Tak Terima Ditilang, Ibu Cakar Wajah Polantas di Kelapa Gading

Reporter : Sandy Mahaputra
Kamis, 12 November 2015 15:04
Tak Terima Ditilang, Ibu Cakar Wajah Polantas di Kelapa Gading
Peristiwa penganiayaan itu terjadi di depan Mal of Indonesia (MoI) Kelapa Gading, Jakarta Utara

Dream - Ibu rumah tangga berinisial HC (45) mengamuk saat ditilang polisi gara-gara mengendarai mobil sambil berkomunikasi melalui handphone. Ia lalu mencakar dan menganiaya anggota Polantas Brigadir Rustam.

Kapolsek Kelapa Gading, Komisaris Polisi Ari Cahya menjelaskan, peristiwa penganiayaan itu terjadi di depan Mal of Indonesia (MoI) Kelapa Gading, Jakarta Utara, ke arah Kelapa Gading, pekan lalu. 

Saat itu, kata Kompol Ari, Brigadir Rustam menghentikan mobil Mitsubishi Pajero warna hitam.

" Anggota menyetop mobil itu karena pengemudi atau si ibu ini berkendara sambil berkomunikasi handphone. Itu tidak boleh menurut UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan karena dapat menghilangkan konsentrasi," kata Kompol Ari dikutip dari laman Facebook Humas Divisi Mabes Polri, Kamis 12 November 2015.

Saat disetop, ibu itu turun dari mobil. Sambil tersenyum dan menyapa ibu tersebut, Brigadir Rustam kemudian menjelaskan pelanggaran yang dilakukan si ibu pengemudi ini.

" Kemudian anggota memeriksa STNK mobil dan ternyata STNK-nya sudah mati," imbuhnya.

Brigadir Rustam kemudian mengeluarkan surat untuk menilang ibu tersebut. Namun ternyata si ibu ini menolak ditilang.

" Tetapi ibu ini tidak terima, kemudian marah-marah dan mencaci maki anggota polantas lalu mencakar wajah korban di bagian kanan dan menendang korban serta memukul korban dengan handphone di bagian belakang telinga," jelas Kompol Ari.

Setelah menganiaya korban, ibu tersebut melarikan diri. Korban kemudian melapor ke Polsek Kelapa Gading setelah divisum. (Ism) 

1 dari 5 halaman

Ibu di Cianjur Masak Batu Demi Hilangkan Rasa Lapar Anak

Dream - Iyah, 33 tahun, asal Cianjur merupakan potret bagaimana kelompok miskin di Indonesia masih saja terabaikan. Wanita yang merupakan istri dari Andun Suherman, 45 tahun, harus membesarkan tujuh orang putrinya dalam kondisi serba kekurangan.

Bahkan, Iyah sampai memasak batu untuk mengelabui anaknya. Sebab, di rumahnya sudah tidak ada lagi persediaan makanan.

Kisah ini terjadi ketika anak Iyah yang masih kecil merengek lapar. Iyah bingung dan memutuskan memasak batu, berharap anaknya tertidur dan melupakan rasa laparnya.

Kabar tersebut lantas terdengar oleh Kapolres Cianjur AKBP Asep Guntur Rahayu. Hatinya terenyuh dan segera menemui keluarga Andun dan Iyah.

Guntur lalu memberikan sejumlah bantuan. Tidak hanya makanan, pejabat kepolisian itu juga mengusahakan agar Andun, Iyah dan ketujuh putrinya tinggal di rumah yang layak.

Selama ini, mereka tinggal di gubuk reyot yang berdiri di atas lahan milik orang. Guntur mencoba mendekati pemilik tanah hingga akhirnya sang pemilik tanah merelakan sebagian tanahnya untuk keluarga miskin tersebut.

Guntur membalas kebaikan pemilik tanah dengan menanggung seluruh biaya sertifikasi tanah tersebut. Dalam pengurusan sertifikat dan pemberian bantuan, Guntur dibantu oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Cianjur beserta sejumlah donatur.

(Ism, Sumber: akun fanpage Divisi Humas Mabes Polri.)

2 dari 5 halaman

Penjelasan Polda Metro Soal Video Polisi Pukul Pengemudi GoJek

Dream - Video dugaan pemukulan polisi terhadap driver GoJek berdurasi tujuh detik tersebar di kanal Youtube hebohkan netizen. Terkait video ini Polda Metro Jaya angkat bicara.

" ‎Itu kejadiannya kemarin (Sabtu) tanggal 7 November 2015. Lokasi di wilayah selatan, tepatnya di Gaplek, Pamulang, Tangerang Selatan," ujar Kepala Bidabg Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi M Iqbal dalam keterangan tertulis, Minggu, 8 November 2015.

Menurut Iqbal, peristiwa yang terekam dalam video itu bermula saat tujuh pengendara GoJek melintas beriringan dari arah Pamulang menuju Parung, Bogor, Jawa Barat.

Pengemudi yang ditilang polisi tersebut mengakui kesalahannya. Tetapi, pengendara lain justru tak terima atas penilangan yang diberikan. Pengendara yang tak terima ini bahkan melontarkan kata-kata tidak sopan kepada petugas.

‎" Seorang temannya GoJek tidak terima sambil mengucapkan kata-kata tidak sopan kepada petugas. Petugas jelas tidak terima diperlakukan demikian. Akibatnya, terjadi tindakan seperti dalam video (dugaan pemukulan)," jelas Iqbal.

Saat ini Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Risyafudin dan jajarannya tengah melakukan dialog dengan perwakilan Go-Jek untuk meredam permasalahan tersebut.

" Dan terhadap (petugas) Polantas tersebut (yang diduga melakukan pemukulan) akan dilakukan pemeriksaan oleh Propam," ‎ kata Iqbal.

 

3 dari 5 halaman

Aiptu Wazir, Polisi yang Lacak Identitas Mayat dengan Quran

Dream - Seorang polisi bernama Wazir Arwani Malik mampu mensinergikan antara ilmu forensik dengan sejumlah ayat yang ada dalam kitab suci Alquran.

Penyidik berpangkat Aiptu Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Tengah, yang kesehariannya berkutat di dunia forensik mampu mengaplikasikan ayat Alquran saat melakukan olah TKP terhadap mayat.

Menurut dia, pendekatan teologis dalam hal autopsi sangat membantu untuk memecahkan persoalan forensik yang kerap menjadi tanda tanya. 

Apalagi, ketika ia harus memecahkan suatu kasus, seperti mayat yang tidak diketahui identitasnya. Penasaran? Kisah selengkapnya klik di sini. (Ism)

4 dari 5 halaman

Bripda Taufiq, Polisi Jujur yang Tinggal di Kandang Sapi

Dream - Menolak menyerah di tengah keterbatasan. Begitulah yang ingin ditunjukkan seorang polisi berpangkat Bripda, Muhammad Taufiq Hidayat.

Berasal dari keluarga miskin dan tinggal di bangunan bekas kandang sapi, tidak lantas membuat polisi muda ini patah arang, mewujudkan cita-citanya bergabung bersama Polri. Berikut kisah lengkapnya; Cek halaman berikut!

5 dari 5 halaman

Aiptu Jailani, Polisi Langka Penilang Istri Sendiri

Dream - Hari belum terang tanah. Kumandang azan subuh baru saja lewat, di Ahad itu. Di rumah sederhana dalam sebuah gang, Rahmawati sedang berkemas. Istri polisi lalu lintas itu menyisipkan dompetnya ke dalam tas belanja yang tergantung di sepeda motor. 

Dari balik pagar rumahnya di Gang 6D, Jalan Jaksa  Agung Suprapto, Gresik, Jawa Timur, Rahmawati mengeluarkan motornya dengan senyap. Dia berusaha tidak membangunkan dua anaknya yang masih terlelap. “ Belanja ke pasar sebentar, pulang sebelum anak-anak bangun,” begitu pikirnya. 

Di mulut gang, baru Rahmawati menyalakan mesin motor menuju pasar di Simpang Lima Gresik. Setiba di pasar, pembeli sudah ramai. Mumpung anak-anak libur sekolah, dia ingin memasak agak istimewa.

Terlalu asyik belanja Rahmawati lupa hari mulai terang. Bergegas dia keluar pasar dan memacu motornya pulang. Sial baginya, jarum jam sudah menunjuk angka tujuh. Setiap hari Ahad, jalan Jaksa Agung yang menuju rumahnya ada larangan kendaraan bermotor melintas. Car free dayitu berlaku selama dua jam sejak pukul 06.00 WIB.

Rahmawati panik, khawatir anak-anaknya sudah bangun sementara dia belum sampai rumah. Sementara suaminya pun sedang bertugas pagi itu. Celingak-celinguk, dia mencari jalan alternatif melewati lorong-lorong kecil di belakang Jalan Jaksa Agung Suprapto, menuju rumahnya. 

Rahmawati mengarahkan motornya ke sebuah lorong. Saat hendak masuk ke mulut gang, dua polisi lalu lintas yang berjaga mengenalinya. Mereka segera menghampiri istri Aiptu Jailani, sesama anggota polantas di kota itu. Kedua polisi itu faham kesulitan yang sedang dihadapi Rahmawati. 

“ Sudah, tak usah lewat gang,” kata salah seorang polisi. Mereka mempersilakan Rahmawati lewat jalan raya itu. Menimbang saran itu, Rahmawati pun mengucap terimakasih dan menjalankan motornya menuju rumah.

Terang saja, semua mata memandang ke arah satu-satunya motor yang melintas itu. Meskipun motor itu berjalan pelan dan menyisir di tepian jalan. Masyarakat yang tengah berolahraga di jalan itu bertanya-tanya. Petugas polantas yang dilewati tak menghiraukan, karena mereka sangat mengenal pengendara motor tersebut. 

Baru beberapa ratus meter motor itu melintas, mendadak seorang polantas menghentikannya.Lho…? Rahmawati kaget, lalu menatap wajah sang polisi. Ternyata polisi itu adalah Aiptu Jailani, suaminya sendiri. Tak hanya dinasehati karena melanggar lalu lintas, sang suami juga menerbitkan surat tilang untuk istrinya sendiri.  

“ Untungnya istri mau mengerti dan memahami tindakan saya,” kata Aiptu Jailani tersenyum geli saat menceritakan kejadian itu kepada reporter merdeka.com, Moch. Ardiansyah.

Cerita tentang polisi yang menilang istrinya sendiri, segera tersebar di kota santri itu. Obrolan menyebar di warung-warung kopi. Jadi banyolan, tapi juga muncul rasa hormat kepada Pak Polisi Jaelani. 

Berita itu segera terekspos di media massa. Komunitas Forum Film Jambi tertarik dan membuat film pendek dengan judul “ Kisah Nyata Polisi Menilang Istrinya.” Sejak diunggah ke jejaring video sosial Youtube akhir Mei 2914 lalu, film itu telah ditonton lebih dari 800 ribu kali!

Beri Komentar