Berkat Sosmed Fashion Modest Mendunia

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 11 Maret 2019 11:00
Berkat Sosmed Fashion Modest Mendunia
Berkat dua sosial media tersebut, gaya fesyen hijab mendunia dan dilirk merek ternama.

Dream - Instagram, Pinterest, dan Youtube mendorong fesyen modest dalam lirikan industri dan merek fesyen ternama. Seperti diketahui pasar fesyen modest merupakan pasar dari para Muslimah.

Pasar fesyen modest dipercaya meraup keuntungan dari para Muslimah sebesar US$ 270 miliar, Rp3.870 triliun pada 2017, menjadi US$ 361 miliar, setara Rp5.175 triliun, pada tahun 2023, menurut State of the Global Islamic Economy.

Kurator eksebisi Contemporary Muslim Fashion di de Young Museum, San Francisco, Amerika Serikat (AS), Laura Camerlengo, berterima kasih atas peran media sosial.

" Para fashionista Muslim modest telah menjadi pengguna awal dari semua platform media sosial dan blog yang berbeda sejak pergantian abad ke-21," kata Camerlengo, kepada CNet, Jumat, 8 Maret 2019.

Seperti diketahui, influencer media sosial seperti Summer Albarcha, Amena Khan, dan Maria Alia telah mengumpulkan ratusan ribu pengikut secara online. Ketiga orang tersebut menjadi sumber informasi untuk tutorial gaya hijab, tips berlapis dan inspirasi mode sederhana.

Para wanita ini telah menggunakan blog dan akun media sosial mereka untuk membagikan pakaian favorit dan rutinitas merias wajah, dan dalam kasus Khan, untuk mempromosikan jilbab dan lini pakaiannya Pearl Daisy.

Media sosial telah menjadi platform terbuka bagi para wanita ini untuk menunjukkan bahwa berpakaian sopan dapat menjadi mode.

1 dari 2 halaman

Melampaui Konsumen Muslim

Banyak perusahaan memahami fakta telah mengabaikan pasar besar fesyen modest ini. Profesor filsafat dan agama di Northeastern University, Liz Bucar menyebut, fesyen modest sesungguhnya melampai konsumen Muslim itu sendiri.

" Desain yang indah adalah desain yang indah," kata Holly Frey, yang mengunjungi pameran de Young pada Oktober 2018.

" Ini berhenti menjadi tentang, 'Oh, ini desain untuk orang Muslim,' dan itu hanya menjadi, 'Wow, lihat gaun itu'," ucap dia.

 

2 dari 2 halaman

Jadi Incaran Merek Besar

Asisten profesor studi gender dan wanita di Rutgers University, Sylvia Chan-Malik, menyebut meski berpeluang besar, pemilik merek pakaian berlomba menciptakan peluang sendiri. Khususnya, bagi produsen merek fesyen yang tak memiliki ikatan dengan Muslimah.

Sylvia mengarahkan studi kasus tersebut pada iklan perusahaan pakaian Israel, Hoodies, pada 2018. Iklan tersebut menggambarkan sang model iklan, Bar Refaeli, yang melepaskan niqab sebagai aksi kebebasan.

Iklan itu tidak cocok dengan beberapa wanita Muslim, yang merasa bahwa mengenakan niqab tidak serta merta mengurangi otonomi mereka.

Meski begitu, model fesyen modest dimanfaatkan merek besar seperti H&M dan Nike. Dua perusahaan tersebut memanfaatkan perempuan berjilbab sebagai model iklan.(Sah)

Beri Komentar
Intip Harga dan Spesifikasi Mobil Dinas Baru Jajaran Menteri Jokowi