Sering Merasa Orang Lain Tidak Menyukai Anda? Bisa Jadi Ini Hanya ‘Liking Gap’
Pertamina Hulu Energi Akuisisi PI 3 WK di Kaltim, Salah Satunya di Lokasi Temuan Cadangan Gas Raksasa Tahun 2023
Spa and Wellness Jadi Bagian dari Gaya Hidup Urban, Ini Manfaatnya bagi Tubuh dan Pikiran
Survei: Dulu Coblos Prabowo, 55 Persen Pemilihnya Kini Bilang Ogah
5 Minuman yang Sebaiknya Dihindari Setiap Hari Jika Ingin Mengurangi Gula
Pertamina dan MedcoEnergi Ambil 10% Hak Partisipasi Sumur Gas di Kaltim Milik Eni S.p.A
Mengapa AC Mobil Listrik Tetap Bisa Aman Menyala Meski Mesin Mati?
Mengapa Ada Orang yang Lebih Sering Mengalami Efek Samping Vaksin? Studi Ungkap Penyebabnya
Menko Polhukam, Wiranto, Menyebut Pemerintah Membatasi Akses Konten Melalui Medsos Untuk Sementara. (Foto: Shutterstock)
Dream – Beragam konten bohong, baik foto dan video, bertebaran di media sosial setelah meletusnya kericuhan antara aparat dengan massa diduga bayaran dalam aksi 22 Mei 2019. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak menelan mentah-mentah informasi yang beredar.
Tak hanya lewat media mainstream, beragam kabar perkembangan situasi dan kondisi pasca aksi demo 21 Mei 2019 lalu juga diperoleh publik melalui media sosial.
" Karena marak beredarnya foto dan video dan konten hoaks, maka pemerintah untuk waktu sementara membatasi akses penyebaran konten di media sosial di sejumlah daerah," kata Menko Polhukam, Wiranto, saat jumpa pers di Jakarta, dikutip dari Merdeka.com, Rabu 22 Mei 2019.
Wiranto mengimbau masyarakat tak terpengaruh dengan penjelasan tak rasional. Dia menegaskan negara tak boleh kalah dengan aksi jahat semacam itu.
“ Kami sepakat negara tak boleh kalah dengan aksi jahat semacam ini. Negara melindungi segenap bangsa tumpah darah Indonesia,” kata dia.
Wiranto mengatakan aparat masih terus menggali informasi dari sejumlah orang yang diamankan.
" Kita sebenarnya dari hasil investigasi mengetahui dalang aksi tersebut. Aparat akan tindak tegas secara hukum," kata dia.
Sekadar informasi , aksi di depan Bawaslu berlangsung aman. Massa pun membubarkan diri pada Selasa, 21 Mei 2019.
Akan tetapi, tiba-tiba datang sekelompok anak muda yang diduga bayaran untuk melakukan provokasi. Bentrokan pun tak bisa dihindarkan.
Setelah dipecah, ketegangan kembali terjadi di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Massa melempari polisi dengan batu, botol dan petasan. Tak berhenti di situ massa lain juga membuat kekacauan di Jalan KS Tubun Slipi, Palmerah, Jakarta Barat.
Di sana massa menyerang asrama Polri. Sejumlah kendaraan dibakar. Polisi meyakini massa yang buat kericuhan berbeda dengan kelompok yang unjuk rasa di Bawaslu.(Sah)
Advertisement

Aroma Parfum yang Lagi Tren Ini Ternyata Bisa Bantu Tidur Lebih Nyenyak, Studi Ungkap Rahasianya

8 Makanan yang Bisa Redakan Ngidam Makanan Manis Lebih Baik daripada Permen, Menurut Ahli Gizi

Dibuka Menguat ke Level 6.109,32, IHSG Bergerak di 2 Zona pada Awal Perdagangan

Mengapa Ada Orang yang Lebih Sering Mengalami Efek Samping Vaksin? Studi Ungkap Penyebabnya

Sering Merasa Orang Lain Tidak Menyukai Anda? Bisa Jadi Ini Hanya ‘Liking Gap’


Spa and Wellness Jadi Bagian dari Gaya Hidup Urban, Ini Manfaatnya bagi Tubuh dan Pikiran