Bocah 14 Tahun Bangun Reaktor Nuklir Sendiri

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 26 Februari 2019 16:02
Bocah 14 Tahun Bangun Reaktor Nuklir Sendiri
Dia mengubah ruang bermain di rumah orangtuanya sebagai laboratorium nuklir.

Dream - Bocah asal Memphis, Tennessee, Amerika Serikat, Jackson Oswalt, 14 tahun, berbeda dengan anak kebanyakan. Jika anak seusianya menghabiskan waktu dengan bermain video game atau melihat televisi, Oswalt punya kesibukan sendiri.

Kesibukannya bahkan melampaui usianya. Dia berhasil membangun reaktor nuklir mini yang diletakkan di ruang bermain di rumahnya.

Dikutip dari Science Alert, Oswalt dijuluki sebagai insinyur nuklir termuda. Dia mulai membangun reaktor nuklir mandirinya ketika berusia 12 tahun.

Selama setahun, Oswalt mematangkan risetnya. Pada 19 Januari 2018, beberapa jam saja sebelum ulang tahunnya ke-13, Oswalt melaporkan misinya telah tercapai.

Menggunakan listrik dengan daya 50 ribu volt, Oswalt mampu memadukan dua atom gas deuterium. Dia dilaporkan berhasil menggabungkan inti atom di reaktor plasmanya.

Kelompok penghobi nuklir, The Open Source Fusor Research Consortium, baru-baru menganugerahi Oswalt penghargaan.

Selain berhasil menciptakan reaktor, Oswalt juga menghasilkan plasma dari fusi nuklir. Kondisi ini membuat atom yang diproses tak hancur.

 

1 dari 2 halaman

Uji Coba Beberapa Bulan

Dia sempat melakukan sejumlah uji coba tingkat lanjut selama beberapa bulan. Hasil yang didapat membuat Oswalt semakin yakin dia berhasil memadukan inti atom.

" Bagi mereka yang tidak pernah melihat unggahan saya belakangan, ini akan menjadi kejutan besar, saya bahkan percaya saya telah mencapai tahap penggabungan," tulis Oswalt di laman forum Fusor.net.

" Namun, selama sebulan terakhir saya telah membuat banyak kemajuan dari perbaikan kebocoran besar di sistem saya. Saya tahu, saya telah memiliki jawaban yang saya yakini sangat layak," tulis dia melanjutkan.

 

2 dari 2 halaman

Habiskan Rp699 Juta Bangun Laboratorium.

Remaja ceria ini telah mengubah ruang bermainnya dulu di rumah orangtuanya menjadi laboratorium nuklir. Dia menghabiskan biaya mencapai US$10 ribu, setara Rp699 juta.

" Proses dimulai dari hanya mempelajari apa yang sudah dihasilkan orang-orang dari reaktor fusi mereka," kata Oswelt.

Dia lalu mengumpulkan bagian yang diperlukan. Dia belanja bagian-bagian itu melalui e-commerce eBay.

" Seringkali bagian-bagian yang saya dapatkan dari eBay tidak sepenuhnya saya butuhkan, jadi saya harus memodifikasinya agar sesuai dengan apa yang saya butuhkan untuk projek saya," kata dia.

Meski demikian, para ilmuwan belum bisa yakin atas capaian Oswelt. Sehingga, hasil remaja ini belum dapat diverifikasi sebelum dipublikasikan dalam jurnal akademi. (ism)

Beri Komentar
Yenny Wahid Rilis Produk Kecantikan Halal