Supervulkan Toba Nyaris Memusnahkan Umat Manusia 74.000 Tahun Lalu

Reporter : Abidah
Sabtu, 29 Agustus 2026 14:00
Supervulkan Toba Nyaris Memusnahkan Umat Manusia 74.000 Tahun Lalu
Letusan dari Gunung Toba yang terjadi 74.000 tahun lalu mempengaruhi seluruh dunia dan berbagai organisme yang hidup di atasnya.

DREAM.CO.ID - Kalau beruntung hidup 74.000 tahun lalu, seseorang akan berhasil selamat dari letusan super Gunung Toba, salah satu peristiwa bencana terbesar yang pernah disaksikan Bumi dalam 2,5 juta tahun terakhir. Dilansir dari ScienceDaily, meski gunung berapi ini berlokasi di wilayah yang kini dikenal sebagai Indonesia, seluruh organisme hidup di penjuru dunia berpotensi terdampak olehnya.

Jayde N. Hirniak, kandidat PhD bidang Antropologi di Institute of Human Origins, Arizona State University, yang mengkhususkan diri meneliti letusan gunung berapi masa lampau, menulis di The Conversation bahwa ia sering memikirkan betapa luar biasanya fakta bahwa manusia berhasil selamat dari peristiwa setara kepunahan massal ini, yang lebih dari 10.000 kali lebih besar dibanding letusan Gunung St. Helens pada 1980.

Skala Bencana yang Sulit Dibayangkan

Letusan super Toba melontarkan 2.800 kilometer kubik abu vulkanik ke stratosfer, menghasilkan kawah raksasa sepanjang kira-kira 1.000 lapangan sepak bola (100 x 30 kilometer). Letusan sebesar ini kemungkinan menghasilkan langit hitam yang menghalangi sebagian besar sinar matahari, berpotensi menyebabkan pendinginan global selama bertahun-tahun. Lebih dekat ke lokasi gunung berapi, hujan asam kemungkinan mencemari pasokan air, sementara lapisan abu tebal mengubur hewan dan tumbuhan.

Dengan segala kemungkinan buruk yang menghadang Homo sapiens sebagai spesies, bagaimana manusia bisa bertahan hingga sekarang untuk merangkai kembali kisah ini?

1 dari 3 halaman

Bertahan Hidup di Tengah Abu

Populasi manusia yang tinggal dekat gunung berapi Toba kemungkinan besar musnah sepenuhnya. Apakah manusia di belahan dunia lain turut terdampak masih jadi pertanyaan yang terus diselidiki para ilmuwan.

Selama bertahun-tahun, hipotesis " Toba catastrophe" jadi salah satu aliran pemikiran yang cukup dominan. Hipotesis ini mengusulkan bahwa letusan super Toba menyebabkan peristiwa pendinginan global yang berlangsung hingga enam tahun. Dampaknya, menurut hipotesis ini, membuat populasi manusia anjlok hingga kurang dari 10.000 individu di seluruh Bumi.

Skenario ini didukung bukti genetik yang ditemukan dalam genom manusia yang hidup saat ini. DNA kita menunjukkan bahwa manusia modern menyebar ke berbagai wilayah terpisah sekitar 100.000 tahun lalu, lalu tak lama setelah itu mengalami apa yang disebut ilmuwan sebagai bottleneck genetik: sebuah peristiwa, seperti bencana alam atau wabah penyakit, yang menyebabkan penurunan drastis ukuran populasi. Bencana semacam ini secara drastis mengurangi keragaman genetik dalam suatu kelompok.

Apakah penurunan populasi manusia ini benar-benar disebabkan letusan super Toba atau faktor lain masih menjadi perdebatan sengit. Seiring ilmuwan mengumpulkan lebih banyak data dari catatan iklim, lingkungan, dan arkeologi, kita mulai bisa memahami kondisi apa saja yang paling penting bagi kelangsungan hidup manusia.

2 dari 3 halaman

Cara Meneliti Dampak Letusan Super

Untuk merangkai kembali apa yang terjadi 74.000 tahun lalu, ilmuwan punya satu bukti langsung yang bisa digunakan: batuan dan abu yang dilontarkan dari letusan gunung berapi itu sendiri, disebut tephra. Ilmuwan bisa melacak lapisan-lapisan tephra di seluruh permukaan bumi, baik secara visual maupun kimiawi.

Kaca vulkanik mikroskopis bernama cryptotephra menyebar paling jauh, sehingga penting untuk memahami sejauh mana sesungguhnya dampak sebuah letusan. Karena cryptotephra tidak terlihat kasat mata, mengidentifikasinya bisa sangat menantang. Peneliti seperti Hirniak dengan cermat memisahkan serpihan kaca mikroskopis ini dengan menyaring tanah dan menggunakan mikromanipulator, alat yang bisa mengambil dan memindahkan butiran mikroskopis. Proses ini bisa terasa seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami, dan bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk satu lokasi saja.

Setiap letusan gunung berapi memiliki komposisi kimia yang unik, yang bisa dipakai ilmuwan untuk menentukan dari letusan mana sebuah sampel material vulkanik berasal. Misalnya, tephra dari satu letusan mungkin mengandung lebih banyak zat besi dibanding tephra dari letusan lain. Dengan pengetahuan ini, ilmuwan bisa mulai memahami seberapa besar letusan-letusan masa lampau dan siapa yang langsung terdampak olehnya.

Saat bekerja di lapangan, Hirniak mencari cryptotephra yang mengendap di situs-situs arkeologi, tempat dengan jejak aktivitas manusia purba seperti perkakas, karya seni, atau bahkan sisa-sisa terkubur. Ia mengumpulkan sampel dari area situs yang sudah digali, membawanya kembali ke laboratorium untuk mengekstrak kaca vulkanik mikroskopis dari tanah, lalu menganalisis kaca itu secara kimiawi untuk menemukan " sidik jari" vulkaniknya.

Tapi meski berhasil menentukan bahwa sampel tertentu dari sebuah situs arkeologi berasal dari letusan super Toba, apa artinya itu bagi pertanyaan apakah manusia berhasil bertahan dari letusan tersebut?

Begitu lapisan tephra atau cryptotephra teridentifikasi, langkah berikutnya adalah mengamati dengan saksama apa yang tersimpan dalam catatan arkeologi sebelum dan sesudah letusan tersebut. Dalam sejumlah kasus, manusia mengubah perilakunya setelah letusan, misalnya menggunakan teknologi perkakas batu baru atau mengonsumsi makanan berbeda. Kadang, manusia bahkan meninggalkan sebuah situs, tanpa meninggalkan jejak aktivitas manusia sama sekali setelah bencana besar terjadi.

Meneliti endapan vulkanik pada situs arkeologi hanya melengkapi satu bagian dari teka-teki ini. Catatan lingkungan dan iklim menyimpan informasi soal bagaimana vegetasi lokal atau suhu global berubah pada masa letusan itu terjadi, membantu ilmuwan memahami mengapa manusia melakukan perubahan-perubahan tersebut.

3 dari 3 halaman

Apa yang Diungkap Bukti Arkeologi?

Mengingat skala dan intensitas letusan super Toba, hampir terasa tak terelakkan bahwa manusia di seluruh dunia pasti menderita luar biasa. Namun sebagian besar situs arkeologi justru bercerita soal ketangguhan.

Di tempat-tempat seperti Afrika Selatan, manusia tidak hanya bertahan dari peristiwa bencana ini, tapi justru berkembang pesat. Di situs arkeologi Pinnacle Point 5-6, bukti cryptotephra dari Toba menunjukkan manusia menghuni situs itu sebelum, selama, dan setelah letusan terjadi. Bahkan, aktivitas manusia justru meningkat dan inovasi teknologi baru muncul tak lama setelahnya, menunjukkan kemampuan adaptasi manusia yang luar biasa.

Hasil menakjubkan ini tidak hanya terjadi di Afrika Selatan. Bukti serupa juga tersimpan di situs arkeologi Shinfa-Metema 1 di dataran rendah Ethiopia, tempat cryptotephra dari Toba ditemukan pada lapisan yang juga menyimpan jejak aktivitas manusia.

Di sana, manusia purba beradaptasi dengan perubahan lingkungan lokal dengan mengikuti aliran sungai musiman dan mencari ikan di kolam-kolam air dangkal yang muncul selama musim kering panjang. Sekitar masa letusan super Toba, manusia di kawasan ini juga mulai mengadopsi teknologi busur dan panah. Fleksibilitas perilaku semacam ini memungkinkan manusia bertahan dari kondisi kering ekstrem dan dampak potensial lain dari letusan super Toba.

Selama bertahun-tahun, para arkeolog menemukan hasil serupa di banyak situs lain di Indonesia, India, dan Tiongkok. Seiring bukti terus terkumpul, tampak jelas bahwa manusia mampu bertahan dan tetap produktif setelah Toba meletus. Ini menunjukkan bahwa letusan tersebut mungkin bukan penyebab utama dari bottleneck populasi yang awalnya diusulkan dalam hipotesis Toba catastrophe.

Meski Toba mungkin tidak membantu ilmuwan memahami apa yang menyebabkan populasi manusia purba anjlok hingga 10.000 individu, temuan ini membantu kita memahami bagaimana manusia beradaptasi dengan peristiwa-peristiwa bencana di masa lampau, dan apa artinya itu bagi masa depan kita.

Beri Komentar