Ruangan Restoran Oasis (Foto:kuliner.panduanwisata.id)
Dream - Dari luar bangunan, restoran ini seolah nampak biasa-biasa saja. Gedung berlantai dua yang dicat putih dengan tulisan Oasis Restoran di bagian atap depannya.
Kesan vintage begitu terasa saat melangkahkan kaki ke teras bangunan. Sambutan ramah dari seorang laki-laki paruh baya membuat kesan angker sirna seketika. Adalah O'om Mucharam Endi yang selama 38 tahun bekerja sebagai General Manager di restoran milik Tirto Utomo itu.

" Oasis diambil dari Oase mata air padang pasir dan gedung ini sudah dibangun sejak tahun 1928 milik miliuner Belanda yang punya perkebunan teh, karet dan kina," tutur O'om yang dijumpai di kawasan Raden Saleh, Jakarta Pusat belum lama ini.
Gong besar yang terletak di tengah-tengah restoran ikut memberi ucapan selamat datang kepada para pengunjung restoran yang telah berdiri sejak tahun 1968 tersebut.

Berbeda dengan tempat makan lainnya, Oasis Restoran dulunya merupakan rumah milik F Brandenburg van Oltsende yang berarsitektur kolonial Belanda.
Terlihat dari tiang-tiang bangunan yang menopang bagian depan, konstruksi atap yang lebih tinggi, pintu dan kusen dari kayu jati, ubin bercorak hitam-putih dan beberapa lukisan di lantai dua yang masih dirawat hingga saat ini.
" Gedung terpelihara dengan baik, tidak ada ruangan yang direnovasi dan properti tidak ada yang diimpor. Hanya pas 11 Juni 2011 sempat dilakukan pengecekan atap-atap keropos dan saluran air," imbuhnya.

Menurut O'om, Oasis menjadi unik karena menonjolkan bangunan kuno yang disulap menyerupai museum untuk puluhan topeng-topeng tradisional. Dari mulai ruangan paling depan yang dinamai Topeng Bar hingga Garden Terace di bagian belakang.
Topeng-topeng ini merupakan koleksi pribadi Tirto Utomo dan seorang kolektor bernama Ganda Negara. Mereka mengumpulkannya dari berbagai daerah seperti Papua, Kalimantan, Sumatera dan Jawa, tampak menghiasi sepanjang dinding restoran.

Selain dipajang, topeng tradisional juga menggambarkan budaya nusantara yang begitu kental. Sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan mancanegara yang berada di ibukota.
" Restoran tutup setiap Minggu dan 90 persen tamu itu wisman. Sedangkan menu makanan itu dua per tiga adalah menu-menu Indonesia," terangnya melanjutkan.
Ruangan terbagi menjadi beberapa bagian, seperti Kalimantan Room, Sumatera Room, Java Room dan Raja Room sebagai ruangan privat.

" Kalau private room di bawah menampung 30 orang dan atas 40 orang. Tapi kalau di luar bisa sampai 150 orang," beber O'om.
Restoran yang buka sejak jam 11.00 hingga 23.00 tersebut memang lebih banyak dikunjungi tamu pada saat makan malam. Cara penyajian pun berbeda dengan biasanya karena ditawarkan dalam bentuk Rijstafel, yang dihidangkan secara berurutan dengan beragam kuliner nusantara.
Rijstafel berkembang sejak kolonial Hindia Belanda yang memadukan etika dan tata cara perjamuan resmi Eropa dengan kebiasaan makan penduduk Indonesia.
" Lebih ke dinner yang ramai, karena spending time jadi nggak mungkin orang makan di sini sebentar. Service kita keluarkan appetizer, main course dan bevarages. Jadi orang datang menikmati musik dan bersenang-senang sampai resto tutup," kata dia.
Wajar saja restoran menjadi legendaris, pasalnya begitu spesial dalam menjamu tamu. Begitu pintu dibuka, tabuhan gong akan menggema dan para penari Yapong akan berlenggok ceria menyambut mereka.

Bahkan mereka rela mendidik penari dan penabuh gong secara khusus, agar dapat menyuguhkan tontonan yang memuaskan. Dan iringan lagu-lagu Batak terus menggema menemani para tamu bersantap dengan nikmatnya.
" Banyak kepala negara yang datang ke Indonesia makan di sini. Dulu, ada yang reservasi atas nama Kedutaan Amerika dan 20 menit sebelumnya kami ditelepon dan ditanya 'Apakah Bill Clinton akan makan di sana?' Lumayan kaget, karena tidak pesan atas nama Bill Clinton tapi untungnya kami sudah terbiasa menjamu tamu kenegaraan," pungkas O'om.

Advertisement

Hidupkan Ramadanmu, Teh Celup Sosro Hadirkan Kehangatan Berbuka

OVO Ungkap Pergeseran Ritme Digital Ramadan, Aktivitas Sahur Meningkat 79%


Rayakan 20 Tahun, Tsubaki Hadirkan Pengalaman Hair Treatment Kualitas Salon Jepang di Indonesia

Rayakan 20 Tahun, Tsubaki Hadirkan Pengalaman Hair Treatment Kualitas Salon Jepang di Indonesia


OVO Ungkap Pergeseran Ritme Digital Ramadan, Aktivitas Sahur Meningkat 79%