Ayah Peluk Anak Pakai Plastik (Merdeka.com)
Dream - Menjadi garda depan pencegahan virus corona menyimpan kisah sendu tersendiri. Mereka bisa jadi kuat tak bergaul dengan sesama atau kerabat lain. Namun perasaan haru dan sedih tak bisa disembunyikan manakala relawan dan tenaga medis ini tak bisa berdekatan denga anggota keluarganya sendiri.
Beberapa foto viral di media sosial, menunjukkan begitu sedihnya interaksi seorang ayah yang berjuang di garda depan dengan putrinya. Rasa rindu pada si kecil begitu tinggi namun dia tak bisa memeluk buah hatinya.
Selama bertugas, pria tersebut hampir tidak pernah pulang. Dia hanya berkomunikasi dengan keluarga, terutama putrinya, melalui telepon atau video call.
Suatu hari, sang anak sangat ingin bertemu dengan ayahnya secara langsung. Ia sampai membujuk ayahnya untuk bertemu dengannya.
Dalam akun instagram @nyonya_gosip, sang ayah kemudian berinisiatif menggunakan kantong plastik sebagai alat pembungkus putriya agar mereka dapat saling berpelukan. Hal ini dilakukan karena sang anak tidak mau dibujuk untuk segera pulang.
" Sang Ayah sempat membujuk si buah hatinya untuk pulang, tapi apa daya kerinduan tidak bisa terbendung, sang ayah pun berinsiatip agar anaknya menggunakan kantong plastik besar untuk di pakai supaya sang Ayah bisa berpelukan dengan buah hatinya," tulis akun tersebut.
" Ayah, aku kangen sama Ayah," kata sang anak ketika bertemu ayahnya.
" Ayah juga kangen sama adek, do'ain ayah lekas pulang," jawab sang ayah.
Dalam foto tersebut, sang ayah nampak tak kuasa menahan tangis dan memeluk erat sang buah hati. Ia juga berpesan agar tidak lupa berdoa supaya pandemi berakhir.
Ayahnya juga memintanya untuk tetap dirumah dan tidak lupa untuk cuci tangan.
Belum diketahui di mana peristiwa ini terjadi. Tetapi unggahan tersebut kian viral dan di komentari warganet yang merasa tersentuh.
(Sumber: Merdeka.com/Vinna Wardhani)
Dream- Kisah mengharukan terjadi di Italia. Sepasang lansia yang terpapar Covid-19 merayakan 50 tahun pernikahan mereka sambil berpegangan tangan di ruang perawatan intensif (ICU).
Seperti dilansir laman Worldofbuzz, mereka adalah Sandra dan Giancarlo, sepasang lansia yang berjuang melawan covid-19 di Rumah Sakit Murri Hospital, di Kawasan Merche, Italia.
Karena kondisi keduanya yang buruk, sepasang lansia berusia 71 dan 73 tahun ini harus ditempatkan di ruang perawatan intensif (ICU) dengan dipasang alat bantu napas ventilator.
Walau demikian, keadaan itu tak menyurutkan cinta sepasang lansia tersebut.
Kepada salah satu perawat yang menjaganya, Giancarlo mengungkapkan betapa sangat mencintai sang istri meski sudah bertahun-tahun menikah.
Hari itu bertepatan dengan anniversary 50 tahun pernikahan mereka. Karena itulah, perawat rumah sakit itu berpikir mereka harus merayakannya.

Orang lanjut usia memiliki sistem kekebalan tubuh yang sudah terganggu, sehingga menjadikan mereka sangat rentan terhadap penyakit yang sangat menular ini.
Akibatnya, mereka harus dirawat di Unit Perawatan Intensif untuk memastikan bahwa kondisi mereka tidak memburuk.
Inilah yang terjadi pada Sandra dan suaminya, Giancarlo. Pasangan itu, Sandra, 71, dan suaminya Giancarlo, 73, keduanya dirawat di rumah sakit di Marche, setelah mereka berdua dinyatakan positif Covid-19.
Sesuai kebijakan rumah sakit mereka harus ditempatkan di ruangan yang berbeda. Mereka berdua ditempatkan di tempat tidur yang terpisah dan ventilator diikatkan pada wajah mereka untuk membantu bernapas.
“ Sandra terus menangis bukan karena dirinya, melainkan karena dia mengkhawatirkan suaminya,” ujar Roberta Ferretti, perawat reanimasi rumah sakit.
Kepada Ferretti, Giancarlo dengan ventilator di tubuhnya mengungkapkan betapa dirinya sangat mencintai sang istri meski sudah bertahun-tahun menikah.

Ketika Ferretti mengetahui hari itu adalah hari ulang tahun ke-50 pernikahan mereka, dia langsung berpikir perlu mengadakan perayaan.
Momen yang dinanti-nanti pun tiba, staf medis dengan peralatan perlindungan mengelilingi pasangan tersebut dan membuat lambang hati menggunakan jari mereka.
Pada foto yang diambil saat momen mengharukan itu terlihat pasangan lansia berpegangan tangan sambil tetap berbaring di ranjangnya masing-masing
" Kami meletakkan lilin dengan angka '50' pada sebuah kue kecil, tetapi tidak bisa menyalakannya karena mereka berada di dekat tabung oksigen," kata Ferretti.

Pesta itu hanya berlangsung selama 10 menit. Ferretti bekerjasama dengan staf medis lainnya, untuk memindahkan ranjang pasangan agar cukup berdekatan sehingga bisa berpegangan tangan.
“ Ranjang mereka kemudian ditaruh berdempetan, di mana mereka kemudian berpegangan tangan dengan sisa tenaga yang mereka miliki,” kata dia.
Mereka juga memainkan lagu " Wedding March" sambil bergandengan tangan dengan sedikit kekuatan yang masih mereka miliki.
Menurut Ferretti, Giancarlo terus mengulang mengucapkan kata cinta kepada sang istri dan membuat para staf menitikkan air mata. Mereka bisa merasakan betapa pasangan lansia itu saling mencintai satu sama lain.
" Ini momen yang sangat hebat, sangat indah. Menit-menit itu seolah membayar pengorbanan yang kami (tenaga kesehatan) lakukan beberapa waktu terakhir ini," sambungnya.
“ Kami berharap bahwa pasangan ini akan segera pulih dari Covid-19 dan dapat merayakan anniversary di tahun berikutnya,” tambah Ferretti.