iran

(Perang Irak-Iran/BBC)

Perang itu baru berakhir pada 20 Agustus 1988 dengan gencatan senjata yang ditengahi PBB.

1989: Fatwa Rushdie
Ayatullah Khomeini mengeluarkan fatwa pada 14 Februari 1989, menyerukan kematian penulis Salman Rushdie atas apa yang oleh pemimpin tertinggi Irasn itu dianggap sebagai sifat penghujatan pada Nabi Muhammad SAW dari buku karyanya " The Satanic Verses" atau “ Ayat-Ayat Setan”

Rushdie menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam persembunyian. Lebih dari tiga dekade kemudian, pada Agustus 2022, dia terluka parah dalam penusukan di atas panggung di sebuah acara di New York.

1989: Khamenei mengambil alih
Khomeini meninggal pada 3 Juni 1989. Ayatollah Ali Khamenei, presiden sejak 1981, menjadi pemimpin tertinggi Iran.

Ayatollah Ali Khamenei,

(Ayatollah Ali Khamenei/ Wikimedia Commons)

Akbar Hashemi Rafsanjani yang konservatif moderat terpilih sebagai presiden beberapa minggu kemudian.

Terpilih kembali pada tahun 1993, Rafsanjani mengatur keterbukaan relatif terhadap pemerintah dan rekonstruksi pascaperang.

1999: Protes mahasiswa
Penerus reformis Rafsanjani, Mohammad Khatami, menghadapi oposisi konservatif selama dua masa jabatannya dari 1997 hingga 2005

Pada tahun 1999, pemerintah menghadapi protes terbesar sejak tahun 1979, yang menghadapkan mahasiswa pro-Khatami melawan polisi.

2002: ‘Poros kejahatan’
Presiden AS George W. Bush menyebut Iran sebagai bagian dari " poros kejahatan" anti-Amerika dengan Irak dan Korea Utara, dan menuduhnya mendukung terorisme.

2005: era Ahmadinejad
Tokoh populis Mahmoud Ahmadinejad terpilih sebagai presiden pada Juni 2005.

Mahmoud Ahmadinejad

(Mahmoud Ahmadinejad/CBS News)

Selama masa jabatannya, Iran melanjutkan pengayaan uranium, yang telah disepakati untuk dibekukan sebelumnya. Itu membuat negara Barat khawatir, dan encurigai Teheran ingin memproduksi senjata nuklir, sesuatu yang secara konsisten dibantah Iran.

Tindakan keras terhadap protes nasional terhadap sengketa pemilihan kembali Ahmadinejad pada Pemilu tahun 2009 membuat gerakan reformis tertatih-tatih.

2015: Kesepakatan nuklir
Terpilihnya ulama moderat Hassan Rouhani sebagai presiden pada tahun 2013 menandai pendinginan hubungan dengan Barat.

Iran mencapai kesepakatan tentang program nuklirnya dengan kekuatan dunia, termasuk Amerika Serikat, pada 14 Juli 2015 setelah 21 bulan negosiasi.

Ini memberikan bantuan kepada Teheran dari sanksi ekonomi yang melumpuhkan dengan imbalan pembatasan aktivitas atomnya.

2018: AS keluar dari kesepakatan nuklir
Presiden AS Donald Trump pada 8 Mei meninggalkan kesepakatan nuklir dan mulai menerapkan kembali sanksi sepihak terhadap Iran.

Setahun kemudian Teheran mulai secara bertahap mundur dari komitmennya sendiri. Negosiasi pada 2021-2022 untuk menghidupkan kembali kesepakatan berulang kali tersandung.

2019: Protes massal BBM naik
Kenaikan harga BBM pada November 2019 memicu protes besar.

Protes BBM naik di Iran

(Protes BBM naik di Iran menewaskan 304 orang/BBC)

Tindakan keras terhadap demonstrasi di Iran menyebabkan 304 orang tewas, menurut Amnesty International.

2020: Komandan tertinggi, ilmuwan terbunuh
Serangan pesawat tak berawak AS pada 3 Januari 2020 menewaskan komandan militer tertinggi Iran Qasem Soleimani di Irak, meningkatkan kekhawatiran akan konfrontasi langsung setelah serangkaian insiden yang melibatkan pengiriman senjata ke negara Teluk.

Lima hari kemudian, Iran meluncurkan tembakan rudal ke pasukan AS yang ditempatkan di Irak, tetapi kebuntuan kemudian mereda.

Pada bulan November, ilmuwan nuklir terkemuka Mohsen Fakhrizadeh tewas dalam serangan terhadap mobilnya di dekat kota Teheran. Iran menyalahkan pembunuhan itu pada Israel.

2021: Presiden ultrakonservatif terpilih
Ebrahim Raisi, mantan kepala hakim ultrakonservatif, terpilih sebagai presiden pada Juni 2021, dalam pemungutan suara yang ditandai dengan jumlah pemilih yang rendah.

Presiden Ebrahim Raisi

(Presiden Ebrahim Raisi/Al Monitor)

13 September 2022: Mahsa Amini ditangkap polisi moral
Mahsa Amini, wanita yang berasal dari kota barat laut Saqez, ditangkap di Teheran oleh " polisi moralitas" Iran yang terkenal, yang menuduhnya melanggar undang-undang negara yang mewajibkan wanita untuk menutupi rambut mereka sepenuhnya dengan jilbab.

Polisi moral adalah bagian dari Pasukan Penegakan Hukum Iran (LEF), yang telah dituduh kerap melakukan pelanggaran hak asasi manusia.

Amini dilaporkan dipukuli setelah penangkapannya dan dipindahkan ke Pusat Penahanan Vozara di Teheran.

16 September 2022: Amini Meninggal
Amini meninggal di rumah sakit setelah mengalami koma selama tiga hari.

Mahsa Amini

(Mahsa Amini saat dirawat ketika koma dan saat masih hidup/WION)

Pihak berwenang Iran mengatakan dia mengalami serangan jantung, tetapi keluarganya menolaknya. Pakar PBB mengutip beberapa laporan yang mengatakan dia meninggal akibat penyiksaan dan perlakuan buruk oleh pihak berwenang.

16 September 2022: Protes Dimulai
Ribuan demonstran turun ke jalan di banyak kota, termasuk Teheran, Ilam, Isfahan, Mahabad, Saqez, Sari dan Tabriz, untuk menuntut pertanggungjawaban atas kematian Amini dan diakhirinya kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan dan anak perempuan di Iran.

Pakar PBB menggambarkan protes itu sebagai aksi " damai" tetapi mengatakan personel keamanan Iran menggunakan " penggunaan kekuatan yang berlebihan" untuk menahan para aktivis, termasuk menembakkan tembakan burung dan pelet logam lainnya.

Sementara itu, perempuan Iran membakar jilbab dan memotong rambut untuk memprotes kurangnya hak-hak perempuan di negara mereka.

Ada juga kemarahan atas ekonomi yang tengah sakit di Iran, yang telah terkena sanksi ekonomi yang melumpuhkan yang dijatuhkan oleh Barat, serta kemarahan atas kurangnya kebebasan di negara itu, terutama bagi perempuan.

Hak Asasi Manusia Iran (IHR), sebuah organisasi non-pemerintah yang berbasis di Oslo, Norwegia, mengatakan pada hari Kamis bahwa protes telah menyebar ke lebih dari 30 kota di Iran.

19 September 2022: Internet Dimatikan di Tengah Protes
Iran mulai membatasi akses online dan menutup internet mulai Senin, sehingga informasi tentang protes terbatas. Namun, video kekerasan telah menyebar di jaringan media sosial.

Pada hari Rabu, Iran memblokir akses ke Instagram dan WhatsApp, dua dari jaringan media sosial aktif yang tersisa di negara itu di tengah protes, menurut pengawas internet. NetBlock.

Protes berlanjut hari itu, dengan satu video yang dibagikan di media sosial oleh 1500tasvir menunjukkan ratusan orang di Universitas Teheran meneriakkan " Matilah diktator."

22 September 2022: Polisi Moralitas Disanksi AS, Tanggapan PBB
Pada hari Kamis, Departemen Luar Negeri AS memberikan sanksi kepada polisi moral Iran dan tujuh pejabat atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Iran.

Ketujuh orang itu termasuk Haji Ahmad Mirzaei dan Mohammad Rostami Cheshmeh Gachi, pejabat senior di polisi moral.

Yang lainnya adalah Ismail Khatib, menteri intelijen Iran; Manouchehr Amanollahi, komandan LEF provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari; Qasem Rezaei, wakil komandan LEF; Kiyumars Heidari, komandan pasukan darat angkatan darat Iran; dan Salar Abnoush, wakil komandan Basij, milisi paramiliter dan pasukan tambahan Korps Pengawal Revolusi Islam.

" Orang-orang ini semuanya terlibat dalam penindasan dan pembunuhan pemrotes tanpa kekerasan," kata Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dalam sebuah pernyataan yang mengumumkan sanksi.

Pakar PBB mengatakan dalam sebuah pernyataan: “ Kami sangat mengutuk penggunaan kekerasan fisik terhadap perempuan dan penolakan martabat manusia yang mendasar ketika menegakkan kebijakan jilbab wajib yang ditahbiskan oleh otoritas Negara.

" Kami meminta pihak berwenang Iran untuk mengadakan penyelidikan yang independen, tidak memihak, dan segera atas kematian Amini, membuat temuan penyelidikan publik dan meminta pertanggungjawaban semua pelaku," kata pernyataan PBB.

IHR mengatakan pada hari Kamis bahwa setidaknya 31 warga sipil telah tewas dalam tindakan keras oleh pasukan keamanan Iran sebagai tanggapan atas protes tersebut.

3 Oktober 2022: Sudah 133 Demonstran tewas
Hari Minggu, 3 Oktober 2022, menandai hari ke-16 protes berturut-turut di seluruh Iran setelah kematian Mahsa Amini, seorang wanita Kurdi berusia 22 tahun yang meninggal setelah dia ditahan oleh apa yang disebut polisi moral karena diduga melanggar hukum jilbab Iran.

Menurut kelompok Hak Asasi Manusia Iran atau IHR yang berbasis di Norwegia, 133 orang telah tewas sejak protes dimulai. Pada hari Minggu, polisi menembakkan gas air mata dan bola cat ke pengunjuk rasa mahasiswa di Universitas Teheran.

Sementara itu, Komite Perlindungan Jurnalis melaporkan setidaknya 28 jurnalis dan fotografer telah ditangkap saat meliput aksi protes di Iran.

Hingga berita ini ditulis, aksi protes masih terjadi di Iran. (eha)

Sumber: Newsweek,  US News, Channelstv, Democracy Now

Beri Komentar