Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Pexels)
Dream – Kondisi kebutaan membuat seseorang tak bisa menikmati keindahan dunia secara visual. Termasuk melihat wajah para orang terdekatnya. Kini kemajuan teknologi kesehatan mencoba mengatasi masalah tersebut.
Seperti pengalaman seorang pria tunanetra berusia 58 tahun. Ia menjalani teknologi rekayasa genetika dan terapi cahaya. Saat ini dalam proses pemulihan sebagian penglihatan.
Pria yang tinggal di Prancis ini, didiagnosis retinitis pigmentosa (RP) yaitu suatu kondisi dimana sel-sel di retina yang reseptif terhadap cahaya mengalami kerusakan yang dapat menyebabkan kebutaan total.
Beberapa bulan sejak menjalani perawatan ia sudah dapat menghitung, menemukan dan menyentuh objek berbeda dengan mengenakan kacamata yang dapat merangsang cahaya.
Para peneliti mengatakan meski temuan mereka, yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine, masih dalam tahap awal, namun hasilnya dapat digunakan untuk perawatan bagi mereka yang menderita RP.

RP adalah kondisi mata bawaan paling umum yang mempengaruhi sekitar 4 ribu orang di Inggris. Belum ada pengobatan khusus untuk menangani RP kecuali penggantian gen yang hanya bekerja pada saat penyakit baru terbentuk.
Para peneliti menggunakan teknik yang dikenal sebagai optogenetika, untuk mengubah genetik sel di retina sehingga mereka menghasilkan protein peka cahaya yang disebut channelrhodopsins.
Perawatan diberikan dengan menggunakan suntikan di satu mata, mengaktifkan pengkodean gen untuk protein channelrhodopsin yang disebut ChrimsonR, sehingga pasien dapat merasakan cahaya kuning.
Peneliti juga mengembangkan kacamata khusus yang dilengkapi dengan kamera yang dapat menangkap dan memproyeksikan gambar visual ke retina pada gelombang cahaya kuning.
Pasien kemudian dilatih selama beberapa bulan karena sel-sel yang diubah secara genetik mulai stabil. Tujuh bulan kemudian, akan muncul tanda-tanda perbaikan visual.

Para peneliti juga membaca aktivitas otaknya menggunakan teknik yang dikenal sebagai electroencephalography (EEG). Sebuah gelas diambil secara bergantian di atas atau di luar meja, dan pasien harus menekan tombol yang menunjukkan apakah gelas itu ada atau tidak. Hasil dari percobaan menunjukkan ia bisa mengetahui dengan akurasi 78 persen.
Botond Roska, direktur pendiri di Institute of Molecular and Clinical Ophthalmology Basel dan profesor di University of Basel, Swiss, mengatakan: 'Penemuan ini memberikan bukti konsep menggunakan terapi optogenetik untuk memulihkan penglihatan sebagian adalah mungkin.'
Para peneliti mengatakan sementara itu jenis terapi optogenetik ini mungkin bermanfaat dalam memulihkan fungsi visual pada orang dengan kebutaan terkait RP. Hasil lebih lanjut dari uji coba ini diperlukan untuk gambaran yang lebih jelas tentang keamanan dan kemanjuran pendekatan ini.
" Yang penting, pasien buta dengan berbagai jenis penyakit fotoreseptor neurodegeneratif dan saraf optik fungsional berpotensi memenuhi syarat untuk pengobatan. Namun, akan membutuhkan waktu sampai terapi ini dapat ditawarkan kepada pasien," kata Jose-Alain Sahel, profesor oftalmologi di University of Pittsburgh, AS.
(Sumber: metro.co.uk)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya