Rezeki Tak Lancar Selama Ramadan, Kenapa?

Reporter : Sandy Mahaputra
Senin, 20 Juni 2016 03:16
Rezeki Tak Lancar Selama Ramadan, Kenapa?
Ibarat jatuh, tertimpa tangga pula. Satu per satu ujian datang kepadanya dan keluarganya.

Dream - Bulan Ramadan bukan alasan untuk bermalas-malasan atau mengurangi produktivitas kerja. Pun begitu, kita dianjurkan untuk semakin memperbanyak ibadah seperti tadarus Alquran dan salat Tarawih. Sebab, Allah janjikan pahala yang berlipat ganda pada bulan yang penuh berkah ini.

Wanita bernama Nani Koraiza berikut pernah ditimpa cobaan berturut-turut selama bulan Ramadan. Ibarat jatuh, tertimpa tangga pula. Satu per satu ujian datang kepadanya dan keluarganya.

Namun, dia telah mendapat pencerahan di balik semua ujiannya itu. Semoga kisah yang dibagikan ini menjadi pelajaran dan inspirasi buat kita semua agar selalu bertakwa dan meminta pertolongan hanya kepada Allah SWT.

Cek halaman berikutnya!

(Ism) 

1 dari 4 halaman

Berjualan Tapi Tak Laku

Dream - Ramadan 2005 dan 2006 adalah satu episode kehidupan yang dirasa pahit oleh Nani. Pada 2005 dia tak bekerja. Suami juga kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba. Pada Ramadan 2005, dia mencoba berjualan di Bazaar Ramadhan.

Hari pertama berjualan hanya 3-5 orang saja yang datang, karena hujan yang sangat lebat dan daerah yang baru. Tapi dia tetap bersyukur. Gerai lain tak seorang pun ada yang datang.

Esoknya, Nani dan suami mencari daerah lain. Kemudian mulai berjualan nasi lemak seharga 1,50 ringgit. Sehari dapatlah 100 ringgit lebih. Nani memiliki 2 orang anak, berumur 5 tahun dan beberapa bulan. Ke mana pun Nani berjualan, mereka juga dibawa.

Sepanjang Ramadan penuh dengan aktivitas malam, merebus telur dan masak sambal. Tadarus entah ke mana! Semuanya disebabkan Nani dan suami tak bekerja.

Sumber pendapatan pun tergantung pada penjualan nasi lemak dan keripik. Macam bagaimana Lebaran tahun itu? Seperti bukan Lebaran saja! (Ism) 

2 dari 4 halaman

Susah Dapat Pekerjaan

Dream - Hidup menjadi susah. Tak tahu lagi mana yang harus didahulukan. Membayar cicilan mobil, uang sewa rumah, atau biaya anak sekolah. Terasa sangat siksanya. Dan kesusahan itu tak habis semalam.

" Waktu itu saya merasa heran, kenapa saya susah? Saya bukan orang jahat. Orang jahat pun malah lebih senang dari saya," kenangnya.

Nani sempat protes kepada Tuhan. Baginya dunia ini tidak adil, begitu pula dengan Tuhan. Kemudian dia dan suami balik ke Kuantan. Berharap dapat pekerjaan bagus dan hidup menjadi lebih baik.

Dalam hatinya, dia punya gelar dan pengalaman kerja, pasti akan mudah mencari pekerjaan di Kuantan.

" Harus dapat! Dengan biaya hidup yang rendah, tak masalah kalau dapat gaji misal 2.500 ringgit! Itu rencana saya. Masih egois dengan sepotong gelar," katanya.

Rupanya Allah tak pandang pun gelar yang hanya sehelai itu. Allah tak pandang pengalaman kerja bertahun-tahun mengelola klien yang hebat-hebat. Semua itu tak laku di mata Allah SWT.

" Allah yang maha tahu apa yang layak untuk saya dan keluarga," ujar Nani.

Maka Nani dan suami terus berjualan makanan kecil-kecilan. Malam-malam sampai pukul 2 atau 3 pagi sibuk bungkus keripik. Suami akan jajakan keripik dan ada juga yang dikirim ke toko dan asrama-asrama.

Saat itu, Nani dan suami benar-benar mengesampingkan semua ego dan gengsi agar bisa bertahan hidup. (Ism) 

 

 

3 dari 4 halaman

Mobil Ditarik

Dream - Hidup berjalan seperti biasa hingga suatu hari Nani dapat panggilan wawancara di sebuah perusahaan asuransi di Kuala Lumpur. Sangat senang rasanya. Seperti ada cahaya sedikit. Suami saya tetap berjualan keripik supaya ada uang belanja untuk ke Kuala Lumpur (KL).

" Hari itu adalah sehari sebelum Ramadhan tahun 2006. Kami naik mobil ke KL, bawa seorang anak yang baru berumur setahun lebih."

Sesampai di KL, Nani dan suami makan di Ampang Point sementara menunggu waktu wawancara. Begitu lepas makan, mereka berjalan ke mobil yang di parkir di luar gedung. Tiba-tiba ada 3 pria berbadan besar-besar sedang mengepung mobilnya.

" Katanya, mereka harus menarik mobil itu sekarang juga sebab sudah tak bayar cicilan."

Nani memohon agar menunggu sampai habis wawancara dulu. Mereka pun setuju. Mereka naik mobil ikut di belakang sampai ke tempat wawancara.

Tapi mereka mengambil paksa mobil tersebut saat Nani sedang menjalani wawancara. Mereka tinggalkan suami dan anaknya beserta sebuah koper di tepi jalan.

" Saya sudah tidak bisa konsentrasi dengan wawancara itu. Akhirnya saya gagal dapat pekerjaan tersebut."

Nani dan suami pulang ke Kuantan naik bus. Sampai di Kuantan tengah malam. Selama dalam bus, pasangan suami istri ini diam saja. Tak tahu ingin bicara apa.

" Saya hanya berpikir? Apa lagi ujian setelah ini? Apa saya begitu jahat sampai terkena ujian berat ini? Apalah hinanya saya hingga menjadi semacam ini?"

Sepanjang Ramadhan tahun itu, Nani berjuang dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sebagian hatinya mencoba membujuk diri untuk terus sujud kepada Allah dan minta bantuannya. Sedangkan sebagian lagi terus merasakan Allah itu tak adil, karena mengujinya sebegitu hebat.

(Ism) 

4 dari 4 halaman

Mintalah Kepada Allah

Dream - Sampai satu hari, Nani kedatangan seorang sahabatnya. Dia pun tanpa rasa malu terus menceritakan segala masalah kepada sahabatnya itu. Tapi jawaban sahabatnya santai saja.

" Allah kan sudah berkata, " Mintalah kepada-Ku pasti Aku kabulkan" . Allah tidak bilang mungkin, tapi pasti. Jadi kamu berdoa saja, minta kepada Dia. Buat apa bikin susah?"

Nani merasa terhenyak mendengar itu. Jadi, Ramadhan tahun tu, Nani habis-habisan berjualan sambil memperbaiki ibadahnya. Baca Alquran sebanyak-banyaknya, dan beribadah sebaik-baiknya.

Hasilnya? Tak lama lepas itu suaminya dapat kerja di sebuah toko penjualan mesin fotokopi dan Nani menjadi karyawan di sebuah shipping agent.

" Hanya pegawai biasa. Seperti yang saya bilang tadi, di mata Allah SWT gelar saya itu tak laku. Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk saya," katanya.

(Ism, Sumber: Ohbulan.com)

 

Beri Komentar