Perbedaan Ekspresi Raja dan Ratu Keraton Sejagat Sebelum dan Sesudah Ditangkap

Reporter : Idho Rahaldi
Jumat, 17 Januari 2020 07:36
Perbedaan Ekspresi Raja dan Ratu Keraton Sejagat Sebelum dan Sesudah Ditangkap
Halu berjamaah sih.

Dream - Munculnya Keraton Agung Sejagat masih menjadi bahan gunjingan masyarakat. Di balik pendirian kelompok itu, ternyata polisi menemukan adanya kasus penipuan.

Kerajaan yang dipimpin Totok Santoso Hadiningrat dan Fanni Aminadia alias Dyah Gitarja ini berada di RT 3 RW 1, Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Raja dan ratu itu kini ditahan oleh Polres Purworejo. Mereka dikerangkeng di Mapolda Jawa Tengah karena dituduh telah melakukan penipuan.

Keduanya dijerat dua pasal, yakni pasal 378 KUHP tentang penipuan serta pasal 14 UU RI No 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana.

Hukumannya pun tak main-main, mereka terancam mendekam di balik jeruji besi selama 10 tahun!

1 dari 5 halaman

Kirab Agung

Tak ayal kasus Kerajaan jadi-jadian ini menjadi bahan gunjingan warganet.

Tak jarang warganet membagikan foto kolase perbandingan saat Totok Santoso dan Fanni Aminadia menjadi Raja dan Ratu dengan saat mereka mendekam dibalik jeruji besi.

Terlihat dari foto bagaimana gagah dan ayunya pasangan bukan suami istri ini saat memakai 'baju kebesaran' Raja dan Ratu.

Sambil menaiki kuda, keduanya serasi mengenakan pakaian berwarna merah lengkap dengan sederet tanda di dada serta selempang.

Untuk semakin menegaskan bahwa mereka kedua orang 'besar' Fanni pun melengkapi dandanannya dengan mengenakan mahkota.

Foto itu sendiri diketahui diambil saat acara kerajaan Wilujengan dan Kirab Budaya, Jumat 10 Januari hingga Minggu 12 Januari 2020 lalu.

2 dari 5 halaman

Ekspresi

'Kekompakan' keduanya kembali terlihat saat mereka akhirnya ditangkap dan ditahan pihak kepolisian.

Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat itu sama-sama mengenakan baju tahanan warna biru.

Namun yang paling membedakan adalah ekspresi yang ditunjukkan Totok Santoso dan Fanni Aminadia.

Totok Santoso yang dipanggil Sinuhun oleh punggawa Keraton Agung Sejagat, terlihat menunduk.

Sementara Fanni Aminadia alias Kanjeng Ratu Dyah Gitarja terlihat bersedih seperti seolah sedang atau baru saja menangis, matanya pun terlihat sembab.

 Raja RatuRaja Ratu © dream.co.id

Foto kolase atau gabungan keduanya pun viral dibagikan oleh beberapa akun di twiiter. Salah satunya akun @negativisme yang menuai banyak komentar warganet

3 dari 5 halaman

Fakta Mengejutkan `Raja dan Ratu` Keraton Agung Sejagat

Dream - Totok Santosa dan Fanni Aminadia tak lagi duduk di singgasana Keraton Agung Sejagat. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka Polda Jateng.

Kapolda Jawa Tengah, Irjen Rycko Amelza Dahniel mengatakan, ide pendirian Kerajaan Agung Sejagat datang dari Fanni sebagai permaisuri. Sebelum mendirikan keraton di Purworejo, Jawa Tengah, Fanni sempat ingin mendirikan keraton tersebut di Yogyakarta.

" Ditolak di Yogyakarta, kemudian mereka mendirikan kerajaan di Jawa Tengah. Pengikutnya lebih dari 400 orang," kata Rycko, dilaporkan Merdeka.com, Rabu, 15 Januari 2020.

Totok dan Fanni bukan warga Purworejo. Mereka punya KTP Jakarta dan tinggal di sebuah rumah kos di Yogyakarta.

Menurut Ryckko, Totok dan Fanni juga bukan sepasang suami-istri. " Tetapi hanya teman wanitanya," kata dia.

4 dari 5 halaman

Dibantu Undip Telusuri Kerajaannya

Dia mengatakan, polisi sempat berkoordinasi dengan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang untuk melakukan kajian sejarah mengenai keraton ini.

" Undip mengirim tiga pakar dan bersama Direktorat Kriminal Umum melakukan kajian. Penangkapan dilakukan karena ada banyak keluhan dari masyarakat terkait adanya penarikan uang dan adanya kegiatan ritual yang disertai pembakaran kemenyan," ujar dia.

Penyidik polisi memiliki bukti permulaan yang cukup untuk menetapkan keduanya sebagai tersangka. Dia menjelaskan, tersangka memiliki motif menarik dana dari masyarakat dengan menggunakan tipu daya.

Dari hasil penyidikan sementara, semua warga yang diperiksa ini ada dugaan menjadi korban. Untuk jadi anggota, korban dimintai uang puluhan juta rupiah dan mendapatkan seragam serta kepangkatan.

" Dengan simbol-simbol kerajaan, tawarkan harapan dengan ideologi, kehidupan akan berubah. Semua simbol itu palsu," kata dia.

5 dari 5 halaman

Rekam Jejak Kelam Toto Santoso, Raja Keraton Agung Sejagat

Dream - Nama Toto Santoso Hadiningrat mendadak jadi perbincangan. Beberapa hari lalu, dia baru menyatakan diri sebagai Raja Keraton Agung Sejagat dan memiliki gelar Sinuwun.

Tetapi, usai mendeklarasikan kekuasaannya, Toto bersama Fanni Aminadia, yang mengaku sebagai ratu keraton tersebut, justru mendekam di tahanan. Mereka ditangkap polisi dengan tuduhan penipuan.

Keberadaan Keraton Agung Sejagat yang diklaim sebagai penguasa seluruh dunia ternyata membuat resah masyarakat. Tidak sedikit yang menganggap keraton yang dipimpin Toto sebagai gerakan makar maupun aliran sesat.

Dikutip dari Liputan6.com, rupanya bukan kali ini saja Toto membuat ulah yang meresahkan. Sebelumnya, dia pernah terlibat dalam pendirian organisasi yang dituding masyarakat sebagai modus penipuan.

Tepatnya pada 2016, Toto mendirikan Jogjakarta Development Committee yang disingkat Jogja DEC. Banyak yang curiga organisasi ini mirip dengan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang telah dinyatakan sebagai organisasi terlarang.

Toto sempat menyangkal tuduhan itu. Dia menyebut Jogja DEC merupakan organisasi kemanusiaan.

" Jogjakarta Developmet Committee bukan Gafatar ataupun Gafatar jilid II, bukan teroris, akan tetapi didirikan dengan penuh welas asih untuk memanusiakan manusia," ujar Toto yang kala itu memegang posisi sebagai Dewan Wali Amanat Panitia Pembangunan Dunia untuk Wilayah Nusantara.

Toto sempat menggelar konferensi pers di Ndalem Pujokusuman, Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta. Dia berusaha menjelaskan secara rinci mengenai apa itu Jogja DEC.

Kala itu, Toto menyatakan Jogja DEC memiliki misi kemanusiaan. Dia juga mengklaim organisasi tersebut memiliki jaringan internasional dan didanai ESA Monetary Fund yang berbasis di Swiss.

Menurut Toto, DEC masuk Indonesia sejak 2014. Yogyakarta dipilih sebagai basis untuk menyosialisasikan gerakan.

Organisasi tersebut juga membuat pendaftaran bagi siapa saja yang mau bergabung. Toto juga pernah berjanji setiap anggota akan mendapatkan dana sebesar US$50-200, setara Rp684 ribu hingga Rp2,7 juta.

Toto juga menjelaskan penggunaan mata uang dolar Amerika Serikat merupakan solusi agar perekonomian dunia tidak terpuruk. Mereka yang bergabung sebagai anggota akan mendapatkan Nomor Induk Kemanusiaan yang bersifat global.

Tetapi, pertemuan yang digelar Toto ternyata mendapat penolakan dari pemilik Ndalem Pujokusuman. Sang pemilik rumah menyatakan pertemuan itu ilegal.

Toto juga pernah mengatakan tidak ada pungutan biaya bagi masyarakat yang ingin menjadi anggota Jogja DEC. Namun belakangan salah satu anggotanya mengaku dipungut biaya sebesar Rp15 ribu ketika bergabung.

Sementara sebagian masyarakat Cangkringan, Sleman, mengatakan pernah ada sosialisasi dari Jogja DEC yang mengharuskan pembayaran uang sebesar Rp20 ribu jika ingin bergabung. Mereka yang menjadi anggota diiming-imingi gaji sebesar Rp5 juta per bulan.

Sumber: Liputan6.com/Edhie Prayitno Ige

 

 

Beri Komentar
Istri Akui Cemburuan, Daus Mini: Coverboy Sih Nggak ya