Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Mendiang Presiden Irak Saddam Hussein (alarabiya.net)
Dream - Pria asal kota Jamshedpur, India, merasa frustasi karena kesulitan mencari kerja. Padahal, dia lulusan salah satu perguruan tinggi beken negeri itu, Universitas Noorul Islam Tamil Nadu.
Bukan karena indeks prestasi buruk. Pemuda itu tak kunjung mendapat pekerjaan karena perkara nama. Sang kakek memberinya nama sama dengan mantan pemimpin Irak yang digantung karena dinyatakan melakukan kejahatan, Saddam Hussein.
Pemuda bernama Saddam Hussein itu lulus sebagai insinyur kelautan dua tahun lalu. Sejak lulus itu, dia terus mengirim lamaran kerja ke berbagai perusahaan. Terhitung sudah 40 kali dia melayangkan lamaran, tapi tak satu pun yang meliriknya.
Saddam Hussein justru merasa nama itu menjadi beban hidup. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk mengajukan permohonan pengubahan nama ke pengadilan. Upaya itu berhasil, kini namanya menjadi Sajid.
" Orang-orang takut mempekerjakan saya, mereka khawatir akan menghadapi masalah dengan petugas imigrasi di perbatasan," kata Sajid.
Meski demikian, persoalan Sajid belum benar-benar selesai. Penyebabnya, seluruh ijazah pendidikan yang dia miliki masih menggunakan nama Saddam Hussein.
Sajid kini tengah menunggu sidang pada 5 Mei mendatang. Sidang tersebut akan memutuskan apakah nama lamanya bisa diubah berikut yang tercantum pada ijazahnya.
Sumber: Alarabiya.net
© Dream
Dream - Menjadi lulusan terbaik dari universitas bergengsi di luar negeri bukan jadi jaminan untuk dapat kerja dengan mudah. Itulah yang dirasakan Daryl Jones, alumnus Universitas Hull, Inggris.
Selama enam bulan ini, dia menganggur lantaran kesulitan mencari kerja. Padahal dia telah mengirim 400 lamaran pekerjaan. Namun tak satupun yang merespons.
" Saya sudah membuat lebih dari 400 aplikasi pekerjaan tetapi sudah tidak ada," kata pemuda yang memiliki gelar dalam bisnis dan pemasaran itu.
Tentu saja ini sangat memprihatinkan. Nilai akademis yang baik tak bisa membantunya untuk mendapatkan kerja. Meskipun dalam beberapa kali wawancara dia selalu disebut memiliki banyak kompetensi.
© Dream
Usut punya usut, dia gagal memperoleh pekerjaan lantaran dalam surat lamaran itu dia dengan jujur mengakui menyandang disabilitas.
Pemuda 27 tahun itu memiliki kelainan genetik yang mempengaruhi jaringan ikat yang mendukung pergerakan organ dan struktur tubuh lainnya, atau disebut Marfan Syndrome.
" Ini mengecewakan. Penelitian menunjukkan orang-orang dengan keterbatasan ingin berkontribusi, mereka ingin memiliki pekerjaan dan mendapatkan uang, namun tidak ada yang akan mempekerjakan saya," kata dia.
© Dream
Sebenarnya, dia sempat menyembunyikan penyakit genetis itu di beberapa surat lamaran pekerjaannya. Hasilnya lumayan, 12 panggilan wawancara menghampirinya.
Tetapi, dari 12 wawancara kerja itu, tak satupun perusahaan yang menjadikannya pegawai. Perusahaan tersebut beralasan, dia tak cukup kompeten dan perusahaan memiliki kandidat yang lebih bagus darinya.
" Saya memiliki gelar dan ketika sudah bicara dengan orang, yang mereka katakan saya memiliki banyak kualifikasi dan banyak pengalaman, dan tidak bisa mengerti mengapa saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan," ucap dia.
Beberapa kawan menyarankan Daryl, yang juga bekerja di yayasan Olahraga Humber, meminta gaji dari lembaga untuk orang berkebutuhan khusus itu. Tetapi, dia menolak.
" Beberapa orang mengatakan aku harus meminta gaji dari Yayasan Humber, tapi saya tidak ingin melakukan itu. Sebab, uang yang digunakan untuk menggajiku bertujuan untuk mendukung olahraga bagi orang berkebutuhan khusus," ucap dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya