Seleb AS (4): Shaq, Legenda di Panggung Basket Dunia

Reporter : Sandy Mahaputra
Senin, 17 November 2014 19:32
Seleb AS (4): Shaq, Legenda di Panggung Basket Dunia
Shaquille kecewa dengan ayah bilologisnya. Lewat ayah tirinya dia mengenal sosok bapak dan belajar Islam.

Dream – Suara decitan sepatu menggema setiap kali berlari melewati lapangan, beriringan dengan bunyi pantulan bola basket yang ia giring menerobos barikade pertahanan lawan.

Begitu satu per satu hadangan musuh dikelabui, ia melompat dan…. Bola itu dihempaskan dengan tangan hingga ring basket bergetar hebat. Dua poin berhasil dicetak.

Teknik slam dunk itu membuat penonton bergemuruh. Mereka bersorak kegirangan, sambil meneriakkan " Shaq…! Shaq… ! Shaq...!" Ya… mereka memuji kehebatan si raksasa, Shaquille O'Neal.

Penampilan O’Neal begitu angker buat lawan. Tinggi lebih dari dua meter dan berat satu setengah kuintal, bintang basket Amerika Serikat (NBA) itu membuat teman satu timnya jadi pede. Aksi slam dunknya seringkali membuat penonton dan lawan melongo.

Pertandingan di 2002 silam itu berlangsung cukup ketat. Klub O'Neal, Los Angeles Lakers saling mengejar poin dengan lawannya, Sacramento Kings hingga jelang bubaran.

Peluit panjang wasit menyudahi laga. Los Angeles Lakers menang tipis, sebiji poin atas Sacramento Kings. Lagi-lagi O'Neal jadi bintangnya.

Sebelum meninggalkan lapangan, O'Neal bertukar salam dengan pemain tim lawan, Hedo Turkoglu, asal Turki. Penonton dan para pemain yang sedang larut dalam kemenangan tak ada yang memperhatikan. Namun kamera sempat merekamnya.

Seleb AS (4): Shaq, Legenda di Panggung Basket Dunia


Turkoglu yang muslim mendapat sambutan O’Neal salam layaknya antar saudara sesama muslim. Potongan gambar itu menghebohkan dan menjadi perbincangan para penggemar basket. Shaq ternyata seorang.....

(Berbagai sumber)

1 dari 2 halaman

Prajurit Muslim di Lapangan Basket

Prajurit Muslim di Lapangan Basket © Dream

Dream - Los Angeles Times memberitakan cara O'Neal bertukar salam dengan pemain basket asal Turki Hedo Turkoglu. Dan, O’Neal berkomentar " Itu adalah cara muslim" .

Turkoglu kemudian mengomentari berita tersebut dan mengaku dia tidak kaget dengan gerakan O'Neal. Karena sesame muslim memang saling mendukung satu sama lain.

Fans dan jagat NBA makin penasaran dengan jawaban mengambang O'Neal. Sampai akhirnya di 2010, pebasket dengan prestasi gemilang ini mengungkapkan kepada public. Dia tegas menyatakan dirinya seorang muslim dan berencana pergi haji.

" Tentu saja aku percaya pada Tuhan. Hanya Allah yang bisa memberi saya apa yang saya miliki," katanya. " Sudah waktunya untuk menuju langkah berikutnya," kata O'Neal.

Belakangan diketahui, ibu O'Neal, Lucille adalah pembaptis. Tapi, ayah tirinya seorang muslim. Uniknya, sang ibu menamai anaknya Shaquille O'Neal Rashaun, yang berarti " prajurit kecil" dalam bahasa Arab.

" Aku ingin anak-anak saya memiliki nama yang unik," kata Lucille. " Bagi saya, hanya dengan memiliki nama, berarti sesuatu yang membuat Anda istimewa," kata Lucille yang berusia 18 tahun saat melahirkan O'Neil pada 6 Maret 1972.

Lucille mengaku tertarik pada Islam karena sejumlah besar muslim telah mengubah suasana di lingkungannya.

Saat itu Newark dilanda kerusuhan ras. Komunitas muslim yang sebagian besar imigran Afrika membantu menenangkan ketegangan. Mereka memberikan pengaruh positif pada lingkungan dan kebanggaan etnis, serta kemandirian. Hal ini membuat muslim dikagumi banyak orang.

O'Neil adalah buah cinta hubungan Lucille dengan teman SMA-nya yang kemudian menjadi kekasih, Joseph Toney. Namun keduanya tidak menikah.

Lucille memilih menikah dengan imigran muslim asal Jamaika, Phillip A. Harisson. Tentara AS berpangkat sersan inilah yang kemudian membesarkan O'Neil hingga menjadi pebasket ternama.

Darah basket rupanya mengalir dari ayah biologisnya. Toney adalah bintang basket di SMA Newark. Tapi sayang, kehidupannya justru terjerumus ke dunia hitam. Ia menjadi pecandu narkoba dan masuk penjara saat O'Neal masih bayi.

O'Neil dididik cukup keras ayah tirinya. O'Neil kecil kerap dimanja oleh neneknya. Beranjak remaja dia pun sering membangkang perintah orangtua. Suatu ketika Harisson ditugaskan ke Jerman. Ia memboyong istri dan anak-anaknya termasuk O'Neil.

Bagi O'Neil pindah ke Eropa adalah 'neraka'. Ia meminta dikirim kembali ke Amerika Serikat untuk tinggal bersama kerabat di Newark. Orangtuanya menolak.

Penolakan O'Neil ditunjukkan dengan perlawanan. Ia berubah jadi remaja nakal doyan membuat onar di sekolah, mencuri mobil, dan gemar berkelahi. Ia pun harus mendapatkan hukuman keras dari sang ayah. Harisson tak segan 'main tangan' untuk membuat kapok O'Neal.

Dari situlah O'Neil mulai sadar dan bertanggung jawab atas dirinya. Sebagai kakak dari adik-adik tirinya, Lateefah, Aisyah, dan Jamal, O'Neil sangat sayang dan menjaga mereka.

Hingga akhirnya keluarga itu kembali ke Amerika. Harisson sadar putranya punya potensi besar menjadi atlet basket dengan postur mendukung. " Dia tahu permainan ini baik secara fisik dan mental. Apalagi dia pekerja keras sekaligus keras kepala."

O'Neal mengaku belajar banyak dari sosok ayah tirinya. " Ia harus mendisiplinkan pasukannya. Kemudian, dia pulang dan mendisiplinkan saya," kata O'Neal.

Sebagai ucapan rasa terima kasih. O'Neal membuat lagu berjudul ‘Biological Didn't Bother’. Dia berusaha menunjukkan bahwa dia tak suka dengan ayah biologisnya, Toney. Sebaliknya, dia sangat berterimakasih kepada ayah tirinya lewat lagu 'Phil Is My Father'.

2 dari 2 halaman

Angker Buat Lawan

Angker Buat Lawan © Dream

Dream - Lulus dari Cole High School di San Antonio, Texas, O'Neal mendaftar di Louisiana State University. Di kampus inilah karir cemerlang O'Neal sebagai bintang basket NBA dimulai.

O'Neal memutuskan berhenti kuliah pada 1992 dan memilih fokus mengejar karir di NBA. Klub pertama yang dibela Orlando Magic. Pilihannya tak salah.

Tak perlu waktu lama, O'Neal yang kemudian dijuluki Shaq masuk 10 besar pemain dengan kemampuan terlengkap. Tembakan, blok, rebound, dan mencetak angka di atas rata-rata.

O'Neal menandatangani kontrak pemain NBA terbesar dalam sejarah, empat tahun kemudian. Dia dikontrak selama tujuh tahun untuk Los Angeles Lakers dengan banderol US$120 juta (sekitar 1,44 triliun). Tiga gelar juara liga ia berikan untuk LA Lakers.

Dalam tahun yang sama, O'Neal mengantarkan The Dream Team Amerika memenangi medali emas di Olimpiade Atlanta, Georgia. Pada 2004, O'Neal dijual LA Lakers ke Miami Heat akibat sikap manajemen dan perseteruannya dengan rekan satu tim, Kobe Bryant.

O'Neal sempat pindah ke beberapa tim NBA lain, sebelum mengakhiri karir basketnya di Boston Celtics, empat tahun lalu. O'Neal mengumumkan pensiun dari NBA melalui akun Twitter pribadinya, 11 Juni 2011.

Setelah resmi memutuskan pensiun, O'Neal memilih beralih profesi menjadi seorang komentator pertandingan NBA. Dalam sebuah interview, O'Neal mengaku sangat menghormati pemain muslim legendaris NBA, Kareem Abdul-Jabbar. Menurutnya Jabbar adalah seorang center terbaik yang pernah ada.

Selain sebagai analis NBA, O'Neal juga pernah menjadi penyanyi rap dan bintang film. O'Neal menikahi Shaunie Nelson, 26 Desember 2002. Mereka dikaruniai 4 orang anak; Shareef, Amirah, Shaqir, dan Me'arah.

Pernikahan mereka sempat retak pada 4 September 2007. Namun mereka rujuk dan perceraian dibatalkan. Pada 10 November 2009, gantian Shaunie yang menggugat cerai dengan alasan perbedaan visi.

Beri Komentar