Kisah Dokter Dikeroyok Massa Saat Vaksinasi Covid-19: Pasrah Dipukuli, Teringat Suami dan Bayinya

Reporter : Arini Saadah
Jumat, 1 Oktober 2021 15:45
Kisah Dokter Dikeroyok Massa Saat Vaksinasi Covid-19: Pasrah Dipukuli, Teringat Suami dan Bayinya
Dokter ini merasa hidupnya akan berakhir di tempat dirinya bekerja sebagai tenaga kesehatan.

Dream - Kerusuhan warga di Aceh Barat Daya yang menolak vaksinasi Covid-19 membuat banyak pihak prihatin. Tidak hanya merusak Puskesmas Sangkalan, warga juga menganiaya petugas vaksinasi.

Salah satu korbannya adalah dokter Fanny Eprilia Tika. Dia dikeroyok saat terjadi kerusuhan pada Selasa 28 September 2021 tersebut. Dokter 28 tahun itu menjadi lebam-lebam.

Foto-fotonya kala terjepit meja dan lemparan kursi serta dikerumuni warga yang protes viral di media sosial.

Berikut kisah miris dokter cantik yang pasrah dikeroyok massa, seperti dilansir dari Instagram @fnnyprilia dan @kabaraceh.

1 dari 4 halaman

Vaksinasi Gratis Disambut Protes

Aksi protes warga tersebut dilatarbelakangi oleh penyelenggaraan vaksinasi Covid-19 gratis yang diadakan oleh pihak Polsek Susoh bersama Koramil/04 Susoh, Pol Airud, serta Puskesmas Sangkalan.

Namun program itu disambut penolakan warga sekitar. Ratusan warga setempat dan nelayan di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Ujong Serangga, Susoh, merusak lokasi vaksinasi.

Ilustrasi© Instagram/@kabaraceh

Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Winardy, mengatakan, kericuhan diduga karena kurangnya edukasi tentang vaksin Covid-19.

" Salah satunya ya karena kurangnya edukasi, makanya terjadi penolakan itu," ungkap Winardy, dilansir dari @kabaraceh.

Winardy menambahkan, polisi akan melakukan langkah-langkah persuasif dan edukatif tentang pentingnya vaksinasi baik bagi masyarakat, nelayan, maupun para penjual ikan di PPI tersebut.

2 dari 4 halaman

Tenaga Kesehatan jadi Korban Pengeroyokan

Aksi pengeroyokan dan perusakan tersebut mengakibatkan beberapa tanaga kesehatan mengalami luka-luka. Sementara peralatan vaksin, berkas-berkas hingga fasilitas puskesmas pun turut jadi sasaran amukan massa.

Ilustrasi© Instagram/@kabaraceh

Dokter Fanny Eprilia Tika yang bertugas di puskesmas itu tak menyangka warga yang menolak divaksin akan mengerumuni, mengamuk, dan merusak meja kerjanya. Dia juga dilempar batu dan dipukul menggunakan kursi plastik.

Fanny mengaku terhimpit di tengah meja dan tidak bisa keluar. Lantas ia menyaksikan secara langsung peristiwa perusakan itu, massa merusak meja kerjanya, berkas, dan sejumlah alat kesehatan lainnya.

" Ini saat saya sedang diamuk massa, tinggal saya yang belum berhasil lolos dari situ karena terhimpit meja. Yang memegang kursi yang memukul saya," ungkapnya seperti dikutip Dream dari instagram @fnnyprilia.

3 dari 4 halaman

Teringat Keluarga di Rumah

Menghadapi aksi pengeroyokan warga yang tak terduga tersbeut, dokter Fanny merasa dirinya akan berakhir di tempat tersebut. Kemudian ia teringat dengan suami dan anak yang mungkin sudah menunggunya di rumah.

Ilustrasi© Instagram/@kabaraceh

" Saat itu yang saya pikirkan, seperti hidup saya sudah berakhir di sini yang terbayang hanya suami dan anak saya di rumah yang sedang menunggu saya pulang," tulisnya.

Fanny mengaku sangat sedih dan hanya bisa pasrah saat dikeroyok warga. Sembari mengingat suami dan bayi kecilnya di rumah.

" Tolong pemerintah, katakan kepada masyarakat kalau kami ini tempatnya mereka sakit, Dan tolong katakan kalau kami hanya menjalankan perintah kalian, bukan kami yang membuat aturan. Kami tidak pernah memaksa siapa pun untuk divaksin jika tak bersedia," ujarnya.

4 dari 4 halaman

Tolak Vaksin Covid-19 Karena Pasar Jadi Sepi

Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Winardy, menambahkan, para penjual ikan marah karena merasa pendapatan jadi berkurang.

“ Mereka marah karena kegiatan vaksinasi tersebut menyebabkan pengunjung di PPI Ujung Serangga sepi dan mempengaruhi pendapatan mereka,” ujarnya.

Diketahui sebelumnya, kegiatan vaksinasi di PPI itu sudah berlangsung selama 3 bulan. Winardy juga mengatakan bahwa pasar ikan menjadi sepi pengunjung. Karena banyak anggota Polisi yang berjaga di gerbang masuk dan menanyakan tentang vaksin. Jika belum, disarankan untuk mengikuti vaksinasi.

Hal itu dinilai membawa dampak bagi pasar. Pengunjung yang sepi menyebabkan pendapatan harian berkurang.

Pihak kepolisian pun tetap melakukan penyelidikan terhadap aksi warga tersebut karena menyebabkan kerusakan yang lumayan parah. Di mana satu posko gerai vaksinasi rusak, sejumlah dosis vaksin rusak, alat medis berupa masker, handsanitizer, alat tensi, jarum suntik dan obat-obatan rusak dan tidak bisa digunakan lagi.

Beri Komentar