Punk Muslim, Anti-kejahiliyahan

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 31 Maret 2016 20:35
Punk Muslim, Anti-kejahiliyahan
"Masak iya kalau mati, terus-terusan sambil pegangin botol," kata-kata itu terus bergelayut di kepala pemuda yang tengah mabuk itu.

Dream - " Masak iya kalau mati, terus-terusan sambil pegangin botol?” kata si pemuda pemabuk itu. Setengah sadar, kuping pemuda itu mendengar ceramah. Petuah dari ustaz yang berada di dalam ruang tiga kali empat meter itu. Pesan-pesan itu seperti angin lalu. Tak disimak. Namun ada juga yang menyangkut di otak pemuda yang sedang teler itu.

Tubuhnya kuyu. Mata memerah. Omongan ngelantur, tak karuan. Bau alkohol menyeruak dari mulut. Menyengat. Pemuda berbaju kumal itu tengah high alias mabuk berat. Kesadarannya direnggut alkohol. Minuman haram yang baru saja ditenggak.

Tubuh kerempeng itu terus melaju. Sempoyongan, menyusuri gang sempit. Langkahnya terhenti di depan sebuah rumah. Tempat belasan remaja berkerumun. Tanpa permisi, pemuda itu duduk. Berjejal dengan teman-teman yang juga berpakaian lusuh.

Dia Anggi Setiawan. Anak Punk yang menghabiskan hidup di jalanan Ibukota. Memang begitu kehodipan kehidupan Anggi silam. Mabuk, ngamen, dan tidur di pinggir jalan. Tak jarang menjadi buruan aparat, karena diangap meresahkan.

Tapi, dia masih mengenang pesan pak ustaz dalam pengajian yang dia ikuti enam tahun lalu itu. Kebiasaan buruk itu sudah menjadi lembar hitam di masa kelam. Sudah ditanggalkan. Semua berubah setelah ikut pengajian dan bergabung ke dalam Punk Muslim. Komunitas di Pulogadung, Jakarta Timur, yang menampung dan membina anak-anak Punk untuk mengenal agama.

“ Saya mengalami titik jenuh. Bayangkan saja selama dua tahun bergelut dengan alkohol dan obat-obatan. Saya ingin berubah,” tutur Anggi.

***
Komunitas Punk Muslim yang mengenalkan nilai Islam kepada Anggi itu berawal darigrup musik. Namanya sama dengan komunitas itu. Punk Muslim. Band ini beken di kalangan anak Punk. Tiga album sudah ditelurkan. Berisi pesan-pesan Islam, berbalut gaya musik punk.

Keberadaan Punk Muslim sudah diakui di kalangan undeground. Penggemar banyak. Lagu-lagunya dinyanyikan di setiap tongkrongan anak-anak Punk. Tak ingin hanya bersyiar lewat lagu, band ini kemudian membuat terobosan untuk berdakwah merangkul komunitas Punk untuk mengenal ajaran agama.

“ Kemudian dari situ tercetus untuk mengumpulkan teman-teman Punk untuk berkumpul menyampaikan ide. Bikin aktivitas yang positif,” ucap Ahmad Zaki, pendamping band Punk Muslim, saat ditemui Dream di Jakarta, Senin, 28 Maret 2016.

Digalanglah anak-anak Punk yang hidup di jalanan. Mereka melakukan konsolidasi. Menyamakan visi dan misi: hidup sebagai seorang Punk yang tak melupakan ajaran Islam. Komunitas ini kemudian resmi diperkenalkan pada tahun 2009.

Berdakwah kepada anak-anak Punk tidaklah mudah. Perlu pendekatan khsuus. Sebab, selama ini anak-anak Punk itu hidup di jalanan. Dengan aturan sendiri. “ Pola pendekatannya berbeda-beda. Yang kami lakukan kemudian biasanya bertukar pikiran saja,” ucap Zaki.

Dakwah ini memang menguras waktu, tenaga, dan juga perlu biaya. Tak jarang Zaki dan kawan-kawan harus merogoh kocek sendiri. Dan bahkan, beberapa bulan lalu, motor Zaki dibawa kabur oleh salah satu anak Punk.

“ Saya sempat down di situ. Motor beserta STNK, hilang dibawa kabur,” kata dia.

Tapi, Zaki tak lantas patah arang. Dia pasrah dan meneruskan dakwah. “ Ya mau apa lagi. Ikhlaskan saja sudah,” ucap Zaki.

Itu kisah dari dalam komunitas. Tantangan lain juga datang dari masyarakat. Saat awal didirikan, banyak warga yang memandang “ aneh” pada Punk Muslim. Bahkan,kegiatan komunitas ini kerap disangka sebagai gerakan ekstrem dan sesat.

Zaki masih ingat betul pada salah satu pengajian mereka di kawasan Sumur Bor, Jakarta Timur. Kegiatan itu memang dilakukan saat isu terorisme mencuat. Dan kegiatan Punk Muslim dihentikan oleh ketua Rukun Tetangga (RT) setempat, bahkan disebut kegiatan yang sesat. “ Kami mengaji kok dianggap sesat,” ujar Zaki.

Tapi itu hanya dianggap ujian oleh komunitas ini. Punk Muslim terus mengadakan kegiatan-kegiatan positif. Sehingga lambat laun masyarakat menerima dan tidak lagi menyematkan label aneh dan sesat kepada mereka.

Menurut Zaki, konsep yang diperjuangkan oleh Punk Muslim adalah kemanusiaan dan solidaritas, yang juga menjadi bagian dari ajaran Islam. “ Nilai filosofis dari teman-temanStreets Punk ialah pemahaman solidaritas.”

“ Kalau di Islam ada istilahnya yaitu ukhuwah. Hanya beda di-value-nya saja,” ucap Zaki.

Sejumlah anak Punk yang bergabung ke dalam komunitas ini juga telah meninggalkan atribut lamanya. Rambut tak lagi berkaya mohawk, piercing, dan pakaian lusuh yang selama ini menjadi identitas mereka telah ditanggalkan. Menjadi lebih rapi. Jikalau ada, itu merupakan sisa-sisa rajah tubuh yang jadi pengingat masa lalu.

“ Kalau ada yang hobinya tato misalnya, mereka kini diarahkan untuk nyablon di baju. Jadi kita tidak memunculkan simbol-simbol lama itu. Semua yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam ya dilepas,” papar Zaki.

Identitas Muslim pada komunitas ini juga menggusur konsep perlawanan yang selama ini diusung anak-anak Punk. Konsep itu tidak lagi melulu perlawanan terhadap kapitalisme dan penguasa.

“ Konsep perlawanan misalnya, mereka diarahkan untuk melawan kebodohan, kemalasan, dan kejahiliyahan. Sehingga mereka melawan dengan nilai-nilai ibadah,” kata Zaki.

Begitu jargon anti-kemapanan. Lambat laun bergeser. Anti-kemapanan yang ada kini dimaknai sebagai tidak ditempatkannya suatu standar tertentu, seperti misalnya kesuksesan.

“ Walhasil, semua teman-teman Punk terus bekerja untuk mencukupi kehidupannya. Ada yang mulai meninggalkan kehidupan jalanan dengan membuka usaha, tapi masih ada juga yang tetap mengamen. Sah-sah saja,” ujar Zaki.

***
Dan perubahan yang dipaparkan Zaki itu juga terjadi pada Anggi. Saat Ramadan tahun lalu misalnya, mereka membuat program bersih-bersih masjid. Selain itu juga kegiatan religius lainnya.

Dengan program-program Ramadan itu, komunitas itu patungan bahkan rela membeli alat penghisap debu untuk membersihkan masjid. Mereka bahkan menyiapkan kontak telepon jika sewaktu-waktu ada masjid yang minta dibersihkan.

“ Bahkan jika ada masjid yang belum ada kamar mandinya, kita bantu untuk membuatkan,” kenang Zaki.

Dan pada Ramadan tahun lalu pula, anggota komunitas ini masih mengamen. Namun kali ini bukan di jalanan, melainkan mendapat kehormatan untuk mengisi acara buka puasa dan sahur bersama pada sebuah bank pelat merah di kawasan Hotel Indonesia.

Ada pengalaman menarik saat itu. Anggi dan sejumlah kawannya memenuhi undangan tersebut. Mereka mengenakan celana jin ketat, berkaos Punk Muslim. Kaki tidak bersepatu, melainkan hanya memakai sandal jepit.

Tampilan itu membuat mereka dilarang masuk oleh satpam. Namun tak lama kemudian bos bank itu menelepon pak satpam. “ Atasan itu bilang, kalau kami ini adalah tamunya. Rasanya senang. He-he-he,” ujar Anggi saat berbincang dirumahnya di kawasan Cakung Barat.

Kini, Anggi dan adik perempuannya, Shinta, sesekali masih mengamen di jalanan. Namun tak jarang pula mengisi acara pentas musik di kampus atau sekadar menjadi narasumber tugas-tugas mahasiswa.

“ Punkers itu ada di sini. Bukan hanya aksesoris. Kalau mau belajar ngaji dan salat, ayo belajar bareng-bareng,” kata Anggi sambil menunjuk kepala dan dadanya.

Beri Komentar