`Jika Saya Meninggal, Ibu Pasti Kembali, Ayah Akan Bahagia`

Reporter : Sugiono
Rabu, 24 Januari 2018 12:28
`Jika Saya Meninggal, Ibu Pasti Kembali, Ayah Akan Bahagia`
Di saat menyedihkan ini, ibunya justru pergi dari rumah sejak bulan Juli tahun lalu.

Dream - Sebuah surat yang ditulis oleh seorang gadis China penderita leukemia kepada ayahnya telah menyentuh hati warganet.

Berkat surat dari gadis berusia 7 tahun itu, telah banyak warganet yang telah menyumbangkan uangnya.

Hingga kini, jumlah sumbangan warganet telah mencapai 600.000 yuan atau setara dengan Rp1,2 miliar. Uang itu nantinya akan digunakan untuk membantu perawatannya.

Menurut laman K618.cn, surat itu ditulis oleh gadis bernama Zhang Jiaye yang berasal dari sebuah desa dekat Jiamusi di Provinsi Heilongjiang.

Tidak disebutkan secara rinci kapan atau bagaimana surat tersebut dibuat. Namun sumbangan untuk Jiaye mulai mengalir sejak bulan September tahun lalu. 

...

1 dari 2 halaman

Isi Surat yang Menyayat Hati

Isi Surat yang Menyayat Hati © Dream

Dream - Jiaye didiagnosis menderita leukemia pada Mei 2016. Kini dia menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Heilongjiang.

Surat yang ditulis Jiangye untuk ayahnya sangat menyentuh perasaan siapa saja yang membacanya. Begini bunyi surat Jiangye untuk ayahnya itu:

" Ayah, aku melihat Ayah menangis hari ini. Aku sangat sedih. Aku tahu Ayah telah menghabiskan banyak uang untuk perawatanku. Ayah kehabisan uang. Ibu telah pergi dari rumah. Ini semua karena aku. Jika aku meninggal, Ibu pasti kembali dan Ayah akan bahagia seperti sebelumnya. Aku tidak ingin dirawat lagi. Mari kita pulang, Ayah?"

Melihat kondisi putrinya, ditambah dengan membaca suratnya, ayah Jiaye, Zhang Mingliang, merasa sedih dan terpukul.

" Langit terasa telah runtuh," kata Mingliang lirih saat menggambarkan betapa berat beban yang dia dan putrinya derita.

Zhang Jiangye Menangis dan Surat Untuk Ayahnya.

Gadis kecil itu menerima 18 jenis pengobatan dalam setahun ini, dengan biaya mencapai 590.000 yuan. Akibatnya keluarga Jiaye terbelit utang.

Di saat menyedihkan ini, ibunya justru pergi dari rumah sejak bulan Juli tahun lalu. Hingga sekarang kabar dan keberadaan ibu Jiaye tidak pernah terdengar atau diketahui.

Meski begitu, Mingliang mengatakan bahwa putrinya tidak akan pernah kalah melawan penyakit mematikan tersebut.

2 dari 2 halaman

Simpati dari Warganet

Simpati dari Warganet © Dream

Dream - Penderitaan yang dialami Mingliang dan Jiaye pun tersebar luas di media sosial. Banyak warganet yang tersentuh hatinya oleh penderitaan Jiaye.

" Saya membaca keseluruhan kisahnya dengan cucuran air mata. Beri tahu masyarakat tentang nomor rekening bank ayahnya. Hanya dengan melakukan itu semoga ada harapan," tulis seorang warganet.

Sementara yang lain mengatakan bahwa sistem layanan kesehatan perlu diperbaiki, untuk membantu keluarga miskin yang tidak mampu membiayai pengobatan.

" Sungguh menyakitkan bagi orangtua saat melihat penderitaan anak-anak mereka. Yang membuat lebih putus asa lagi adalah kehilangan harapan untuk bisa berobat akibat kemiskinan," kata warganet yang lain.

(ism, Sumber: scmp.com)

Beri Komentar