Niat Puasa Ganti Ramadan, Hukum, Tata Cara dan Ketentuan Pelaksanaan

Reporter : Ulyaeni Maulida
Selasa, 4 Mei 2021 08:06
Niat Puasa Ganti Ramadan, Hukum, Tata Cara dan Ketentuan Pelaksanaan
Untuk melakukan puasa ganti, wajib hukumnya untuk mengucapkan niat berpuasa dimalam harinya atau seusai santap sahur.

Dream - Orang-orang yang mendapatkan halangan dan tidak bisa menjalankan ibadah puasa Ramadan diwajibkan untuk mengganti puasanya.

Puasa ganti bulan Ramadan ini biasanya disebut dengan puasa qadha. Qadha sendiri mempunya makna memenuhi atau melaksanakan. Adapun menurut istilah dalam Ilmu Fiqh, arti qadha adalah pelaksanaan suatu ibadah di luar waktu yang telah ditentukan oleh Syariat Islam.

Untuk melakukan puasa ganti, wajib hukumnya untuk mengucapkan niat berpuasa dimalam harinya atau seusai santap sahur.

Syarat ini berdasar pada hadits Rasulullah SAW, “ Siapa yang tidak memalamkan niat sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.” (Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam Hasyiyatul Iqna)

1 dari 6 halaman

Hukum dan Tata Cara Melaksanakan Puasa Ganti

Ilustrasi Berdoa© Ilustrasi Berdoa (Foto: Shutterstock.com)

Puasa ganti dilakukan sebanyak jumlah hari yang hilang selama menjalankan puasa bulan Ramadan sebelumnya.

Hukum puasa ganti bulan Ramadan adalah wajib dilakukan orang setiap muslim yang berhalangan di bulan Ramadan lalu. Sementara syarat puasa qadha adalah baligh, berakal sehat, dan tidak memiliki halangan.

Allah SWT berfirman, " ... maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib baginya mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin ... " (QS. Al-Baqarah: 184).

 

2 dari 6 halaman

Niat Puasa Ganti

 

Niat puasa ganti harus dilafalkan pada malam sebelumnya atau pada saat bangun sahur.

Adapun bacaan niat puasa qadha adalah:

 “ Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’I fardhi syahri Ramadhana lillahi ta‘ala.”

Artinya, “ Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadan esok hari karena Allah SWT.”

 

3 dari 6 halaman

Puasa Ganti Dapat Berurutan atau Terpisah

Ilustrasi Berdoa© Ilustrasi Berdoa (Foto: Shutterstock.com)

Pelaksanaan puasa qadha secara berurutan atau tidak dapat dilihat dari beberapa pendapat berikut.

Pendapat pertama menyatakan bahwa puasa qadha harus dilaksanakan secara berurutan karena puasa yang ditinggalkan juga berurutan. Namun belum ada hadits yang shahih tentang pendapat ini.

Pendapat kedua, menyatakan bahwa pelaksanaan qadha puasa tidak harus dilakukan secara berurutan. Karena tidak ada satupun dalil yang menyatakan bahwa puasa qadha harus dilaksanakan secara berurutan.

" Qadha' (puasa) Ramadan itu, jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya terpisah. Dan jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya berurutan. " (HR. Daruquthni)

4 dari 6 halaman

Bagaimana jika Puasa Ganti Tertunda hingga Ramadan Berikutnya?

 

Dalam hal ini, puasa yang ditangguhkan atau ditunda sampai tiba Ramadan berikutnya, dan dilakukan tanpa alasan yang sah, maka hukumnya haram atau berdosa. Sedangkan jika penangguhan tersebut diakibatkan lantaran udzur yang selalu menghalanginya, maka tidak berdosa.

Pendapat pertama menyebutkan bahwa penundaan qadha puasa hingga tiba bulan Ramadhan berikutnya tidak diwajibkan pembayaran fidyah, baik karena alasan udzhur atau tidak.

Sedangkan pendapat lain, menyebutkan penundaan qadha puasa hingga tiba bulan Ramadan berikutnya terdapat rincian hukumnya secara khusus.

Jika penangguhan tersebut karena udzur, maka tidak menjadi sebab diwajibkannya fidyah. Sedangkan jika penangguhan tersebut tanpa udzur, maka menjadi sebab diwajibkannya fidyah.

5 dari 6 halaman

Bagaimana Jika Jumlah Hari yang Ditinggalkan Tidak Diketahui?

 

Puasa ganti harus dilaksanakan sesuai dengan jumlah hari yang ditinggalkan. Tetapi bagaimana jika seseorang lupa berapa banyak puasa ganti yang harus dilakukan?

Maka sebaiknya mengambil jalan tengahnya. Yaitu menentukan jumlah hari yang paling maksimum. Contohnya jika seseorang lupa apakah ia harus mengqadha puasa sebanyak 5 atau 6 hari. Maka sebaiknya ia memilih yang keenam. Karena lebih dalam berpuasa lebih baik daripada kurang.

 

6 dari 6 halaman

Hukum Ganti Puasa Ramadan Sekaligus Puasa Syawal

 

Orang-orang yang memiliki utang puasa Ramadan lebih baik menganti puasanya terlebih dahulu. Setelah utang puasa Ramadan terbayar, maka setelah itu boleh melaksanakan puasa sunnah bulan Syawal.

Dengan begitu, kewajiban puasa Ramadan yang belum terlaksana dapat dibayar dengan tuntas dan pahala puasa sunnah bulan Syawal pun bisa didapatkan dengan maksimal.

Sementara bagi orang yang tidak melaksanakan puasa Ramadan tanpa alasan yang jelas, diharamkan untuk mengamalkan puasa bulan Syawal. Wajib bagi mereka untuk melakukan puasa Ramadan untuk membayar utang terlebih dahulu, dan diperbolehkan mengamalkan puasa sunnah bulan Syawal.

Sedangkan orang yang tidak berpuasa Ramadan karena alasan uzur seperti kaum lansia, maka hukumnya makhruh dalam menunaikan puasa sunnah bulan Syawal.

 

(Dilansir dari berbagai sumber)

 

Beri Komentar