Seru dan Unik! Cara Bocah Muslim Amerika Belajar Puasa

Reporter : Sandy Mahaputra
Kamis, 10 Juli 2014 16:24
Seru dan Unik! Cara Bocah Muslim Amerika Belajar Puasa
Anak-anak usia 7 hingga belasan tahun diajak untuk berpuasa dan memahami maknanya. Puasa tidak hanya untuk menahan makan dan minum, tapi juga kesenangan lainnya.

Dream - Muslim Amerika menyambut Ramadan dengan berbagai cara. Salah satunya memberi motivasi kepada anak mereka agar ikut berpuasa.

Anak-anak usia 7 hingga belasan tahun diajak untuk berpuasa dan memahami maknanya. Puasa tidak hanya untuk menahan makan dan minum, tapi juga kesenangan lainnya seperti membatasi menonton TV atau ngobrol tanpa arti dengan teman-teman.

Dengan demikian, identitas mereka sebagai anak-anak muslim Amerika semakin terlihat di lingkungan sekitarnya yang mayoritas non-muslim.

Untuk memotivasi anak-anak berpuasa di bulan suci, kini sudah banyak dijual pita atau tas ulang tahun yang bernuansa Ramadan. Beberapa masjid bahkan mulai mengadakan perayaan kecil untuk anak-anak yang mampu berpuasa sehari penuh di hari pertama mereka.

Beberapa media muslim Amerika juga menampilkan foto-foto anak-anak yang berpuasa untuk menghormati mereka.

" Itu adalah cara untuk menunjukkan kepada anak-anak muslim Amerika bahwa mereka bagian dari Islam, inilah identitas kalian," ujar Minhaj Hasan, kepala editor harian Muslim Link.

Tahun lalu, Muslim Link berhasil menampilkan 150 foto anak-anak Muslim Amerika hingga akhir Ramadhan. Itu semacam tren kesadaran keagamaan sebagai komunitas Muslim. Sesuatu yang membanggakan seperti 'anak saya melakukan puasa pertamanya'.

Puasa merupakan kewajiban bagi muslim dewasa. Namun puasa sejak dini yang ditanamkan kepada anak-anak berbeda, tergantung budaya dan tradisi di setiap negara. Meski kebanyakan melatih anaknya puasa sejak usia 7 tahun, namun anak-anak muslim Amerika umumnya berpuasa mulai usia 10 tahun.

Farkhunda Ali, seorang perawat, memiliki empat anak yang berusia 6, 9, 10 dan 11 tahun. Ali sebenarnya ingin melatih anak-anaknya untuk berpuasa mulai usia 12 tahun. Namun keempat anaknya tertarik untuk berpuasa dan Ali tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengizinkannya.

" Mereka tahu puasa itu melatih kedisiplinan. Untuk ikut merasakan penderitaan orang yang kurang beruntung dari kita," ujar perempuan 35 tahun itu.

" Aku tidak pernah menyuruh mereka ikut puasa, tapi aku terbuka terhadap ide tersebut di masyarakat yang serba materialistis ini," kata Ali.

Abdul, putra Ali yang berusia 9 tahun, hanya puasa di akhir pekan karena dia hobi main sepak bola. Sementara Jannah, adiknya yang berusia 6 tahun, paling suka bicara soal puasa dan ikut sahur meski tidak puasa.

" Puasa membuatmu bersabar," kata Ibrahim, putra Ali yang berusia 10 tahun. " Jika tidak makan, maka tidak ada energi untuk marah-marah."

Putra Ali yang berusia 11 tahun, Yusuf, punya cara sendiri dalam menghabiskan waktu puasa. Dia bersama adiknya Ibrahim sering bermain catur, membersihkan apartemen mereka atau menonton televisi.

" Di usia mereka, tentu puasa di Amerika sungguh berat. Di sini tidak mudah, tapi itu bagian dari melatih disiplin," kata Ali.

Sementara Layanne dari Woodbridge mulai ikut puasa sejak dua Ramadan lalu, ketika ia akan naik kelas 6 SD. Banyak teman-teman non-muslim yang bertanya kenapa tidak ikut makan.

" Aku merasa 'inilah yang paling aku ingin bicarakan karena aku tahu banyak tentang puasa'. Aku sangat bangga dengannya," kata Layanne.

Saat itu, Layanne ingin seperti orang dewasa karena dia akan dihormati teman-temannya.

Lain lagi dengan Waheed Jami, seorang mualaf asli Amerika. Dia sangat terkejut mengetahui anak-anaknya, Bilal (10 tahun) dan Bashir (9 tahun), ingin berpuasa tahun ini.

Sampai-sampai suaminya yang keturunan Afghanistan berkata, " Kalian yakin?"  " Namun mereka sangat senang menjalankannya," kata Jami yang bekerja di bidang TI.

Jami mengatakan, anak-anaknya tidak mengeluh sama sekali meskipun puasa di Amerika akan berlangsung lama. Anak-anak Jami menghabiskan waktu hingga buka puasa dengan banyak membaca dan bermain.

" Ini mengejutkan. Aku teringat waktu puasa pertama kalinya selalu bilang haus kepada ibuku," kenang Jami.

(Ism, Sumber: Washingtonpost.com)

Beri Komentar