Setelah TVRI, Kini Murid Bisa 'Belajar di RRI'

Reporter : Maulana Kautsar
Selasa, 14 April 2020 18:02
Setelah TVRI, Kini Murid Bisa 'Belajar di RRI'
Ratusan sekolah diklaim turut berpartisipasi dalam program ini.

Dream - Radio Republik Indonesia (RRI) menghadirkan program siaran khusus untuk mengedukasi masyarakat mengenai isu Covid-19.

Program itu disiarkan setiap Senin hingga Jumat pukul 10.00 hingga 11.00 waktu setempat dengan judul “ Belajar di RRI”.

Program itu menghadirkan para guru sekolah untuk mengajar di udara yang juga melayani tanya jawab secara interaktif.

“ Bahkan yang menarik ada seorang murid menyatakan kangen pada ibu gurunya (saat mendengarkan program ini), merupakan suatu ekspresi yang menunjukkan radio memiliki peran imajinatif yang tinggi,” kata Direktur Utama LPP RRI M Rohanudin, Selasa, 14 April 2020.

Rohanudin mengatakan, belajar melalui radio adalah cara efektif dan lebih interaktif. Kelebihan radio, kata dia, auditif sehingga dapat menghidupkan theater of mind anak-anak sekolah.

“ Program ‘Belajar di RRI’ adalah strategi menjalin hubungan emosional guru dan murid tetap mesra dalam situasi belajar dari rumah,” kata dia.

Sejak dimulai, pada 26 Maret-9 April 2020, tercatat 715 sekolah baik SD, SMP, maupun SMA sudah berpartisipasi dalam program “ Belajar di RRI”.

Rohanudin mengklaim program ini mendapat respon yang baik dari publik karena RRI melakukan siaran paralel secara live melalui YouTube.

“ Misalnya RRI Padang, yang mencatat bahwa dalam sekali siaran dapat diikuti lebih dari 8.000 pengakses YouTube,” ujar dia.

Berperan sebagai lembaga penyiaran publik, RRI memiliki 105 stasiun penyiaran di seluruh Indonesia dengan 37 diantaranya terletak di wilayah perbatasan.

1 dari 5 halaman

Penelitian: Virus Corona Paling Mematikan Berasal dari 3 Varian Ini

Dream - Tim peneliti genetika asal Jerman dan Inggris mendapat temuan virus corona telah bermutasi. Setidaknya ada tiga varian mutasi yang muncul, dikategorikan Tipe A, Tipe B, dan Tipe C.

Para peneliti tersebut menganalisa 160 genom lengkap dengan urutan pasien manusia antara tanggal 24 Desember 2019 hingga 4 Maret 2020. Kemudian melakukan konstruksi jalur evolusi awal Covid-19 pada manusia.

" Mutasi Covid-19 bergerak sangat cepat dan cukup sulit untuk melacak pohon keluarganya dengan rapi. Kami menggunakan algoritma matematika dan berupaya memvisualkan pohon keluarga tersebut secara masuk akal dan bersamaan," ujar Ahli Genetika University of Cambridge, Peter Foster, dikutip dari South China Morning Post.

Selain itu, Peter juga menjelaskan teknik yang digunakan untuk memetakan evolusi virus corona biasanya dipakai untuk memantau pergerakan populasi manusia prasejarah menggunakan DNA. Menurut dia, penggunaan metode ini merupakan kali pertama dalam melacak rute evolusi virus corona.

2 dari 5 halaman

Tiga Varian Label: Tipe A, Tipe B, Tipe C

Virus corona Tipe A merupakan virus yang ditemukan pada kelelawar di Kota Wuhan. Tetapi, tipe ini bukan jenis utama di China.

Tipe A juga pernah ditemukan pada seorang pasien asal Amerika Serikat yang tinggal di Wuhan. Juga pada pasien yang tinggal di Amerika Serikat dan Australia.

Varian tipe paling umum yang ditemukan di Kota Wuhan adalah Tipe B. Menurut para peneliti, tipe ini tidak banyak menyebar di luar Asia Timur sebelum bermutasi karena adanya banyak perlawanan di luar wilayah Asia Timur.

Tipe C merupakan varian yang paling umum ditemukan di Eropa berdasarkan kasus di Prancis, Italia, Swedia, dan Inggris. Tipe ini belum terdeteksi pada pasien di China, meskipun samplenya sudah ditemukan di Singapura, Hongkong dan Korea Selatan.

Para peneliti menyimpulkan Tipe A adalah akar dari wabah karena hubungannya dekat dengan virus yang ditemukan pada kelelawar dan trenggiling. Sedangkan Tipe B berasal dari Tipe A yang bermutasi dan Tipe C merupakan 'anak' dari Tipe B.

" Virus Tipe B asal Wuhan secara imunologis atau lingkungan dapat mudah beradaptasi di Asia Timur," jelas Foster.

" Tetapi untuk kawasan di luar Asia Timur, virus memerlukan perlawanan. Kami melihat tingkat mutasi yang lebih lambat di luar Asia Timur pada fase awal ini," tambahnya.

3 dari 5 halaman

Pergerakan Orang Membantu Persebaran Virus

Foster juga menjelaskan bagaimana pergerakan orang membantu persebaran virus secara cepat. Penelitian tersebut mendokumentasikan 10 mutasi perjalanan dari Wuhan ke Meksiko.

" Kami telah melakukan konstruksi 'pohon keluarga' (sejarah evolusi) virus manusia. Melalui metode itu, kita dapat melacak rute virus dari satu manusia ke manusia lainnya, sehingga kita memiliki alat statistik untuk menekan persebaran virus di masa depan ketika virus mencoba kembali," jelas Foster.

Foster mengatakan penelitian lebih lanjut dapat juga membantu menentukan kapan wabah dimulai melalui data. Ia berharap perkembangan data dari wabah ini dapat membantu simulasi komputer untuk lebih efektif dan tepat dalam memprediksi sebuah tindakan.

Ahli Epidemiologi Universitas Sun Yat-sen Guangzhou, Lu Jiahai, mengatakan penelitian ini membantu menganalisa awal terjadinya wabah.

" Penelitian ini menunjukkan bahwa persebaran virus disesuaikan dengan populasi sebuah negara, maka pandemi ini perlu ditanggapi dengan serius. Orang-orang perlu memperhatikan pencegahan dan pengendalian virus agar dapat hidup berdampingan untuk waktu yang lama," jelas Lu.

4 dari 5 halaman

Penelitian: Covid-19 Hanya Akan Berakhir Jika Vaksin Sudah Ditemukan

Dream - Sejumlah negara menerapkan penutupan baik total maupun sebagian untuk menghentikan penyebaran virus corona. Bahkan beberapa menetapkan masa penutupan tak terbatas karena penularan wabah Covid-19 yang tak bisa diperkirakan.

Bagi yang bertanya kapan 'penguncian diri' ini berakhir, sebuah penelitian baru-baru ini mungkin akan menuntut kamu lebih banyak bersabar. Penelitian yang dimuat dalam jurnali ilmiah The Lancer menyatakan penyebaran virus Covid-19 hanya akan berakhir jika telah ditemukan vaksinnya.

Dikutip dari The Star, penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal itu menyatakan penguncian yang dilakukan di China memang efektif pada gelombang pertama Covid-19. Namun para ahli memperingkatkan kemungkinan gelombang kedua yang lebih berbahaya.

Gelombang kedua ini bisa saja terjadi jika para ahli tak kunjung bisa menemukan vaksin untuk melemahkan virus corona dari penyajik Covid-19.

" Tanpa adanya vaksin terhadap Covid-19, kasus-kasus baru akan terus muncul dengan beroperasinya kembali bisnis-bisnis, pabrik, sekolah, layanan publik dan lainnya. Hal ini akan meningkatkan percampuran sosial," demikian hasil penelitian tersebut.

5 dari 5 halaman

Potensi Kasus Meningkat Sangat Tinggi

Studi tersebut juga mengungkapkan apabila lockdown di China berakhir terlalu cepat, jumlah kasus juga akan meningkat secara drastis. Ketua Tim Peneliti, Prof. Joseph T Wu dari University of Hongkong, mengatakan strategi social distancing dan restricted movement adalah strategi terbaik sampai vaksin Covid-19 ditemukan.

Hingga saat ini, belum ada informasi apapun terkait vaksin yang tersedia. Para peneliti masih mengembangkan dan melakukan percobaan untuk menemukan vaksin tersebut.

Inovio Pharmaceuticals dikabarkan akan melakukan penelitian dan pengujian vaksin buatan mereka untuk studi keamanannya pada bulan ini di Amerika Serkat, China, dan Korea Selatan.

Dengan atau tanpa vaksin, yang bisa dilakukan saat ini adalah berharap kepada Kementerian Kesehatan dan jajaran pemerintah. Juga mematuhi instruksi yang dikeluarkan.

Beri Komentar