Akhir Hidup Beo yang 'Menampar' Seorang Ustaz

Reporter : Puri Yuanita
Kamis, 26 Mei 2016 08:40
Akhir Hidup Beo yang 'Menampar' Seorang Ustaz
Burung tersebut sangat suka menirukan sang ustaz ketika ia berzikir, menyebut nama Allah. Namun tiba-tiba...

Dream - Dikisahkan, ada seorang ustaz yang memelihara burung. Burung tersebut sangat suka menirukan kebiasan ustaz ketika ia berzikir menyebut nama Allah. Ketika ia melafalkan istighfar, si beo akan ikut istighfar. Ketika ia membaca hamdalah beo pun ikut membaca hamdalah. Ketika ia melafalkan tasbih beo tersebut juga ikut bertasbih.

Suatu hari seorang murid melihat sang ustaz tersebut tampak murung—lebih tepatnya merenung. Wajahnya tampak tidak ceria sama sekali. Penasaran, sang murid memberanikan diri bertanya kepada ustaz.

Ternyata, sang ustaz kehilangan burung kesayangannya. Beo yang suka mengikutinya berzikir itu telah mati. " Apakah ustaz sangat kehilangan burung itu?" tanya santri itu.

Sang ustadz menggeleng.

" Lalu?"

" Saya merenung bukan karena kehilangannya. Saya hanya khawatir akhir hidup saya seperti beo itu. Semasa hidup beo suka berzikir, namun ketika menjelang meninggal hanya berteriak ‘keekk..keekk..keekk’," terang sang ustaz merasa tertampar dengan kematian beo.

Sungguh, setiap manusia menginginkan hidupnya penuh berkah dengan berzikir. Dan akhir hidup pun demikian, setiap manusia yang jiwanya sehat pasti menginginkan akhir hayat yang baik (husnul khatimah).

Namun bagaimana jika nasib kita jika seperti burung beo tersebut? Semasa hidup mengucap zikir hanya dalam lidah saja, hanya membeo saja tanpa merasuk ke dalam hati. Dan ketika mati tanpa ada sepatah kata pun melafalkan kalimat-kalimat Allah sama sekali.

Selengkapnya baca di sini.    

1 dari 2 halaman

Video Detik-detik Ustazah Wafat Saat Baca Yasin, Innalillahi..

Dream - Innalillahi wa innailaihi raji'uun. Seorang pemimpin pengajian bernama Halimah Ramli wafat saat memimpin pembacaan Surat Yasin di sebuah Masjid Al Muttaqin, Changlung, Jitra, Malaysia, Sabtu pekan lalu. Ustazah 58 tahun itu tiba-tiba roboh saat memimpin pembacaan Yasin di atas podium.

Dikutip Dream dari laman Sinar Harian, Kamis 12 Mei 2016, perempuan yang karib disapa dengan nama Kak Lim ini tiba-tiba roboh saat membaca separuh dari Surat Yasin. Detik-detik robohnya Kak Lim direkam oleh salah satu jemaah.

Video berdurasi 2 menit 51 detik itu diunggah ke laman media Sosial Facebook. Dengan cepat tersebar dan menuai simpati. Banyak pengguna media sosial yang mendoakan almarhumah Kak Lim.

Suami Kak Lim, Ismail Long (66), sangat bersedih dengan kepergian istrinya itu. " Dia bukan guru, bukan ustazah, cuma dia membantu masyarakat setempat mengenal huruf dan baca Alquran," kata Ismail.

" Dia mengajar secara sukarela, tak mengharapkan bayaran apa-apa. Dia bekerja dengan ikhlas."

Ismail mengatakan, Lim merupakan istri yang baik, sentiasa taat pada perintah Allah dan memperjuangkan Islam.

" Sebelum ini, dia tak menunjukkan perubahan sikap. Cuma sehari sebelum dia meninggal, dia saat hadir satu majlis di masjid, tapi dia pakai serba putih dari kerudung sampai ke kaos kaki, semua putih."

Saat itu, Ismail bertanya kenapa memakai busana serba putih? " Dia jawab saja akan buat perubahan. Itu saja. Setelah itu dia tak berkata apa-apa lagi dengan saya, sampai dia menghembuskan nafas terakhir pada keesokan harinya," tutur Ismail. 

 

 

(Ism) 

2 dari 2 halaman

Kisah Kiai Disuruh Calon Santri Angkut Barang

Dream - Seorang kiai biasanya mendapatkan posisi terhormat di kalangan masyarakat. Namun status itu tak selama dinikmati sebagai kemewahan. Banyak kiai yang tetap menjejak kaki ke bumi meski sangat dihormati penduduk sekitar.

Inilah yang ditunjukan KH Abdul Karim, pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Kediri Jawa Timur. Saking merakyatnya, KH Abdul Karim bahkan sempat diminta tolong membawa barang bawaan calon santrinya.

Kisah ini dikabarkan terjadi di tahun 1920-an. Kala itu, seorang pemuda baru turun dari dokar di dekat area pondok. Perbekalannya sangat banyak. Tak sanggup dia membawanya sendiri.

Sejurus kemudian, pemuda calon santri baru itu melihat orang tua yang sedang berkebun. Versi lain menyebut orang tua itu sedang memperbaiki pagar tembok.

" Pak, anu, kulo saumpomo nyuwun tulong kaleh njenengan, nopo nggeh purun? (Begini, Pak, seumpama saya minta tolong anda, apa berkenan)?” Tanya pemuda itu.

" Nggeh, nopo!" Jawab orang tua di kebun itu.

" Niki kulo mbeto kelopo, beto beras, kulo bade mondok teng kilen niko. Tulong jenengan beta'aken (Ini saya membawa kelapa dan beras. Saya mau mondok di barat itu. Tolong anda bawakan),” pinta pemuda tersebut.

Apa jawab orang tua itu? baca selengkapnya di tautan ini. (Ism) 

Beri Komentar
Wajah Tegar BCL Saat Antarkan Jenazah Ashraf Sinclair