Dubes RI, Indroyono Soesilo Dan Mantan Dubes AS Untuk Prancis, Charles Rivkin, Yang Juga President/CEO Motion Picture Association
DREAM.CO.ID – Industri perfilman Indonesia berpeluang memperluas kerja sama strategis dengan Motion Picture Association (MPA) Amerika Serikat, mencakup produksi film, perlindungan hak cipta, distribusi internasional, hingga pengembangan sumber daya manusia. Kolaborasi ini dinilai dapat menjadi salah satu jalan bagi film Indonesia untuk semakin dikenal dan bersaing di pasar global.
Peluang tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo dan President and CEO Motion Picture Association Charles H. Rivkin pada 3 Agustus 2026. Rivkin diketahui merupakan mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Prancis.
Salah satu peluang yang dibahas adalah produksi film yang memanfaatkan kekayaan alam Nusantara, keragaman budaya, serta keanekaragaman hayati Indonesia, baik di daratan maupun lautan. Potensi tersebut dinilai memiliki daya tarik kuat untuk menjadi bagian dari cerita dan produksi film yang dapat menjangkau penonton internasional.
" Indonesia memiliki kekayaan alam, budaya, dan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Ini bukan hanya aset pariwisata, tetapi juga kekuatan kreatif yang dapat menjadi bagian dari cerita yang dinikmati masyarakat dunia," kata Indroyono.
Selain produksi film, kerja sama juga diarahkan pada penguatan perlindungan hak cipta serta perluasan distribusi internasional. Melalui jaringan industri global yang dimiliki MPA, film Indonesia diharapkan memperoleh akses yang lebih besar ke jaringan bioskop, platform streaming, hingga festival film internasional.
Pengembangan sumber daya manusia juga menjadi salah satu fokus penting dalam rencana kolaborasi tersebut. Program pelatihan dan peningkatan kapasitas dapat ditujukan bagi produser, penulis naskah, editor, hingga tenaga profesional yang bergerak di bidang distribusi dan pemasaran digital.
Peluang kerja sama ini memiliki fondasi yang cukup kuat karena hubungan antara MPA dan para pemangku kepentingan perfilman Indonesia telah terjalin dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 11 Juni 2025 di Jakarta, MPA Asia Pacific bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan, Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI), dan Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI) dalam forum Indonesia’s Success Stories. Forum tersebut menjadi wadah untuk membahas perkembangan industri perfilman nasional sekaligus pentingnya perlindungan konten digital.
Sebelumnya, pada 20 April 2022, MPA juga berpartisipasi dalam pemutaran khusus Fantastic Beasts: The Secrets of Dumbledore bersama U.S. Embassy Jakarta, APROFI, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual RI, serta Warner Bros. Discovery.
Dari sisi ekonomi, peluang kolaborasi ini dinilai sangat relevan dengan besarnya potensi industri perfilman Indonesia. Pada 2022, sektor perfilman nasional tercatat menghasilkan output sekitar USD 8,2 miliar, berkontribusi sekitar USD 5,1 miliar terhadap PDB, serta menyerap sekitar 387.000 tenaga kerja.
Di tingkat global, industri film juga terus menunjukkan pertumbuhan seiring berkembangnya bioskop, layanan streaming, dan home entertainment. Pada 2025, box office dunia mencapai sekitar USD 32,8 miliar, sementara total pendapatan industri film global berada di kisaran USD 112,93 miliar.
Besarnya potensi tersebut menunjukkan bahwa film dapat menjadi salah satu pilar penting dalam penguatan ekonomi kreatif sekaligus instrumen diplomasi budaya. Indonesia tidak hanya memiliki pasar domestik yang besar, tetapi juga kekayaan cerita, lokasi, budaya, dan biodiversitas yang menjadi daya tarik bagi industri perfilman dunia.
Karena itu, kerja sama dengan MPA diharapkan tidak berhenti pada produksi bersama, tetapi berkembang menjadi ekosistem yang memperkuat seluruh rantai industri perfilman Indonesia, mulai dari penciptaan karya, perlindungan kekayaan intelektual, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga distribusi dan pemasaran ke pasar internasional.
Apabila kerja sama ini dapat diwujudkan secara konkret, film berpotensi menjadi salah satu medium strategis untuk membawa cerita Indonesia melampaui batas geografisnya. Bukan hanya memperluas pasar bagi sineas nasional, tetapi juga memperkenalkan Indonesia kepada audiens global melalui layar dunia.