Protes Iran, Gejolak Akibat Kematian Tragis Mahsa Amini

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 10 Oktober 2022 21:12
Protes Iran, Gejolak Akibat Kematian Tragis Mahsa Amini
Sudah 133 pemrotes yang tewas.

Dream – Seorang anggota pasukan paramiliter Basij berdiri di atas podium sebuah sekolah puteri tingkat sekolah menengah pertama di kota Shiraz Iran, pada Selasa 4 Oktober 2022.  

Pria itu menggunakan pakaian hijau tentara dan bediri saat hari masih pagi. Di atas podium ia menghadap ratusan siswi yang berdiri di lapangan upacara. Video pria itu tayang di media sosial dan viral karena sudah ditonton hingga 6,1 juta kali.

Basij, atau “ Niru-ye Moghāvemat-e Basij,” adalah Pasukan Mobilisasi Perlawanan, salah satu dari lima kekuatan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC). Pasukan paramiliter itu bernama Basij, anggotanya disebut Basiji dalam bahasa Persia.

Basij adalah sebuah milisi relawan paramiliter yang didirikan di Iran pada tahun 1979 atas perintah Ayatullah Rohullah Khomeini, pemimpin Revolusi Iran. Organisasi ini awalnya terdiri dari relawan sipil yang dimobilisasi Khomeini untuk berperang dalam Perang Iran-Irak.

Basij berfungsi sebagai kekuatan tambahan yang terlibat dalam kegiatan seperti keamanan internal, penegakan kontrol negara atas masyarakat, bantuan penegakan hukum, memberikan layanan sosial, menyelenggarakan upacara keagamaan publik, menjaga moral, dan menekan pertemuan pembangkang. Basij menerima perintah dari IRGC dan Pemimpin Tertinggi Iran. Mereka dikenal karena kesetiaannya. Mereka memiliki organisasi lokal di hampir setiap kota di Iran.

Pria setengah baya dari kesatuan Basij itu, hadir di sekolah menengah pertama di sebuah sekolah putri di pekan ketiga setelah meluasnya aksi demo akibat kematian Mahsa Amini. Ia datang karena sekolah dan universitas baru memulai tahun ajaran baru yang dimulai Senin, 3 Oktober 2022.

Menurut BBC, video itu direkam di kota Shiraz pada hari Selasa, 4 Oktober 2022. Shiraz adalah sebuah kota yang terletak di Iran bagian barat daya. Penduduknya berjumlah 1.240.000 jiwa.

Namun yang mengejutkan, pria setengah baya berseragam militer itu justru terlihat diabaikan dan diolok-olok ratusan siswi pelajar sekolah menengah pertama itu.

Alih-alih mendengar apa yang disampaikan, para siswi itu malah mencopot hijab mereka dan mengibar-ngibarkannya di udara. Rambut para siswi itu terlihat jelas saat lembaran hijab itu ramai-ramai dilambaikan ratusan siswi ke udara.

Siswi pelajar di Iran mencopot hijab mereka sebagai protes kematian Mahsa Amini© Twitter

(Siswi pelajar di Iran mencopot hijab mereka sebagai protes kematian Mahsa Amini
/Twitter)

Para siswi sekolah itu terlihat mencela pria anggota pasukan paramiliter Basij yang ditakuti Iran itu, setelah protes anti-pemerintah yang melanda negara itu menyebar ke ruang kelas.

Para remaja itu mengibaskan jilbab mereka ke udara dan meneriakkan " menyingkir, Basiji" pada pria anggota paramiliter Basij yang awalnya ingin menenangkan mereka dan mencegah para siswi terlibat aksi demo solidaritas atas kematian Mahsa Amini.

Ini adalah episode terbaru di Iran. Aksi protes atas kematian Mahsa Amini itu telah memasuki pekan ketiga sejak aksi pertama meletus pada 17 September 2022. Kematian Mahsa Amini dalam tahanan menyebabkan kemarahan di kalangan warga Iran dan memicu protes nasional.

Ini adalah protes terbesar di Iran sejak November 2019 saat BBM naik yang menewaskan 304 orang demonstran. Bahkan sebuah kantor berita menyebut 1.500 orang tewas dalam aksi ptotes BBM tiga tahun lalu.

Lalu bagaimana cerita kematian Mahsa Amini?

***

Mahsa Amini merupakan wanita berusia 22 tahun yang berasal dari Saqqez di provinsi Kurdistan Iran.

Menurut ABC, dia sedang jalan-jalan di ibu kota Teheran  bersama abangnya pada 13 September 2022. Tiba-tiba setelah keluar dari stasiun kereta api di tengah kota Teheran, dia dipaksa masuk ke dalam van milik Gasht e Ershad atau semacam patroli polisi moral Iran.

Patroli polisi moral menegakkan aturan berpakaian wanita telah menjadi hukum di Republik Islam Iran sejak 1979. Mereka mengatakan jilbab Mahsa Amini terlalu longgar.

Mahsa Amini lalu dibawa ke pusat penahanan Vozara yang terkenal sebagai tempat para wanita melanggar aturan jilbab. Di sana tempat seseorang diajari tentang penampilannya yang tidak pantas.

Saat berada dalam tahanan polisi, dia mengalami koma dan meninggal tiga hari kemudian.

Menurut ibu Mahsa, putrinya sudah mematuhi aturan dan mengenakan jubah panjang yang longgar. Dia mengatakan, Mahsa ditangkap saat dia keluar dari kereta bawah tanah bersama saudara laki-lakinya.

Mereka sudah mengaku sebagai wisatawan tapi diabaikan polisi moral.

Pasukan keamanan Iran mengeluarkan pernyataan yang mengklaim Mahsa Amini tiba-tiba pingsan karena serangan jantung di pusat penahanan, saat menerima pelatihan pendidikan tentang aturan jilbab.

Keluarganya membantah klaim ini, mereka mengatakan dia sehat walafiat sebelum penangkapannya.

Kakaknya, Kiarash Amini mengatakan, dia sedang menunggu di luar pusat penahanan pada hari penangkapannya ketika dia mendengar teriakan dari dalam.

Mahsa Amini diduga mengalami gegar otak di tahanan polisi moral. Sebuah ambulans tiba dan seorang saksi yang keluar dari pusat penahanan mengatakan kepadanya bahwa pasukan keamanan telah membunuh seorang wanita muda di dalam.

Mahsa lalu dibawa dari fasilitas penahanan dengan ambulans ke rumah sakit tak lama setelah penangkapannya dan mengalami koma.

Sebuah foto dan video Mahsa Amini yang beredar luas di media sosial pada 15 September 2022 menunjukkan dia terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit dengan selang di mulut dan hidungnya. Darah mengalir dari telinganya dan memar di sekitar matanya.

Mahsa Amini saat dirawat di rumah sakit karena koma© Iranwire

(Mahsa Amini saat dirawat di rumah sakit karena koma/Iranwire)

Beberapa dokter Iran mengatakan di Twitter bahwa meskipun mereka tidak memiliki akses ke file medisnya, pendarahan dari telinga menunjukkan dia mengalami gegar otak akibat cedera di kepala.

Ayah Mahsa mengatakan bahwa putrinya tidak memiliki masalah kesehatan atau riwayat masalah jantung. Dia mengatakan putrinya tewas dan meminta polisi bertanggung jawab atas kematiannya.

Menurut BBC, terjadi kerusuhan saat Mahsa Amini dimakamkan hari Sabtu 17 September 2022.

Beberapa perempuan yang berdemonstrasi di tengah upacara pemakaman Amini dilaporkan melepas hijab mereka sebagai protes atas kewajiban mengenakan hijab di negara itu.

Dalam video yang beredar di dunia maya, para pelayat meneriakkan " matilah diktator" , dengan polisi kemudian menembaki kerumunan.

Pemakaman berlangsung di Saqez, kampung halaman Amini, yang terletak di Kurdistan, Iran bagian barat.

Dalam video lain yang beredar di media sosial, penduduk setempat berkumpul pagi-pagi sekali demi menghindari pasukan keamanan Iran mencegah mereka melakukan demonstrasi di pemakaman.

Laporan menunjukkan bahwa beberapa pengunjuk rasa yang marah berbaris menuju kantor gubernur setempat untuk memprotes kematian Amini.

Menurut video yang diterima dan diverifikasi oleh BBC Persia, pasukan keamanan menembaki pengunjuk rasa. Sejumlah warga dilaporkan cedera dan ditangkap.

Lalu aksi pun meluas ke seluruh Iran. Para advokat menuduh polisi moral memukuli Mahsa Amini. Tapi polisi menolak tuduhan itu. Kematian Amini telah memicu kemarahan luas di masyarakat. Baik orang biasa, beberapa pejabat, ulama senior, selebriti, hingga atlet sepak bola ikut marah atas kejadian tersebut.

Banyak yang mengutuk kekerasan yang tampak terhadapnya dan menyerukan diakhirinya praktik melecehkan serta menahan wanita karena tidak mematuhi aturan jilbab.

Aksi demonstrasi setelah kematian Amini dimulai pada 17 September 2022 dan telah menyebar ke lebih dari 80 kota di Iran. Sebagian besar demonstrasi terkonsentrasi di barat laut Iran yang berpenduduk Kurdi.

Demo di Ran akibat kematian Mahsa Amini© Sky News

(Demo di Ran akibat kematian Mahsa Amini/Sky News)

Sebuah kelompok hak asasi manusia, Hak Asasi Iran (IHR),  mengatakan sedikitnya 133 warga sipil tewas dalam kerusuhan itu, sementara televisi pemerintah menyebutkan jumlah korban tewas 40 orang.

Di Teheran dan beberapa kota Kurdi, pengunjuk rasa membakar kantor polisi dan kendaraan. Demonstrasi atas kematian Amini adalah yang terbesar di negara itu sejak protes meletus atas kenaikan harga BBM oleh pemerintah tahun 2009 yang menewaskan 304 orang.

Di dunia, video yang viral menunjukkan beberapa wanita merobek jilbab sebagai bentuk protes. Ada juga yang memotong rambut mereka saat demo. Unjuk rasa dan demonstrasi solidaritas juga diadakan di lebih 150 kota di seluruh dunia.

***

Protes atas kematian Mahsa Amini adalah protes terbesar di Iran sejak November 2019.

Menurut IranWire, aksi ini dimulai di Saqqez dan Sanandaj di provinsi Kurdistan, pada 17 September, dan dengan cepat menyebar ke semua provinsi di seluruh negeri dengan demonstrasi diadakan di setidaknya 83 kota.

Tetapi protes tersebut telah ditekan dengan keras oleh pasukan keamanan menggunakan peluru tajam dan senjata mematikan lainnya, yang sejauh ini telah menyebabkan kematian sedikitnya 133 orang, menurut lembaga pengawas hak asasi manusia, Hak Asasi Iran (IHR).

" Risiko penyiksaan dan perlakuan buruk terhadap pengunjuk rasa adalah hal serius dan penggunaan peluru tajam terhadap pengunjuk rasa adalah kejahatan internasional," kata Direktur IHR, Mahmood Amiry-Moghaddam.

Korban tewas telah meningkat sejak pasukan keamanan menembakkan peluru tajam ke pengunjuk rasa di provinsi Zahedan, Sistan dan Baluchestan, menewaskan sedikitnya 50 orang.

Rekaman protes menunjukkan pasukan keamanan menembaki para pengunjuk rasa dan penonton tanpa pandang bulu. Video menunjukkan mereka yang sudah ditahan dipukuli dan disetrum.

Dalam beberapa kasus, aparat keamanan terekam menembakkan gas air mata dan tembakan di kawasan pemukiman. Menurut Amnesty International, dokumen resmi yang bocor mengungkapkan bahwa Staf Umum Angkatan Bersenjata, badan militer tertinggi Iran, mengeluarkan perintah kepada komandan angkatan bersenjata di semua provinsi untuk " menghadapi dengan keras" setiap pengunjuk rasa.

Gangguan parah dalam komunikasi di Iran telah membuat verifikasi independen korban menjadi sangat sulit. Ketika protes telah menyebar, internet telah dimatikan atau sangat terganggu di sebagian besar negara. Sebagian besar platform media sosial internasional utama sudah dibatasi di Iran, dan perusahaan pemantau web NetBlocks telah mendeteksi pembatasan lebih lanjut pada WhatsApp, Instagram, dan Skype.

Selain itu, aparat keamanan secara sistematis berusaha menyembunyikan jumlah korban tewas yang sebenarnya dengan menangkap anggota keluarga korban atau mengancam mereka agar bungkam. Diklaim mereka telah secara diam-diam mengubur mayat para pengunjuk rasa yang terbunuh.

Dalam salah satu kasus terbaru, pasukan keamanan mengambil tubuh Nika Shakarami, gadis yang berusia 16 tahun dan diam-diam menguburnya tanpa kehadiran keluarganya dan menangkap bibinya Atash Shakarami yang berbicara kepada media tentang kematian Nika.
Tubuh Nika ditemukan 10 hari setelah dia berpartisipasi dalam protes pada tanggal 20 September.

Nika Shakarami,© Twitter

(Nika Shakarami, remaja 16 tahun yang tewas saat demo/Twitter)

IranWire menyimpan catatan langsung dari nama, gambar, dan detail semua orang yang dikonfirmasi secara independen telah tewas sejauh ini. Daftar tersebut dibuat dengan menggunakan berbagai sumber, termasuk saksi mata, keluarga dan kerabat korban, organisasi hak asasi manusia lokal dan internasional, serta media.

Daftar saat ini menunjukkan mayoritas pengunjuk rasa yang tewas berusia di bawah 25 tahun. Di antara mereka setidaknya ada 12 anak-anak berusia 15-17 tahun. Korban tewas tertinggi sejauh ini tercatat di provinsi Sistan dan Baluchestan diikuti oleh Gilan, Mazandaran dan Azerbaijan Barat.

Demografi para pengunjuk rasa yang terbunuh menunjukkan bahwa pasukan keamanan menggunakan kekuatan mematikan dalam skala yang lebih besar di provinsi-provinsi perbatasan seperti Sistan dan Baluchestan dan Azerbaijan Barat, di mana mayoritas penduduknya adalah kelompok etnis dan agama minoritas.

Menurut temuan IranWire, penyebab kematian sebagian besar kasus adalah tembakan langsung oleh pasukan keamanan ke organ vital pengunjuk rasa, sebagian besar di kepala atau dada. Dalam kasus Zahedan, peluru tajam juga ditembakkan ke arah pengunjuk rasa dari helikopter militer yang tidak diragukan lagi menembak untuk membunuh.

Nama-nama korban tewas juga diterbitkan oleh IranWire telah dikonfirmasi oleh setidaknya dua sumber. Ada 119 nama yang sudah terkonfirmasi.

***

Masalah hijab memang memiliki sejarah kebijakan yang saling bertentangan di Iran.

Pada era 1930-an di era kepemimpinan Jendral Reza Khan, ayah dari Shah Iran Mohamad Reza Pahlavi, yang sangat kontroversial adalah penggantian hukum Islam dengan hukum Barat dan pelarangan pakaian tradisional Islam, dan pelarangan memakai kerudung wajah wanita atau jijab dengan niqab. Polisi secara paksa melepaskan dan merobek cadar wanita yang menolak larangan mengenakan jilbab di depan umum.

Setelah Revolusi Iran tahun 1979 dan referendum pendirian Republik Islam di masa Ayatullah Rohulllah Khomeini, hijab jadi kewajiban bagi setiap wanita Iran. Polisi moral didirikan untuk mengontrol penggunaan hijab yang benar.

Wanita Iran sebelum dan sesudah Revolusi Islam© Twitter

(Wanita Iran sebelum dan sesudah Revolusi Islam/Twitter)

Polisi moralitas, yang secara resmi dikenal sebagai " Gasht-e Irsyad" atau Patroli Pembimbing, ditugaskan, antara lain, untuk memastikan perempuan sesuai dengan interpretasi pihak berwenang tentang pakaian " yang pantas.”

Petugas memiliki kewenangan untuk menghentikan perempuan dan menilai apakah mereka memperlihatkan terlalu banyak rambut; celana panjang dan mantel terlalu pendek atau pas; bahkan memakai terlalu banyak rias wajah.

Hukuman jika melanggar aturan termasuk mulai dari denda, penjara hingga cambuk.

Lalu terjadilah kematian Mahsa Amimi di tahanan polisi moral. Dan ini memicu meluasnya aksi protes yang sampai tulisan ini dibuat sudah masuk minggu ketiga, walaupun internet di berbagai negara bagian dimatikan pemerintah Iran untuk menekan demonstrasi. Banyak pengguna internet  mengatakan mereka tidak dapat mengunggah video di Instagram atau mengirim konten melalui WhatsApp.

Banyak orang Iran, termasuk individu dan tokoh pro-pemerintah, mengekspresikan kemarahan mereka di platform media sosial mengenai keberadaan polisi moral, juga dikenal sebagai Patroli Pembimbing. Unggahan mereka disertai tagar yang diterjemahkan sebagai Patroli Pembunuhan.

Presiden Iran Ebrahim Raisi, yang berhaluan garis keras, telah memerintahkan Kementerian Dalam Negeri untuk melakukan penyelidikan atas kematian tersebut.

" Kami semua sedih dengan insiden tragis ini. Namun kekacauan tidak dapat diterima. Garis merah pemerintah adalah keamanan rakyat kita: Kita tidak bisa membiarkan orang mengganggu kedamaian masyarakat melalui kerusuhan," kata Raisi dalam sebuah wawancara dengan TV pemerintah Rabu, 28 September 2022.

Media pemerintah mencap para pengunjuk rasa " munafik, perusuh, preman dan penghasut" . Sementara televisi pemerintah mengatakan polisi bentrok dengan " perusuh" di beberapa kota.

Dilansir Al Arabiya, kematian Amini memang menimbulkan aksi protes di puluhan kota di seluruh Iran. Menurut video yang dibagikan oleh akun @1500tasvir di Twitter menunjukkan, beberapa perempuan melepas jilbab mereka dalam aksi protes. Bahkan beberapa perempuan lainnya membakar jilbab mereka. Peristiwa bakar jilbab ini belum pernah terjadi di Iran. Iran telah mewajibkan jilbab bagi seluruh perempuan setelah revolusi 1979.

Protes juga pecah di dua kota konservatif yaitu Masyhad dan Qom.  Mashhad adalah tempat kelahiran Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei dan merupakan rumah bagi kuil Imam Syiah kedelapan. Sementara  Qom dianggap sebagai " ibu kota agama" Iran karena menjadi basis banyak ulama senior Syiah. Salah satunya Ayatullah Rohullah Khomeini. Kota ini juga merupakan rumah bagi tempat suci tokoh penting Syiah lainnya.

Sementara itu, Pemimpin Iran tertinggi Ayatullah Ali Khamenei pada Senin, 3 Oktober 2022, akhirnya berbicara. Ia mengutarakan dukungan penuh pada aparat keamanan Iran untuk menindak tegas demonstran yang brutal, menyusul terjadinya gelombang unjuk rasa kemarahan atas kematian Mahsa Amini di dalam tahanan.

Ayatullah Ali Khaemini© BBC

(Ayatullah Ali Khamenei/BBC)

“ Kematian Amini sungguh membuat saya bersedih. Ini adalah insiden yang pahit, yang diprovokasi oleh musuh-musuh Iran,” kata Khamenei, dalam pernyataannya yang pertama terkait kematian Amini.

Menurut Al Jazzera, Ayatullah Ali Khamenei juga menyalahkan Amerika Serikat dan Israel atas protes yang telah mencengkeram negara itu selama lebih dari dua minggu, menuduh negara-negara itu berusaha menghentikan “ kemajuan” Iran.

Khamenei pada hari Senin mencap protes anti-pemerintah, beberapa yang terbesar di negara itu selama bertahun-tahun, sebagai " kerusuhan" .

Pemimpin berusia 83 tahun itu sebelumnya tetap diam atas protes, yang meletus setelah seorang wanita Kurdi berusia 22 tahun, Mahsa Amini, meninggal bulan lalu dalam tahanan polisi moral Iran.

“ Saya katakan secara eksplisit bahwa kerusuhan dan ketidakamanan ini adalah desain oleh AS serta rezim Zionis palsu (Israel) dan mereka yang dibayar oleh mereka, dan beberapa pengkhianat Iran di luar negeri membantu mereka,” kata Khamenei kepada taruna polisi yang baru lulus di sebuah universitas di Teheran.

“ Dalam kecelakaan yang terjadi, seorang wanita muda meninggal, yang juga membuat kami sedih, tetapi reaksi atas kematiannya sebelum penyelidikan (berlangsung) … ketika beberapa orang datang untuk membuat jalanan tidak aman, membakar Quran, melepas jilbab, dan membakar masjid dan mobil orang –itu bukan reaksi normal dan alami,” kata Khamenei.

Terlepas dari itu, kematian Mahsa Amini memang boleh dibilang tragis. Dan sia-sia. Iran sedikit mirip-mirip Indonesia soal hijab. Awalnya dibatasi, lalu kini berkembang luas. Pada masa Orde Baru di Indonesia, penggunaan hijab sampat dibatasi. Setelah Orde Baru tumbang, pemakaian hijab tumbuh secara organik sebagai budaya baru. Kita tidak tahu apakah akan ada ekses seperti di Iran jika hijab diwajibkan dan polisi moral dibuat untuk mengontrol cara menggunakan hijab yang benar. Hanya waktu yang bisa menjawab. (eha)

Sumber: BBC, ABC, IranWire, Al Arabiya, Al Jazeera

Beri Komentar