Keutamaan Memahami Syarat dan Rukun Haji Sebelum Meminta Doa Kemabruran

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 24 Juli 2019 20:00
Keutamaan Memahami Syarat dan Rukun Haji Sebelum Meminta Doa Kemabruran
Gus Baha' menekankan pentingnya penguasaan akan syarat dan rukun haji sebelum berharap didoakan mabrur.

Dream - Bagi orang yang melaksanakan ibadah haji, hal yang paling diharapkan adalah kemabruran. Sebelum berangkat, para calon jemaah haji meminta doa kepada banyak orang agar harapan tersebut terpenuhi.

Pun demikian ketika sowan atau bersilaturahmi kepada ulama. Setelah mengungkapkan niat akan berangkat haji, mereka umumnya meminta didoakan supaya mabrur.

Kebiasaan ini mendapat kritikan dari sejumlah ulama, salah satunya dari KH Bahauddin Nursalim. Ulama muda pakar ilmu Alquran dan hadis asal Rembang, Jawa Tengah ini mengaku kerap dimintai doa calon jemaah haji agar ibadahnya mabrur.

Dikutip dari NU Online, ulama yang akrab disapa Gus Baha' ini sangat menekankan pentingnya pengetahuan dan pemahaman mengenai haji daripada doa kemabruran. Gus Baha' akan bertanya lebih dulu apakah calon haji sudah paham syarat dan rukunnya.

" Sowan mestinya bukan sekadar meminta doa, tetapi diniati juga untuk menggali pengetahuan. Kiai, saya mau haji, syrat dan rukunnya apa? Kan bisa saya nerangkan," kata Gus Baha'.

 

1 dari 5 halaman

Dahulukan Pemahaman Syarat dan Rukun Haji

Dalam pandangan Gus Baha', seharusnya calon jemaah haji mendahulukan penguasaan syarat dan rukun seperti tawaf, sa'i, pengertian miqat, dan sebagainya. Termasuk pula sunah-sunah dalam haji.

Di mata dia, doa haji mabrur untuk orang yang belum memiliki pengetahuan haji sama dengan doa minta selamat pada orang yang belajar naik motor.

" Orang yang minta didoakan jadi haji mabrur itu seperti orang yang nggak bisa mengendarai sepeda motor tapi minta didoakan selamat," kata dia.

Menurut Gus Baha', keselamatan baru didapat jika seseorang sudah bisa naik motor. Hal ini juga berlaku pada orang yang meminta didoakan agar hajinya mabrur sementara tidak memahami syarat dan rukunnya.

" Hajinya nggak bisa kok minta didoakan selamat," kata dia.

(Sah, Sumber: NU Online)

2 dari 5 halaman

Mana yang Prioritas, Biayai Haji Sendiri atau Orangtua?

Dream - Bagi sebagian besar Muslim di Indonesia, bisa menunaikan haji jadi impian terbesar.

Semua ingin berkunjung ke Haramain (Mekah dan Madinah) dan sejumlah tempat bersejarah untuk berdoa sekaligus napak tilas perjuangan Rasulullah Muhammad SAW, serta para sahabat menyebarkan Islam.

Tetapi, tidak semua Muslim bisa mewujudkan keinginan itu karena terkendala biaya. Tidak sedikit dari mereka yang harus berjuang keras agar bisa berkunjung ke Baitullah.

Sering pula terjadi di masyarakat, orangtua berhaji atas biaya dari anaknya. Si anak ingin berbakti dengan mewujudkan keinginan terbesar orangtua untuk menjadi tamu Allah SWT.

Padahal, anak itu juga belum menunaikan ibadah haji. Tetapi, dia memilih menghajikan orangtuanya lebih dulu daripada dirinya sendiri.

Lantas, sebenarnya lebih baik mana yang didulukan antara haji untuk diri sendiri atau membiayai orangtua?

3 dari 5 halaman

Haji Wajib, Tetapi Boleh Ditunda

Dikutip dari NU Online, menurut pandangan fikih Mazhab Syafi'i, wajib berhaji bagi orang yang telah mampu baik fisik maupun keuangan. Tetapi, kewajiban itu tidak diharuskan untuk dilaksanakan secepatnya.

Seseorang boleh menunda berhaji asalkan memiliki tekad kuat melaksanakannya di waktu mendatang. Juga tidak ada dugaan akan terjadinya kegagalan baik karena lumpuh ataupun bangkrut.

 Siap-siap, Kemenag Buka Pelunasan Biaya Haji Tahap II Besok

Hal ini sebagaimana disinggung oleh Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami dalam kitabnya Tuhfah Al Muhtaj Hamisy Hasyiyah Al Syarwani.

" Haji dan umrah (kewajibannya) bisa ditunda, dengan syarat tekad yang kuat mengerjakannya dan tidak menjadi sempit dengan nadzar, kekhawatiran lumpuh atau rusaknya harta dengan sebuah tanda-tanda meski lemah, sebagaimana yang dipahami dari ucapan para ulama: ‘tidak boleh mengakhirkan kewajiban yang dilapangkan kecuali menduga kuat bisa melakukannya’. Atau (kewajiban haji dan umrah menjadi sempit) dengan status qadha dikarenakan ia merusaknya."

 

4 dari 5 halaman

Dari Sisi Keutamaan

Namun demikian, jika dilihat dari keutamaannya, mendahulukan haji untuk diri sendiri lebih baik. Hal ini berkaitan dengan kaidah fikih yang menyatakan demikian.

" Mendahulukan orang lain dalam ibadah adalah makruh, dan di dalam urusan lain disunahkan."

 Kemenag Akan Cek Penambahan Kuota Haji 10 Ribu

Syeikh Izzudin Abdissalam, seperti dikutip Imam As Suyuti dalam kitabnya Al Asybah wa Al Nazhair menjelaskan demikian.

" Berkata Syekh Izzuddin; tidak baik mendahulukan orang lain di dalam ibadah-ibadah, maka tidak baik mendahulukan dalam urusan air bersuci, menutup aurat, dan shaf awal. Sebab tujuan ibadah-ibadah adalah mengagungkan Allah. Barangsiapa mendahulukan orang lain di dalam urusan tersebut, maka sungguh ia telah meninggalkan pengagungan kepada Tuhan."

 

5 dari 5 halaman

Mengapa Lebih Baik Haji Sendiri Dulu?

Diutamakannya mendahulukan haji diri sendiri juga atas dasar menjaga perbedaan pendapat ulama yang menyatakan kewajiban ibadah harus didahulukan, tidak boleh ditunda. Bahkan Syeikh Qudamah dalam kitabnya, Al Mughni, secara tegas menyatakan demikian.

" Barangsiapa teledor di dalam haji sampai wafat, maka dikeluarkan dari seluruh hartanya untuk melaksanakan haji dan umrah atas nama dia."

 UU PIHU Disahkan, Komisi Pengawas Haji Akan Bubar

Dari penjelasan di atas, mendahulukan haji untuk diri sendiri dibandingkan membiayai orangtua lebih utama. Hal ini tidak termasuk su'ul adab (adab buruk) kepada orangtua.

Akan lebih baik jika melaksanakan haji bersama-sama dengan orangtua. Itu jika memiliki kemampuan finansial yang berlebih.

(ism, Sumber: NU Online.)

Beri Komentar
Menteri PAN-RB Buka-bukaan Soal PNS Kerja dari Rumah dan Single Salary_mark